Archive

Archive for the ‘cerpen’ Category

Anjing Tin Tin

Sekedar Cerita

Saya punya seorang sahabat yang memelihara seekor anjing. Anjingnya tak terlalu besar, memang, tapi saya tak berani mengatakannya kecil. Jika Panjenengan pernah lihat film Rintintin, nah wajah anjing piaraan sahabat saya itu mirip sekali dengan wajah anjing milik Tintin. Saya pernah perhatikan, ada sedikit cacat di kakinya. Cacat bawaan kata sahabat saya. Meski cacat kaki, anjing itu mampu berlari cepat sekali. Pun jalannya normal, jika tak kita perhatikan dengan seksama. Bulunya lebat, taringnya runcing, tatapannya garang. Ngeri bagi yang belum mengenalnya. Tapi anjing tetap saja anjing; Dia akan tunduk dan patuh pada perintah si Empunya.

Seringlah saya berkunjung ke rumah sahabat saya itu. Tiap kali hendak berkunjung, saya selalu kirim pesan, “Tolong anjingnya diamankan.” Artinya anjing itu akan dicancang. Sebab kepada anjing, saya takut bukan kepalang. Pernah suatu hari saya dikejar hendak digigitnya, lari tunggang langgang dan kaki saya kejaduk-jaduk kursi dan juga meja. Memarlah kedua kaki saya. Aduuhh.. 5 hari belum sembuh sakitnya.
Waktu dulu memang saya pernah piara anjing. Tapi itu dulu, sewaktu masih kecil dan tinggal di kampung kelahiranku. Kini tak pernah lagi. Berganti sudah anjing dengan berbagai macam unggas. Pernah pula piara musang, namun tak lama. Si Musang yang kupiara sakit dan akhirnya mati saat kutinggal 4 hari bertamasya ke Pulau Madura.

Muncul pertanyaan pertama; Mengapa saya takut anjing?
Ya, memang saya takut jika dikejar anjing, meski jelas anjing itu jauh lebih kecil ketimbang saya. Jangankan anjing, ayam jago saja jika tajinya panjang dan berani ngabruk, bisa jadi saya akan takut dibuatnya. Meski jelas jika duel habis-habisan saya tak akan kalah juga.

Pertanyaan yang kedua; Apakah anjing tidak takut kepada saya?
Takut. Sebenarnya anjing itu takut. Kepada manusia, semua takut dibuatnya. Harimau juga, dedemit demikian pula. Sebenarnya semua makhluk takut dengan manusia. Dan untuk menutupi ketakutan itu, maka dia si anjing menyalak terlebih dahulu. Jika kita keder, dia akan mengejar. Kita bawa pentungan kecil saja, si anjing akan putar balik dibuatnya. Tapi rasa takut akan mampu membalikkan fakta. Saat melihat anjing menyalak, pikiran jernih hilang seketika. Lari adalah pilihan utama. Ahahaha..

Beberapa waktu lalu, saya kembali berkunjung ke rumah sahabat saya itu. Kali ini tak sendiri. Saya bawa teman, biarlah sekali-kali main keroyokan. Jika si anjing akan berbuat ulah, kita sepakat untuk memakannya mentah-mentah. Tapi rupanya sahabat saya sudah paham, anjing piaraannya langsung diamankan. Bisa jadi dia khawatir anjingnya akan kami cincang. Heran dech, meski sudah dirantai tetap saja dia menggonggong. Saat melihat saya lewat, dia menyalak keras, matanya melotot, kupingnya njepiping, taringnya dipamerin. Hiii.. takyuutt..

Tapi beda dengan teman saya yang datang dari Jakarta. Dia mendekati anjing itu, lalu menyapanya.
“Hallo, Su.. selamat malam.”
“Guk..gukk.. ghhrrrr…,” si Anjing tintin tetap tak mau menunjukkan rasa persahabatan.
“Santai Boss, santai..,” teman saya tetap mendekatinya sambil tangannya dadadada.

Si Anjing mulai goyah pertahanannya. Dia diam, duduk sambil mengibas-ngibaskan ekornya.
Lalu teman saya lewat di dekatnya sebab hendak cuci tangan di kran dekat tempat si Anjing tintin diamankan. Lengah teman saya, dikiranya anjing sudah tunduk kepadanya. Dia, teman saya, berjalan dengan santainya. Tiba-tiba, guk..guk.. guk.. ghhrrr….
Kaget, lompat dan lari menubruk apa saja yang ada itu teman saya.

Wahahahaha… saya tertawa terbahak-bahak tak ada hentinya, melihat teman saya jalan pincang, entah kakinya menabrak apa. “Anjing tetap saja anjing, Kawan,” kata saya. Mau dilawan berapa orang pun dia tetap mampu mengagetkan kita. Di saat tertentu memang dia diam, tak beraksi sama sekali. Tapi dia membaca kita. Begitu kita lengah, dia akan menyalak, menunjukkan taring dan mengejar kita. Tak peduli berapapun lawan yang ada di hadapannya. “Pancen asu.. ” ngunu ujare kancaku mau. Ahaha..

Baca selanjutnya…

MEMANG HARUS TERJADI

26 Juni 2014 1 komentar

Lelaki itu berfikir; Kenyataan memang pahit. Kejujuran menyatakan apa adanya, alangkah berat rasanya. Tapi mungkinkah masalah ini akan diperam terus hingga nanti anak-anaknya satu demi satu menambah bebannya?

Lelaki itu menolah dari jendela dan memandang istrinya yang sedang duduk di pojok. Ada keraguan untuk mengungkapkan kenyataan yang dirasanya harus dikatakan kepada istrinya, tapi keberanian untuk itu terasa tidak begitu kuat. Maka dia memandang keluar jendela lagi.

Tapi gerak tingkah seperti itu, sudah diketahui istrinya sejak lelaki itu berdiri di sana dan kelihatan gelisah, maka maimunah melepaskan kain rendanya. Baca selanjutnya…

DONGENG

Dongeng adalah cerita rekaan, yang kisahnya tidak benar-benar pernah terjadi. Dongeng itu fiksi. Dalam sebuah dongeng segala hal bisa menjadi mungkin. Pohon-pohon dan segala jenis binatang bisa bicara seperti layaknya manusia adalah hal yang biasa. Pada awalnya dongeng disampaian dengan bahasa tutur. Mendengarkan dongengan dari seseorang sungguh mengasyikkan. Bahkan seringkali kita terlena seakan kisah dalam dongeng itu nyata adanya. Karenanya, sedemikian rupa sebuah dongeng dibuat dengan syarat makna. Selalu disisipkan pesan-pesan baik di dalamnya. Sebuah dongeng akan menjadi lebih menarik apabila si pendongeng mampu mengekspresikan diri sesuai dengan yang didongengkan, pun intonasi suaranya bisa berubah-ubah menyesuaiakan suara tokoh dongengnya.

Tetapi dongeng dengan bahasa tutur ini ada kelemahannya. Lain pendongeng bisa lain pula urutan ceritanya, bisa berbeda daya tariknya, bahkan bisa melenceng jauh dari dongeng yang pertama. Contoh dongeng adalah cerita dalam pewayangan. Wayang adalah salah satu budaya jawa. Dipentaskan di atas sebuah panggung dengan berbagai media pendukungnya. Tokoh pencerita dalam pewayangan adalah dalang. Para pemain/penabuh gamelan disebut niyaga, tukang nyanyi/nembang disebut sinden. Setiap masing-masing dalang memiliki ciri khas yang menarik; ada yang kondang karena sabetannya, ada juga yang arena pitutur dalam pementasannya dan lain-lain. Baca selanjutnya…

CURHAT SEORANG GURU TENTANG KEGIATAN MENULIS

15 Februari 2014 3 komentar

Foto3479Sebagai seorang pendidik, saya ingin sekali bisa menulis. Menulis bukan tak sekedar menulis, tetapi menulis sesuatu yang berguna dan enak dibaca. Tetapi apa daya; waktu dan kemampuan tak mendukung saya. Saya selalu bingung harus mengawali tulisan dari mana dan tema apa yang pantas saya tuliskan. Pengin sekali saya ikut berbagai pelatihan menulis, tetapi waktu dan biaya selalu saja jadi kendala. Tapi saya tetap berkeyakinan, bahwa suatu saat nanti pasti bisa menulis. Ya suatu saat nanti, entah kapan. Baca selanjutnya…

MALAM RAMADHAN, SUATU KETIKA….

22 Juli 2013 1 komentar

Dari Cerita seorang Sahabat;

Foto3116

Adalah suatu malam dibulan Ramadhan, ketika kemudian sy datang pada seorang teman yg keluarganya kebetulan sedang menghadapi cobaan, kakaknya masuk ICU. Tidak hanya itu, penelitian medis berikutnya mengharuskan si kakak harus menjalani sebuah operasi. Ini jelas persoalan lain, karena prosedur rumah sakit mengharuskan keluarga penanggung memberikan biaya lebih dulu utk penanganan yg demikian. Teman sy jelas jadi pusing dan bingung. Baca selanjutnya…

ALASAN!

Alasan 1.

Saya ingin menulis, karena sungguh sudah terlalu banyak tumpukan ide di kepala saya. Hanya saja, kesibukan saya yang sangat banyak selalu menghambat kesempatan untuk menuangkan gagasan-gagasan itu.  Andaikan saja banyak waktu luang yang tersedia buat saya, pasti sudah puluhan karya yang saya hasilkan. Baca selanjutnya…

MELUKIS WAJAH PACARKU

5 Juli 2013 3 komentar

lukis wajahPelukis. Ya, waktu masih sekolah dasar dahulu saya pernah bercita-cita ingin menjadi seorang pelukis. Seringkali aku melukis wajah pacarku. Meski tak pernah punya pacar, tak apalah aku katakan begitu. Mengenakan topi, ke mana-mana membawa peralatan lukis, pakaian nyentrik dan lain-lain. Saya memang gemar melukis, waktu itu. Bahkan buku-buku saya penuh dengan gambar ketimbang catatan pelajaran. Ada gambar pemandangan, dengan ciri khas dua gunung yang menjulang dan tiang listrik yang berjajar di pinggir jalan. Lalu sawah-sawah. Tetapi aku paling senang, entah kenapa, menggambar dua orang laki-laki dan perempuan yang berjalan beriringan. Si laki-laki memikul dua kerangjang depan dan belakang, sedang si perempuan (istrinya) menggendong tenggok di punggungnya. Baca selanjutnya…