Beranda > catatan harian, cerpen, motivasi, Uncategorized > CURHAT SEORANG GURU TENTANG KEGIATAN MENULIS

CURHAT SEORANG GURU TENTANG KEGIATAN MENULIS

Foto3479Sebagai seorang pendidik, saya ingin sekali bisa menulis. Menulis bukan tak sekedar menulis, tetapi menulis sesuatu yang berguna dan enak dibaca. Tetapi apa daya; waktu dan kemampuan tak mendukung saya. Saya selalu bingung harus mengawali tulisan dari mana dan tema apa yang pantas saya tuliskan. Pengin sekali saya ikut berbagai pelatihan menulis, tetapi waktu dan biaya selalu saja jadi kendala. Tapi saya tetap berkeyakinan, bahwa suatu saat nanti pasti bisa menulis. Ya suatu saat nanti, entah kapan.

Yang jelas, belum untuk saat ini. Sebab mampu menulis dengan baik masih sebatas angan-angan. Konon, menulis yang paling mudah adalah menulis catatan harian; kita menuliskan apa yang sudah kita lakoni seharian tadi. Tetapi seperti saya sampaikan di awal tulisan ini, saya selalu kebingungan dari mana harus memulai. Selainnya itu, waktu saya sangat terbatasi tugas sehari-hari. Saya merasa, sebagai guru dan kepala rumah tangga betapa saya ini sibuk sekali.

Hampir setiap hari, saya bangun sangat pagi. Sebelum subuh saya sudah bersiap diri; mulai dari merebus air untuk keperluan pakan hewan piaraan, lalu bersiap diri ke masjid untuk shalat subuh berjamaah. Sepulang dari masjid menyempatkan ngaji sebentar sebelum terbit matahari. Lalu meramu makanan untuk hewan peliharaan; mulai dari musang, ayam hutan dan puluhan unggas lainnya, kura-kura, rusa, kucing hutan, juga membersihkan kandang ayam dan burung-burung.

Satu kegiatan terlampaui, lanjut persiapan diri; memanasi motor butut dan mengecek kesehatannya, lalu mandi dan gosok gigi. Pagi sebelum pukul 06.00 wib, saya sudah berangkat ke sekolah. Tentu tujuannya agar tiba di sekolah terlebih dahulu ketimbang para siswa. Saya senang menyambut mereka, generasi penerus bangsa. Waktu selanjutnya adalah bersama para siswa. belajar di kelas, mengoreksi berbagai tugas siswa, melayani siswa-siswa yang butuh bimbingan dan lain sebagainya. Pokoknya bersama para siswa, hati ini jadi adem rasanya. Setulus hati saya membimbing mereka, sepenuh jiwa saya memberi perhatian pada anak-anak bangsa.

Memang begitulah tugas saya. Sebagai pendidik, saya rasa tinggal sekolah saya yang bisa diharapkan bangsa ini. Sementara para politisi benyak yang tak bermoral lagi, para orang tua sudah tidak peduli, lingkungan masyarakat yang kurang kondusif lagi, maka sekolah adalah satu-satunya harapan. Kalau tidak sekolah, siapa lagi?

Terkadang hingga sore hari saya berada di sekolah. Tentu tak sendirian, sebab memang semua rekan guru sadar akan tugas dan kewajiban. Sebagai generasi juda yang belum mapan secara kejiwaan, para siswa harus senantiasa didampingi, dibimbing serta diarahkan. Dengan kesibukan yang demikian, paling cepat jam 15.00 wib baru sampai di rumah adalah hal yang tak perlu diherankan.

Menyapa anak serta istri di rumah, menanyakan berbagai kegiatan di sekolah dan pelajaran apa yang diberikan, hampir setiap sore sepulang sekolah selalu aku lakukan. Anak-anak pun bercerita tentang segala kegiatannya. Seperti kaset DVD, 2 anak saya yang masih SD itu bercerita dengan semangat dan saling berebut perhatian. Sungguh membahagiakan. Andai tek segera diingatkan ibunya, bisa jadi tak ada waktu beristirahat barang sejenak bagi saya. Sebab setelah sore, hewan-hewan peliharaan juga butuh perawatan, butuh makan.

Saat hari mulai petang, saya mengurus diri; mandi serta gosok gigi. Jika badan tak terlalu lelah sekali, maka jamaah shalat magrib dan isya’ ke masjid aku menyempatkan diri. Mendampingi dan mengajari anak-anak belajar, sembari menyiapkan materi untuk kegiatan belajar-mengajar esok pagi. Jam sembilan malam sudah capek badan ini, maka istirahat demi menjaga amanah tuhan agar tak jatuh sakit. Badan juga harus diberi hak-nya, istirahat dengan secukupnya. Lalu pagi kembali, dan rutinitas yang sama aku kerjakan kembali; mendidik generasi bangsa.

Lalu kapan saya akan bisa menulis dengan baik? Entahlan, mungkin menunggu waktu pensiun nanti. Pensiun sebagai guru swasta, sembari mengelola peternakan unggas dan hewan lainnya secara alakadarnya. tentu menulis adalah kegiatan lainnya, semoga suatu saat bisa. Untuk sementara saya harus bersabar, biarlah teman-teman yang punya waktu berlebih yang berbagi ilmu lewat tulisan.

BERSAMBUNG.

  1. Tum
    15 Februari 2014 pukul 2:47 pm

    Saya bayangkan beginilah istri pak guru mengingatkan suaminya: “ayam hutan aja yang diurusin :(“

    • 15 Februari 2014 pukul 8:06 pm

      hahaha… tidak Mas SG, itu bukan curhat saya lho. Saya hanya menuliskan saja..😀

      • Tum
        21 Februari 2014 pukul 7:31 am

        ahahaha…wah, syukurlah. baindewe, apakah pupuk dari kelud sudah nampak manfaatnya bagi kesehatan tanah di situ, Pak Guru?

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: