GOLPUT

1920548_757830834229556_1684030062_nBicara tentang Golput (Golongan Putih) dalam PEMILU, ternyata umur Golput ini jauh lebih tua ketimbang umur saya. Menurut sebuah sumber yang saya baca, angka golput cenderung terus naik sejak pemilu 1955. Golput pada pemilu 1955 sebesar 12,34% dengan asumsi data yang diambil dari pemilih yang tidak datang dan suara tidak sah. Pada pemilu 1971, Golput justru mengalami penurunan hanya 6,67%. Padahal di tahun itu justru golput dicetuskan dan dikampanyekan.

Di tahun-tahun berikutnya, didapat data sebagai berikut; Pemilu 1977 golput sebesar 8,40%, 9,61% (1982), 8,39% (1987), 9,05% (1992), 10,07% (1997), 10.40% (1999), 23,34% (Pemilu Legislatif 2004), 23,47% (Pilpres 2004 putaran I), 24,95% (Pilpres 2004 putaran II). Pada Pilpres putaran II setara dengan 37.985.424 pemilih. Ada pun pada Pemilu Legislatif 2009 jumlah golput 30% bila dikalikan dengan Daftar Pemilih Tetap (DPT) sesuai dengan Perpu No. I/2009 sebesar 171.265.442 jiwa. Jadi, jumlah golput setara dengan 51.379.633 pemilih.

Nah, di tahun 2014 ini, hanya kurang beberapa hari lagi PEMILU Legislatif akan segera digelar. Tepatnya tanggal 9 April 2014. Jika dalam kesempatan ini saya didudukkan sebagai pihak pemerintah, tentu saya akan menyarankan kepada seluruh rakyat yang memiliki hak suara untuk tetap datang ke TPS pada saatnya nanti dan memilih wakilnya dengan benar. Itu tentu saya lakukan demi sukses pemilu 2014. Sebab konon, salah satu parameter sukses pemimpin adalah jika suskses dalam menyelenggarakan event, utamanya dalam hal suksesi kepemimpinan dan menghasilkan kader-kader terbaik.

Kedua, jika saya didudukkan sebagai anggota KPU maka tentu saya juga akan ngopyak-opyak seluruh rakyat negeri ini untuk ikut turut berperan aktif dalam Pemilu dengan cara mendatangi TPS dan mencoblos dengan benar sesuai aturan. Sebab meski datang ke TPS, namun jika dalam mencoblos gambar sak karepe dewe tanpa mengikuti aturan maka kartu itu dianggap rusak dan akan masuk dalam itungan GOLPUT. Payahnya lagi, jika nanti ternyata GOLPUT itu jumlahnya sangat banyak, maka bisa-bisa sebagai pelaksana pemilu KPU akan dianggap kurang berhasil. Lha rak payah to lur..

Ketiga, jika saya didudukkan sebagai aktor politik, calon legislatif, orang partai atau apa pun yang akan mendapat keuntungan besar dengan banyaknya pemilih yang datang dan mencoblos sesuai dengan gambar yang saya inginkan, maka saya akan menyarankan dan bahkan kalau boleh akan memaksa seluruh warga negara Indonesia yang memiliki hak suara untuk aktif memilih dalam pemilu bulan april nanti. “Kalau masih ada saya, buat apa GOLPUT?” mungkin itu kalimat yang tepat saya lontarkan. Namun, ehm.. jika datang ke TPS dan ternyata tidak memilih saya, partai saya atau pun calon yang mbayari saya, lebih baik nggak usah milih dach…😮

Mungkin juga diantara pembaca yang budiman ada yang turut serta menjadi anggota PPK, PPS, KPPS, saksi dan lain sebagainya pernak-pernik Pemilu? Tentu, jika saya didudukkan sebagai yang saya sebut itu maka saya juga akan mengakampanyekan untuk agar menolak GOLPUT. kalau perlu mengharamkan Golput. Sebab golput bukan pilihan terbaik, tentu dalam versi saya sebagai panitia pemilihan. Pembaca yang budiman tahu kan, saya dibayar memang untuk itu, untuk menyukseskan Pemilu itu.

Siapa lagi? Oh, iya. Jika saya adalah keluarga atau kerabat dekat seorang calon anggota legislatif, atau bukan keluarga tapi dianggap sebagai keluarga, atau bukan itu semua namun saya diberi sedikit imbalan oleh seorang calon (biasa disebut tim sukses atau kader) maka saya juga akan menyarankan kepada seluruh masyarakan di penjru negeri ini agar menggunakan hak pilihnya dengan baik dan benar. Sebab jika saya gagal memenangkan calon yang mbayari saya, bisa jadi saya akan dikuyo-kuyo nantinya. jangan golput, pilih saja si ini yang baik hati. Lebih naas lagi, jika ternyata nanti calon saya nggak jadi, lalu edian alias gila mendadak maka saya akan merasa berdosa seumur hidup saya. Kawan, jangan golput ya.. pilih si dia calon yang sudah mengeluarkan uang buat mbayari kita-kita. OK-lah jangan lihat dia, tapi tolong lihat saya.🙂

Semua itu hanya jika, kawan. Namun nyatanya bukan demikian. Saya bukan siapa-siapa pun bukan apa-apa. Saya hanyalah Warga negara biasa, yang selalu berharap terjadi perubahan yang signifikan, tentu ke arah yang lebih baik, setiap kali terjadi pergantian kekuasaan negara. Tapi apa? senyatanya bertahun-tahun bahkan tak pernah ada perubahan itu, kecuali ke arah yang lebih parah. Korupsi makin menjadi, kejahatan meraja lela. Kekayaan negara dijadikan bancaan oleh meraka yang telah kita pilh sebelumnya, tanpa bisa tersentuh hukum pidana. Kecuali, ya, kecuali hanya beberapa yang terkena celaka saja. Hanya keledai yang akan kena tipu berkali-kali, pun dengan tipuan yang sama dan tidak kreatif sama sekali. maka saya menolak itu. Menolak kembali diapusi, menolak dibodohi. GOLPUT adalah pilihan utama, tentu bagi meraka yang paham makna. Paham akan arti sebuah demokrasi, yang banyak dipelesetkan menjadi DEMOCRAZI.

Salam.

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: