Beranda > catatan harian, cerpen, motivasi, Uncategorized > MALAM RAMADHAN, SUATU KETIKA….

MALAM RAMADHAN, SUATU KETIKA….

Dari Cerita seorang Sahabat;

Foto3116

Adalah suatu malam dibulan Ramadhan, ketika kemudian sy datang pada seorang teman yg keluarganya kebetulan sedang menghadapi cobaan, kakaknya masuk ICU. Tidak hanya itu, penelitian medis berikutnya mengharuskan si kakak harus menjalani sebuah operasi. Ini jelas persoalan lain, karena prosedur rumah sakit mengharuskan keluarga penanggung memberikan biaya lebih dulu utk penanganan yg demikian. Teman sy jelas jadi pusing dan bingung.

Disisi lain sy juga jadi ikutan malu dan bingung, karena duit seribu rupiah pun sy lg ga punya, jadi mo ikut-ikutan ambil peran yg mana waktu itu yg jelas sy cuma bisa malu dan malu dalam kondisi seperti itu tidak bisa berbuat lebih utk membantu kondisi teman sy itu. Sy lalu pamit pergi dulu, alasannya coba-coba cari solusi kali-kali ada teman lain bisa ikut membantu, walau pun sejujurnya saat itu sy sendiri nggak kebersit kemana jg harus mencari bantuan. Pokoknya sy harus pergi, biar teman ga tambah bingung, dan sy ga tambah….malu!

Tiga ratusan meter sy berjalan ke utara, di ujung gang dimana rumah teman sy masih kelihatan, jadi sy masih bisa memantau kalau-kalau terjadi sesuatu. Di sini pun sy hanya mondar-mandir, sedikit menghujat diri kenapa ga jadi orang kaya hingga kapan teman butuh hal-hal yg urgen begitu bisa ngasih bantu. Astaghfirullah…

Lalu tiba-tiba muncul seorang teman lagi yg rumahnya memang tak jauh dari tempat itu. Barangkali tahu sy mondar-mandir trus dia mo nanya apalah sama sy, sy pikir waktu itu begitu.

Namun ternyata tidak. Pada pukul delapan malam saat kami bertemu itu ternyata dia juga lg sama pusingnya. Terbukti begitu habis say hai dia langsung cerita bahwa dia baru saja berbuka (membatalkan puasa) hanya dengan segelas air putih. Beruntung di rumah masih ada dua bungkus indomie yg lalu bisalah dimakan anak dan istrinya. Tapi utk persiapan makan sahur dia lagi bingung mo pake apa. Orang bingung ketemu orang bingung. Astgahfirullah lagi….

Menjadi tambah malu saat dia nanya apa sy punya uang dua puluh ribu bwt sekadar beli beras dan bekal sahur nanti, tentu sj sy bilang tidak. Sepuluh ribu, dia nanya lagi, lagi-lagi sy bilang tidak. Ampuuunnn Yaa Allah…..betapa faqir, dholim, dan pantas dihujatnya sekali sy saat itu.

Tambah kacau lagi teman sy yg kakaknya sedang menunggu berita di ICU mendadak menyusul sy di tempat itu. Mo omong apa sy. Teman sy yg pertama nanya sy ada apa, dan sy nggak bisa bilang nggak ada apa-apa. Dan ini puncaknya, teman sy yg pertama itu walau sebenarnya nggak kenal dg teman sy yg kedua, pada akhirnya dialah yg memberikan uang dua puluh ribu bwt dia beli sekilo beras dan bekal sahur lainnya. Astaghfirullah lagi….lagi….dan lagi….

Sy tambah bingung, lemes, dan makin nggak tahu mo gimana. Lalu tiba-tiba sebuah mobil mendekati tempat itu, klakson berbunyi, agak silau sy mengenali siapa yg mendekat ke tempat itu lg kali ini.

Seorang teman yg baru pulang dari gereja tiba-tiba muncul dan turun dari mobil itu. Sahabat sy, orang kaya, namun sebenarnya sy agak segan terhadapnya karena tahu diri. Inilah kelirunya sy. Seorang sahabat, ternyata tetaplah seorang sahabat, tak peduli apapun sekte, latar belakang dogma, profesi maupun kedudukannya. Terbukti dari dialah lalu solusi itu terpecahkan. Terhadap teman sy yg pertama dia bersedia membantu sepenuhnya biaya pengobatan (dia tersentuh dan terpanggil karena konon dulu keluarganya pernah mengalami trauma persoalan yg sama), dan terhadap teman yg kedua dia ngasih seratus ribu bwt berbagi kegembiraan atas nama dan sebagai teman sy. Subhanallah……

Waktu itu rasa malu sy berangsur-angsur sirna, lalu mendadak berubah jadi rasa syukur tak terkira. Bahwa masih ada sahabat yg tetap dan terus menjadi sahabat tanpa pernah mempersoalkan perbedaan dogma, kecuali etos persahabatan dan kemanusiaan seutuhnya. Dari sinilah sejak bermula, kemudian sy tidak pernah berbicara Islam hanya sekadar sebagai sebuah agama, namun sebagai sebuah sikap yg tak diantipati oleh siapapun dg beragam keyakinan yg beraneka warna.

Benar dan baik bagi sy kemudian menjadi subyektifitas diri yg ukurannya hanya Allah yg tahu. Seperti kenapa sy jg harus berbagi cerita ini, baik dan benar sy nggak tahu, pun kejadian ini memang nyata-nyata benar, dan yg semoga menjadi baik utk menjadi pelajaran bagi sy dimasa-masa kemudian….

  1. 23 Juli 2013 pukul 1:52 pm

    hiksssssss………….

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: