Arsip

Archive for the ‘motivasi’ Category

KEPEDULIAN ITU

16 November 2015 2 komentar

Makhluk seperti apakah yang bernama kepedulian itu? Sejenis Raksasa semacam Dasamuka atau mungkin semacam dewa seperti Dewa Wisnu? Terus terang saya masih penasaran, sebab hingga kini belum pernah mampu menemu dan bertatap muka dengan sewujud kepedulian itu. Atau malah jangan-jangan dia makhluk tak berwujud selayaknya angin? Entahla.  Yang jelas, siapa pun dirinya, makhluk bernama kepedulian itu banyak yang mengidolakannya. Banyak manusia yang sangat suka menyebut-nyebutnya. Dan seringkali saya tak peduli itu. Mungkin saya manusia yang tak punya kepedulian, bisa jadi. Tapi apa pedulimu? Nah. Baca selanjutnya…

Iklan

TENTANG KITA

Tentang Kita

IMG03649-20150405-0846Bahkan yang sudah setingkat profesor pun ada banyak yang menilai sistem pendidikan kita salah. Anak-anak dididik untuk menjadi tidak kreatif. Anak-anak diformat menjadi mesin-mesin penghapal rumus dan peristiwa. Para siswa disiapkan sekadar menjadi calon-calon tenaga pekerja siap didik malah, belum siap pakai.

Saya tak akan menyitir satu pun ungkapan seperti termaksud, sebab tanpa saya tulis ulang kita sudah bisa dengan mudah menemuinya. Kalimat-kalimat berisi ungkapan pesimisme para pakar itu telah banyak berkeliaran di berbagai sudut media; Online, cetak maupun elektronik. Baca selanjutnya…

PEMIMPIN ADALAH REFERENSI; HATIHATI!

11002647_1048981725118454_7673777545008265626_n“Berhati-hatilah saat kalian dijadikan referensi!” Entah dari siapa dan kepada siapa pesan itu disampaikan, saya sudah lupa. Tetapi benar bahwa saya pernah mendengarnya. Dan ternyata, pesan itu terbukti benar adanya. Harus berhati-hati saat jadi referensi.

Referensi itu semacam bahan rujukan, serba ditiru dan diikuti. Entah itu gaya berpakaian, kosa kata yang sering dilontarkan, cara berjalan atau bahkan model tertawanya. smile emotikon
Terus siapa yang meniru? Jamak, sangat jamak. Bisa pengikutnya, pengagumnya, bahkan orang yang tak mengenalnya pun bisa jadi mereferensikannya; menjadikan referensi maksudnya. hehe. Secara manusia lemah memang demikian. Meniru tokoh pujaannya, sebab tak punya pilihan. Tak peduli itu profesor, doktor, spesialist, herbalis atau siapapun. Kalau sudah kadung mengagumi, dia bakal mengekor si idola tadi.

Masih ingat “daripada”nya Pak Harto atau “sah-sah saja”nya Gus Dur? Saya yakin daripada kita masih ingat daripada kata daripada yang sering dikunyah daripada banyak orang saat daripada Pak harto masih jadi presiden. Dan itu sah-sah saja, sebagaimana orang berkata sah-sah saja menirukan daripada apa yang sering diucapkan Gus Dur.

Beberapa bulan yang lalu saya berkenalan dengan seorang pengsiunan saat mengantar sangkar ke statsiun KA. Dan lalu beliau beberapa kali main ke rumah, sebab juga ingin memelihara dan berkebun ayam. Beliau kenalan saya itu juga mantan petinju. Banyak bicaranya, hingga saya harus banyak memberi kroto untuk burung piaraan serta ayam hutan di kandang. Biar gak kalah gacor maksud saya. hehe..

Sayang sekali Beliau kenalan saya itu, saat bercerita masa mudanya bolak-balik melontarkan kata (maaf) “Bajingan” dan berbagai kawan sejawatnya sehingga didengar anak saya. Tersebab itu anak saya heran dan bercerita kepada kakaknya, “Mas, wau simbahe to le matur, amit-amit, bajingan.” Saya hanya tersenyum, tak menyalahkan pendengaran anak saya. Maka setiap Beliau bertamu, anak saya tak lagi saya perbolehkan mendengar pembicaraan. Bahaya, kata saya.

“Berhati-hatilah saat menjadi referensi,” demikian pesan itu. Tak butuh waktu lama untuk sekedar meniru, bahkan burung beo pun bisa meniru. Jika seorang pemimpin yang dijadikan referensi sudah berpendapat bahwa kebiasaan berkata-kata kasar seperti “Bajingan” dan “Bangsat” adalah lebih baik asal (semoga saja) tidak malingan ketimbang mereka yang santun tetapi (menurut kabar) malingan, maka jangan salahkan jika nanti orang akan berkata “Lebih baik tidak beragama tetapi jujur, penyayang dan berprestasi, ketimbang beragama tetapi bodoh dan senang menipu.” ITU!

Baca selanjutnya…

MEMANG HARUS TERJADI

26 Juni 2014 1 komentar

Lelaki itu berfikir; Kenyataan memang pahit. Kejujuran menyatakan apa adanya, alangkah berat rasanya. Tapi mungkinkah masalah ini akan diperam terus hingga nanti anak-anaknya satu demi satu menambah bebannya?

Lelaki itu menolah dari jendela dan memandang istrinya yang sedang duduk di pojok. Ada keraguan untuk mengungkapkan kenyataan yang dirasanya harus dikatakan kepada istrinya, tapi keberanian untuk itu terasa tidak begitu kuat. Maka dia memandang keluar jendela lagi.

Tapi gerak tingkah seperti itu, sudah diketahui istrinya sejak lelaki itu berdiri di sana dan kelihatan gelisah, maka maimunah melepaskan kain rendanya. Baca selanjutnya…

GOLPUT

1920548_757830834229556_1684030062_nBicara tentang Golput (Golongan Putih) dalam PEMILU, ternyata umur Golput ini jauh lebih tua ketimbang umur saya. Menurut sebuah sumber yang saya baca, angka golput cenderung terus naik sejak pemilu 1955. Golput pada pemilu 1955 sebesar 12,34% dengan asumsi data yang diambil dari pemilih yang tidak datang dan suara tidak sah. Pada pemilu 1971, Golput justru mengalami penurunan hanya 6,67%. Padahal di tahun itu justru golput dicetuskan dan dikampanyekan.

Di tahun-tahun berikutnya, didapat data sebagai berikut; Pemilu 1977 golput sebesar 8,40%, 9,61% (1982), 8,39% (1987), 9,05% (1992), 10,07% (1997), 10.40% (1999), 23,34% (Pemilu Legislatif 2004), 23,47% (Pilpres 2004 putaran I), 24,95% (Pilpres 2004 putaran II). Pada Pilpres putaran II setara dengan 37.985.424 pemilih. Ada pun pada Pemilu Legislatif 2009 jumlah golput 30% bila dikalikan dengan Daftar Pemilih Tetap (DPT) sesuai dengan Perpu No. I/2009 sebesar 171.265.442 jiwa. Jadi, jumlah golput setara dengan 51.379.633 pemilih. Baca selanjutnya…

KAMBING

kambingPernah Engkau memelihara Kucing? Aku pernah. Kalau Anjing? Aku juga pernah punya. Kambing? Sekali lagi aku juga pernah memeliharanya. Anjing, Kucing dan Kambing, Engkau tentu tahu, adalah jenis hewan yang berbeda rupa serta sifatnya. Tidakkah Engkau ingin memeliharanya? Anjing misalnya, dengan memeliharanya kita akan tahu bagaimana sifat dan kelakuannya. Dia senang dipiara, bisa dekat dan tunduk kepada siapa saja. Syaratnya satu, sediakan tulang kesukaannya. Sekarang dia tunduk dan patuh kepadaku, di waktu lain bisa jadi dia mengabdi kepadamu. Anjing suka menakut-nakuti dengan memamerkan siungnya. Padahal sebenarnya, nyalinya dengan kambing sama jeleknya. Pernah lihat film yang mengisahkan tentang seekor anjing? Atau kucing, atau Kambing? Meski kadang ada Anjing yang kelihatan cerdas, itu hanya nampaknya saja. Ketiganya adalah sama. Sama-sama hewan piaraan.

Hanya memang, seringkali kambing yang jadi korban.

DONGENG

Dongeng adalah cerita rekaan, yang kisahnya tidak benar-benar pernah terjadi. Dongeng itu fiksi. Dalam sebuah dongeng segala hal bisa menjadi mungkin. Pohon-pohon dan segala jenis binatang bisa bicara seperti layaknya manusia adalah hal yang biasa. Pada awalnya dongeng disampaian dengan bahasa tutur. Mendengarkan dongengan dari seseorang sungguh mengasyikkan. Bahkan seringkali kita terlena seakan kisah dalam dongeng itu nyata adanya. Karenanya, sedemikian rupa sebuah dongeng dibuat dengan syarat makna. Selalu disisipkan pesan-pesan baik di dalamnya. Sebuah dongeng akan menjadi lebih menarik apabila si pendongeng mampu mengekspresikan diri sesuai dengan yang didongengkan, pun intonasi suaranya bisa berubah-ubah menyesuaiakan suara tokoh dongengnya.

Tetapi dongeng dengan bahasa tutur ini ada kelemahannya. Lain pendongeng bisa lain pula urutan ceritanya, bisa berbeda daya tariknya, bahkan bisa melenceng jauh dari dongeng yang pertama. Contoh dongeng adalah cerita dalam pewayangan. Wayang adalah salah satu budaya jawa. Dipentaskan di atas sebuah panggung dengan berbagai media pendukungnya. Tokoh pencerita dalam pewayangan adalah dalang. Para pemain/penabuh gamelan disebut niyaga, tukang nyanyi/nembang disebut sinden. Setiap masing-masing dalang memiliki ciri khas yang menarik; ada yang kondang karena sabetannya, ada juga yang arena pitutur dalam pementasannya dan lain-lain. Baca selanjutnya…