DONGENG

Dongeng adalah cerita rekaan, yang kisahnya tidak benar-benar pernah terjadi. Dongeng itu fiksi. Dalam sebuah dongeng segala hal bisa menjadi mungkin. Pohon-pohon dan segala jenis binatang bisa bicara seperti layaknya manusia adalah hal yang biasa. Pada awalnya dongeng disampaian dengan bahasa tutur. Mendengarkan dongengan dari seseorang sungguh mengasyikkan. Bahkan seringkali kita terlena seakan kisah dalam dongeng itu nyata adanya. Karenanya, sedemikian rupa sebuah dongeng dibuat dengan syarat makna. Selalu disisipkan pesan-pesan baik di dalamnya. Sebuah dongeng akan menjadi lebih menarik apabila si pendongeng mampu mengekspresikan diri sesuai dengan yang didongengkan, pun intonasi suaranya bisa berubah-ubah menyesuaiakan suara tokoh dongengnya.

Tetapi dongeng dengan bahasa tutur ini ada kelemahannya. Lain pendongeng bisa lain pula urutan ceritanya, bisa berbeda daya tariknya, bahkan bisa melenceng jauh dari dongeng yang pertama. Contoh dongeng adalah cerita dalam pewayangan. Wayang adalah salah satu budaya jawa. Dipentaskan di atas sebuah panggung dengan berbagai media pendukungnya. Tokoh pencerita dalam pewayangan adalah dalang. Para pemain/penabuh gamelan disebut niyaga, tukang nyanyi/nembang disebut sinden. Setiap masing-masing dalang memiliki ciri khas yang menarik; ada yang kondang karena sabetannya, ada juga yang arena pitutur dalam pementasannya dan lain-lain.

Cerita dalam pewayangan selalu memiliki urutan tertentu yang disebut pakem pedhalangan. Pada umumnya adegan dalam pewayangan yang pakem ada beberapa urutannya, antara lain; bedhol kayon, jejer, kondur kedhaton, limbukan, klumpukan wadyabala, budalan, peperangan, goro-goro, lakon, perang gagal, pitutur dan tancep kayon.

Namun terkadang ada pula dhalang yang keluar pakem. Pentas pertama setelah bedol kayon muncul petruk dengan segala banyolannya. yang demikian itu justru kadang merupaan sisi menarik yang dimiliki ki dhalang.

Beberapa watu yang lalu saya menonton pentas ringgit wacucal, yang dipentaskan oleh seorang dalang asal Banjarnegara, Jawa Tengah. Ada banya hal yang menarik dari pentas wayang tersebut. Salah satu diantaranya adalah lighting yang luar biasa, disertai alat musik modern yang suaranya memekakkan telinga. Pada saat bedhol kayon tiba-tiba lampu padam dan permainan lighting serta tabuhan yang menggema. Seakan dunia diguncang gempa dan bencana, riuh rendah suaranya. Inilah salah satu sisi bedanya. Setelahnya yang mestinya jejer (e dibaca seperti pada kata pengalaman) langsung muncul limbukan. Dalange nyalahi paem, pikir saya.

Dongeng tentang dunia pewayangan memang selalu menarik. Seperti juga manuskrip sebuah buku yang sedang saya usahakan selesai membacanya. Manuskrip sebuah buku setebal hampir 200 halaman pada kertas kuarto spasi 1/2. Tokoh utamanya adalah Wisanggeni. Tanpa ada bedol kayon, karena disampaikan dalam bahasa tulis. Cerita yang menyayat hati di awal ceritanya. Seekor Ular Naga bertarung dengan seekor Burung Garuda, dimenangkan oleh Sang Garuda. Mata si Ular Naga kena patok Sang Garuda, yang lalu keluar sifat liciknya. Merasa kalah bertarung, si Ular Naga merusaak sarang Garuda yang berisi 3 anak garuda bersaudara. Yang sulung sudah agak besar, 2 lainnya masih butuh perlindungan. Garuda lengah, 2 anaknya dibawa sang Naga. Anak sulung Garuda tak kuasa melindungi kedua adiknya. Menyediihkan, memilukan.

Tanpa ada jejer. Tiba-tiba muncul seorang tokoh muda yang langsung diserang oleh Sang Garuda. Sepertinya ada sedikit keganjilan dalam penggambaran tokoh ini. Sang tokoh digambarkan dengan jelas sesuai karakternya, namun tanpa ada penjelasan siapa nama si tokoh muda. Lalu tiba-tiba saja Sang Garuda menyerang wisanggeni. Trengginas, wisanggeni mengelak. Singkat cerita kedua makhluk ini akhirnyaa bersahabat, anak sulung garuda pun diobati luka-lukanya oleh wisanggeni. Mereka bertiga kemudian bertekad mencari 2 anak garuda yang oleh sang naga, dibawa pergi. Apakah kedua anak Garuda akhirnya mati dimakan Sang Naga?

Saya juga belum selesai membaca ceritanya.🙂

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: