Beranda > catatan harian, motivasi, Uncategorized > PEMIMPIN ADALAH REFERENSI; HATIHATI!

PEMIMPIN ADALAH REFERENSI; HATIHATI!

11002647_1048981725118454_7673777545008265626_n“Berhati-hatilah saat kalian dijadikan referensi!” Entah dari siapa dan kepada siapa pesan itu disampaikan, saya sudah lupa. Tetapi benar bahwa saya pernah mendengarnya. Dan ternyata, pesan itu terbukti benar adanya. Harus berhati-hati saat jadi referensi.

Referensi itu semacam bahan rujukan, serba ditiru dan diikuti. Entah itu gaya berpakaian, kosa kata yang sering dilontarkan, cara berjalan atau bahkan model tertawanya. smile emotikon
Terus siapa yang meniru? Jamak, sangat jamak. Bisa pengikutnya, pengagumnya, bahkan orang yang tak mengenalnya pun bisa jadi mereferensikannya; menjadikan referensi maksudnya. hehe. Secara manusia lemah memang demikian. Meniru tokoh pujaannya, sebab tak punya pilihan. Tak peduli itu profesor, doktor, spesialist, herbalis atau siapapun. Kalau sudah kadung mengagumi, dia bakal mengekor si idola tadi.

Masih ingat “daripada”nya Pak Harto atau “sah-sah saja”nya Gus Dur? Saya yakin daripada kita masih ingat daripada kata daripada yang sering dikunyah daripada banyak orang saat daripada Pak harto masih jadi presiden. Dan itu sah-sah saja, sebagaimana orang berkata sah-sah saja menirukan daripada apa yang sering diucapkan Gus Dur.

Beberapa bulan yang lalu saya berkenalan dengan seorang pengsiunan saat mengantar sangkar ke statsiun KA. Dan lalu beliau beberapa kali main ke rumah, sebab juga ingin memelihara dan berkebun ayam. Beliau kenalan saya itu juga mantan petinju. Banyak bicaranya, hingga saya harus banyak memberi kroto untuk burung piaraan serta ayam hutan di kandang. Biar gak kalah gacor maksud saya. hehe..

Sayang sekali Beliau kenalan saya itu, saat bercerita masa mudanya bolak-balik melontarkan kata (maaf) “Bajingan” dan berbagai kawan sejawatnya sehingga didengar anak saya. Tersebab itu anak saya heran dan bercerita kepada kakaknya, “Mas, wau simbahe to le matur, amit-amit, bajingan.” Saya hanya tersenyum, tak menyalahkan pendengaran anak saya. Maka setiap Beliau bertamu, anak saya tak lagi saya perbolehkan mendengar pembicaraan. Bahaya, kata saya.

“Berhati-hatilah saat menjadi referensi,” demikian pesan itu. Tak butuh waktu lama untuk sekedar meniru, bahkan burung beo pun bisa meniru. Jika seorang pemimpin yang dijadikan referensi sudah berpendapat bahwa kebiasaan berkata-kata kasar seperti “Bajingan” dan “Bangsat” adalah lebih baik asal (semoga saja) tidak malingan ketimbang mereka yang santun tetapi (menurut kabar) malingan, maka jangan salahkan jika nanti orang akan berkata “Lebih baik tidak beragama tetapi jujur, penyayang dan berprestasi, ketimbang beragama tetapi bodoh dan senang menipu.” ITU!

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: