Beranda > catatan harian, motivasi > NDELOK MANTEN

NDELOK MANTEN

Ndelok Manten

Lain dulu lain sekarang. Jaman semakin maju dan berkembang. Ilmu pengetahuan dan teknologi melaju cepat seakan tanpa hambatan. Tahu-tahu kita sudah berada di jaman yang penuh dengan perubahan. Ya, kita tak dapat menampik adanya perubahan jaman. Apa ini pernah engkau rasakan?

ingat massa kecil dulu, saat sebutir telur dibagi menjadi tujuh. Itu nyata dan tak mengada-ada. Kita punya ayam tapi hampir tak pernah makan daging dan telor ayam. Sebab beberapa ekor ayam cukup untuk membayar biaya pendidikan. Maka pesta pernikahan tetangga adalah salah satu kesempatan.

Pernikahan itu sakral, maka pesta bisa digelar minimal 7 hari 7 malam. Puncak acara adalah gelar panggih temanten yang kita kenal dengan istilah mantenan.

Inilah pesta kita, orang-orang desa. Entah untuk orang yg hidup di kota. Langgam kebo giro sangat menyenangkan, bahkan mulut kita biasa menirukan. Thungklang Thungkling Thungklang Thungkling… Makanan kecil yg tidak habis boleh kita ambil pasca pesta digelar.

Kemeriahan pesta bergantung yang punya hajat. Jika calon pengantin adalah keluarga kaya, maka tamu undangan sangat banyak dan sajian makanan semua enak. Inilah yang disukai anak-anak.

Bagi anak-anak di jaman itu, menjadi manten di kelak kemudian adalah sebuah keniscayaan. Maka kemudian muncul dolanan manten-mantenan sebagai kawan akrab pasaran.

Hanya sepasang. Ya, pesta mantenan sebenarnya hanya untuk ngombyongi kesukacitaan sepasang pengantin di pelaminan. Kita menyaksikan mereka menjadi raja seharian. Bagi yang dapat undangan ikut senang karena bisa turut mencicipi sedikit makanan, tetangga senang karena dapat punjungan.

Dan saya, selalu dilarang mendekat pesta. Saru! Begitu kata simbokku. Maka sejak itu, saya tak pernah peduli pesta. Saat mereka melangsungkan pesta, saya pilih ngarit untuk sapi yang saya piara.
Pesta pengantin, terkadang ada yang terluka. Tapi itu pilihan, sebagaimana jomblo yg hanya belum berkesempatan. Bukan tidak berani ambil resiko, tapi pesta bisa kapan saja. Bahkan lima tahun sekali kita pesta juga tak mengapa.

Ya to?

Iklan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: