Beranda > cerpen, motivasi, Uncategorized > MEMANG HARUS TERJADI

MEMANG HARUS TERJADI

Lelaki itu berfikir; Kenyataan memang pahit. Kejujuran menyatakan apa adanya, alangkah berat rasanya. Tapi mungkinkah masalah ini akan diperam terus hingga nanti anak-anaknya satu demi satu menambah bebannya?

Lelaki itu menolah dari jendela dan memandang istrinya yang sedang duduk di pojok. Ada keraguan untuk mengungkapkan kenyataan yang dirasanya harus dikatakan kepada istrinya, tapi keberanian untuk itu terasa tidak begitu kuat. Maka dia memandang keluar jendela lagi.

Tapi gerak tingkah seperti itu, sudah diketahui istrinya sejak lelaki itu berdiri di sana dan kelihatan gelisah, maka maimunah melepaskan kain rendanya.

“Mas agaknya ingin mengatakan sesuatu?” katanya.

“Apakah aku kelihatan gelisah, hingga kau mengetahui kalau ada sesuatuyang ingin kukatakan?”

“Sesuatu yang berat agaknya.”

“Terbukti aku tidak langsung bicara seperti biasanya? Begitu kan?”

“Ya. Tidak seperti biasanya. Perkara apa sih, Mas?”

Lelaki itu melangkah dari jendela dan mendekati isterinya. Lalu duduk di sampingnya, dan tangan kirinya ia letakkan di atas bahu istrinya.

“Kau tidak keberatan kita kluar sebentar?”

“Tidak,” istrinya ketawa lirih. “Alangkah lucunya. Tidak keberatan! lalu siapa aku ini? Bukanistrimu?”

Lelaki itu tersenyum. “Kalau begitu, ayolah kita keluar.”

Perempuan itu bangkit, masuk sebentar meletakkan kain rendanya dan kemudian berjalan keluar, Suaminya sudah ada di teras.

“Di luar sini, atau jalan-jalan?” tanya maimunah.

“Sebaiknya di mana?”

Lagi-lagi maimunah ketawa lirih. “Heran, apa-apa serba ragui. serba gelisah. apa sih, mas, yang akan kau katakan?”

“Kalaiu begitu, di sini saja.”

Achmadi, suami maimunah, menundukkan wajahnya. Maimunah duduk di sampin dan memegang tangannya. Tiba-tiba –di luar dugaan Maimunah–Achmadi tegak dan merangkulnya. “Wah, wah, seperti tidak ada tempat untuk merangkul saja!” kata maimunah. Tapi Achmadi tidakmelepaskandekapannya.

“Kalau begitu, kita masuk lagi saja!” Kata Maimunah pula.

Achmadi melepaskan rangkulannya dan memandang maimunah. Kemudian katanya, “Kau memang isteri yang baik, Maimunah. Tapi hanya sebagai isteri.”

“Maksudmu?”

“Bukan sebagai kekasih.”

Maimunah tidak membuang muka, tapi dengan tajam menatap suaminya. Mereka berpandangan lama.

“Jadi apa fungsi saya di rumah ini?” tanya Maimunah.

“Isteri.”

“Bukan kekasih?”

“Bukan.”

“Mas Achmadi yakin benar itu?”

“Aku melihat dan merasakannya. Dan itu benar bukan?”

Maimunah melepaskan pandangan ke samping dan diam. Dan tanpa menatap Achmadi, meneruskan kata-katanya: “Coba Mas Achmadi teruskan.”

“Maksudku kau, Maimunah, memang isteri saya. Kau menikah denganku karena seorang perempuan, seorang manusia, harus menikah. Terlepas apakah kau mencintaiku atau tidak. Dan kebetulan kau tidak mencintai suamimu. Sebab cintyamu masih melekat pada Gazali, pacarmu dulu. begitu kan?”

“Apakah itu suara hati Mas Achmadi?”

“Ya.”

“Dengan jujur?”

“Kenapa aku harus berbohong?”

“Kalau begitu, bagaimana dengan mas Achmadi sendiri?”

“Itulah masalah kita sekarang. Nah,kalau kau mau jujur, bagaimana aku menurut pandanganmu, selama kita berumahtangga?”

Maimunah diam sebentar. kemudian ganti dia yang tiba-tiba merangkul Achmadi. dan menangis.

“Kalau begitu, kita masuk saja.”

“Tidak!” semprot Maimunah cepat, setengah geli setengah marah.

“Baiklah,” kata Achmadi, “Nah, bagaimana menurutmu?”

“Mas Achmadi sudah tahu jawabannya,” kata Maimunah. “Bahkan jawaban yang tepat sekali.”

Achmadi menarik nafas beratnya. Berkata lagio: “Memang aneh. aneh sekali. Kita sudah menikah. Sudah beerumahtangga beberapa tahun. Sudah memopunyai anak. tetapi masih ingat kekasih kita dulu, bahkan diam-diam selalu membayangkannya!”

“Itulah yang selama ini menyedihkan, tetapi selalu saja kita tutup-tutupi. Begitu kan, Mas?”

“Ya.”

“Seperti tidak mungkin terjadi, tetapi telah terjadi. Serasa tidak masuk akal, namun kenyataannya demikian!”

“Imposible, memang. Tapi terjadi.”

“Memang aneh. Mengapa aku masih saja ingat Gazali? Dan mas achmadi ingat zulaecha?”

“Padahal waktu menikah, aku berkata mencintaimu dan kau mencinytaiku. Dan kita kemudian menikah. lalu beranak. tapi tanpa pernah menyebut-nyebut kata “Cinta” lagi. Sebab kita tahu, itu hanya akan lebih membohongi diri kita sendiri. Tapi kenapa kita mempunyai anak juga ya?”

“Tugas perkawinan, Mas. melanjutkan keturunan. Kebutuhan biologis, dengan atau tanpa cinta, dan kebetulan kita tanpa cinta.”

“Tapi percayakah kau, maimunah, bahwa semua ini akan berjalan dan berlangsung terus?”

“Kemarin dan hari-hari yang lalu, memang begitu. Tapi justru saat Mas Achmadi menyinggung masalah ini, kepercayaan itu tiba-tiba gugur. Tiba-tiba aku merasa, bahwa aku hisa dan bahkan pada saat itu juga, merasa mencintai mas Achmadi. Mungkin karena Mas Achmadi dengan jujur mengatakan kenyataan yang ada dan selalu kita tutup-tutupi.”

“Mungkin begitu. Anehnya, proses yang sedang aku alami, seperti kau juga. Tadi, sewaktu aku akan mengatakan apa yang kurasa, sewaktu aku akan membuka masalah ini, tiba-tiba saja aku merasa mencintaimu. bahkan aku membuka masalah ini, karena dorongan rasa cintaku padamu yang tiba-tiba memuncak!”

“Karenanya, mas Achmadi lantas merangkulku?”

“Dan kau memelukku!”

“Ya, alangkah anehnya!”

Tanpa bicara lagi, kedua lelaki isteri itu berpelukan sangat hangat, kali ini karena mereka merasa mendapatkan sesuatu yang hilang. Sesuatu yang amat berharga dan mereka butuhkan: CINTA KASIH YANG TULUS!

 

End.🙂

 

 

  1. 23 Juli 2014 pukul 11:07 pm

    Semangat menyapa aja,, hehe jangan lupa kunjungan baliknya

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: