Tentang Saya

2 Maret 2011 48 komentar

Anak Desa

Ya. Saya memang Cah nDesa. Lahir di desa, dari keluarga besar yang juga hidup di desa. Baca selengkapnya…

TENTANG KITA

Tentang Kita

IMG03649-20150405-0846Bahkan yang sudah setingkat profesor pun ada banyak yang menilai sistem pendidikan kita salah. Anak-anak dididik untuk menjadi tidak kreatif. Anak-anak diformat menjadi mesin-mesin penghapal rumus dan peristiwa. Para siswa disiapkan sekadar menjadi calon-calon tenaga pekerja siap didik malah, belum siap pakai.

Saya tak akan menyitir satu pun ungkapan seperti termaksud, sebab tanpa saya tulis ulang kita sudah bisa dengan mudah menemuinya. Kalimat-kalimat berisi ungkapan pesimisme para pakar itu telah banyak berkeliaran di berbagai sudut media; Online, cetak maupun elektronik. Baca selengkapnya…

KUALITAS HIDUP

Kualitas Hidup

Ʀois Ƈlasic

Beberapa waktu yang lalu, betapa saya mendengar seorang pejabat pemerintah berkata, “Memang bisa jadi mereka (rakyat Indonesia) mampu mampu hidup dengan penghasilan 500 ribu rupiah. Namun kualitas hidup yang seperti apa dengan biaya 500 ribu/bulan itu?”

Ehm. Memang standart hidup manusia berbeda antara yang satu dengan yang lainnya. Bagi juragan uang 500 ribu bisa jadi habis untuk sekali masuk rumah makan. Tapi bagi seorang saya, 500 ribu itu luar biasa banyaknya. Sebab penggunaan untuk kebutuhan yang berbeda.

Jika juragan tersedak karena menjilat ludah yang kadung dikeluarkan, puluhan juta barangkali dibutuhkan untuk menjenguk dokter. Sedangkan saya, saat ada tulang ikan asin nyangkut di tenggorokan cukuplah menelan sekepal nasi anget persis seperti ngloloh seekor ayam dengan jamu.

Kerja dan manusia memang tak bisa dipisahkan. Ada yang bilang jika kita menggunakan 90% saja waktu kita untuk bekerja, maka dunia akan angkat topi dibuatnya. Benarkah? Entah. Tapi memang, ada segolongan manusia yang begitu maniak kerja. Siang malam dia bekerja, demi agar dunia angkat topi di hadapannya. Dan tak dipungkiri, memang ada beberapa yang berjaya. Dunia seakan ada digenggamannya; apapun yang dimauinya akan tersedia dihadapannya. Tapi eh, tentu tidak semuamuanya. Pada saat remnya blong secara tiba-tiba, saat itu juga babi ngepet hadir di hadapannya. Siap menyedot sebagian besar hartanya. Cengap-cengap dia dibuatnya.

Di tempat lain, 500 ribu itu sungguh luar biasa. Beli tembakau beberapa rupiah untuk kebahagiaannya. Sisanya buat nabung. Sebab makan dan minumnya sudah disediakan alam semesta. Mau nasi mereka menanam padi, untuk sayur mereka mengolah kebun. Hidup yang tak ngoyo. Tak perlu apartemen berlantailantai, apatah lagi mobil berkilapkilap. Hidupnya damai, penyakit ganas tak berani mengintai.

Kualitas hidupnya? Nah, itu beda parameternya. Nyatanya dengan 500 ribu/bulan saya masih bisa menghibur Juragan semua dengan tulisan sekadarnya. Tentu, kepulan asap rokok tak menghambat kesenangan saya. Anda? Entah berapa ratus juta per bulannya. Yang jelas sepiring nasi dan laukpauknya sama-sama bisa mengenyangkan kita. Anda lauk sate, saya lauk krupuk. Sama kenyangnya, sama senangnya. Itu.

Baca selengkapnya…

Kategori:Uncategorized

ORANG BIJAK TAAT PALAK

ORANG BIJAK TAAT PALAK

Oleh: Herman Hasyim

asedihPemerintahan Jokowi-JK adalah pemerintahan terhebat yang pernah saya ketahui dan saya alami, khususnya dalam menyiasati minimnya penerimaan negara. Supaya tidak terjadi “besar pasak dari pada tiang”, pemerintahan ini membuat kebijakan “besar pajak dari pada tumbang”. Pribahasa pertama berasal dari saudagar-saudagar Minang, sedangkan pribahasa kedua berasal dari dukun di Kunung Kidul.

Dua hari kemarin saya membaca kabar, cukai rokok akan dinaikkan, sehingga rokok yang biasanya sebungkus berharga 14 ribu akan naik jadi 20 ribu. Saya mengapresiasi kebijakan yang sangat brilian ini. Untuk itu, saya perlu mengacungkan jempol, sebelum mencabuti bulu ketiak jangkrik. Baca selengkapnya…

Kategori:catatan harian Tags: , , ,

PEMIMPIN ADALAH REFERENSI; HATIHATI!

11002647_1048981725118454_7673777545008265626_n“Berhati-hatilah saat kalian dijadikan referensi!” Entah dari siapa dan kepada siapa pesan itu disampaikan, saya sudah lupa. Tetapi benar bahwa saya pernah mendengarnya. Dan ternyata, pesan itu terbukti benar adanya. Harus berhati-hati saat jadi referensi.

Referensi itu semacam bahan rujukan, serba ditiru dan diikuti. Entah itu gaya berpakaian, kosa kata yang sering dilontarkan, cara berjalan atau bahkan model tertawanya. smile emotikon
Terus siapa yang meniru? Jamak, sangat jamak. Bisa pengikutnya, pengagumnya, bahkan orang yang tak mengenalnya pun bisa jadi mereferensikannya; menjadikan referensi maksudnya. hehe. Secara manusia lemah memang demikian. Meniru tokoh pujaannya, sebab tak punya pilihan. Tak peduli itu profesor, doktor, spesialist, herbalis atau siapapun. Kalau sudah kadung mengagumi, dia bakal mengekor si idola tadi.

Masih ingat “daripada”nya Pak Harto atau “sah-sah saja”nya Gus Dur? Saya yakin daripada kita masih ingat daripada kata daripada yang sering dikunyah daripada banyak orang saat daripada Pak harto masih jadi presiden. Dan itu sah-sah saja, sebagaimana orang berkata sah-sah saja menirukan daripada apa yang sering diucapkan Gus Dur.

Beberapa bulan yang lalu saya berkenalan dengan seorang pengsiunan saat mengantar sangkar ke statsiun KA. Dan lalu beliau beberapa kali main ke rumah, sebab juga ingin memelihara dan berkebun ayam. Beliau kenalan saya itu juga mantan petinju. Banyak bicaranya, hingga saya harus banyak memberi kroto untuk burung piaraan serta ayam hutan di kandang. Biar gak kalah gacor maksud saya. hehe..

Sayang sekali Beliau kenalan saya itu, saat bercerita masa mudanya bolak-balik melontarkan kata (maaf) “Bajingan” dan berbagai kawan sejawatnya sehingga didengar anak saya. Tersebab itu anak saya heran dan bercerita kepada kakaknya, “Mas, wau simbahe to le matur, amit-amit, bajingan.” Saya hanya tersenyum, tak menyalahkan pendengaran anak saya. Maka setiap Beliau bertamu, anak saya tak lagi saya perbolehkan mendengar pembicaraan. Bahaya, kata saya.

“Berhati-hatilah saat menjadi referensi,” demikian pesan itu. Tak butuh waktu lama untuk sekedar meniru, bahkan burung beo pun bisa meniru. Jika seorang pemimpin yang dijadikan referensi sudah berpendapat bahwa kebiasaan berkata-kata kasar seperti “Bajingan” dan “Bangsat” adalah lebih baik asal (semoga saja) tidak malingan ketimbang mereka yang santun tetapi (menurut kabar) malingan, maka jangan salahkan jika nanti orang akan berkata “Lebih baik tidak beragama tetapi jujur, penyayang dan berprestasi, ketimbang beragama tetapi bodoh dan senang menipu.” ITU!

Baca selengkapnya…

STATUS SOSIAL

Status Sosial

blawongStatus sosial adalah status yang ditulis di media sosial. Isinya boleh tentang apa saja. Seni, budaya, perdagangan, peternakan, pertemanan, susana hati, kejadian aktual dan lain-lain. Dan antar pengguna media sosial boleh membacanya. Sebab manusia adalah makhluk sosial.

Makhluk sosial artinya, manusia tidak bisa hidup sendiri. Dia perlu manusia lain untuk bisa saling berinteraksi. Entah sekedar menanyakan kabar atau menanyakan pacar. Bahkan kadang, sebuah pertanyaan bisa dilontarkan dengan tanpa sadar. Jadi santai saja, Banyak juga manusia yang suka berkelakar, sebab merasa hidup hanya sebentar. Baca selengkapnya…

KE MADURA;BERBURU AYAM GAOK DAN KEKOK DI PASAR TANAH MERAH

16 Februari 2015 3 komentar

10968541_905602559480753_7707882187972989686_nHari Jum’at (09022015) saya meluncur ke Pajang, Solo di tengah rintik hujan. Pukul 17.30 wib saya berangkat dari Kota Lumpia, yang disambut hujan deras di perbatasan Kota Salatiga-Boyolali. Didorong oleh janji yang kadung dibuat, saya tetap melanjutkan perjalanan. Untungnya sepeda motor yang saya kendarai lumayan bandel. Masih bisa melaju 80-100 km/jam untuk bisa segera sampai ke Kota “the spirit of Java” agar termungkinkan saya tidak terlambat sampai tujuan. Tiga jam perjalanan; ya, dari Kota Semarang menuju Kota Solo saya membutuhkan waktu 3 jam, tersebab hari yang hujan. Andaikan tidak, bisa jadi 2,5 jam sudah sampai tujuan. Baca selengkapnya…

KUAH MIE AYAM

22 Desember 2014 1 komentar

10397067_566570926822083_6431570395513106139_oBeberapa waktu yang lalu saya berkunjung ke rumah kakak di sebuah kota di Jawa Tengah. Dalam pandangan saya, kakak saya itu luar biasa. Beliau hanya lulusan SMA tapi terampil luar biasa. Terampil dalam berkarya, berkreasi apa saja. Pun bukunya, walah, lebih banyak ketimbang yang ada di rak buku saya. Tak hanya berkarya, dalam hal pemasaran pun kakak saya itu pandai tak bisa saya kata. Jempolan deh pokoknya. Bahkan, meski bukan jebolan teknik mesin atau STM, Beliau mampu membuat robot. Saya pernah dipameri cara kerja robot bikinannya, yang sungguh sangat membantu pekerjaannya. Pekerjaan yang mestinya sulit dan rumit, bisa dikerjakan dengan cepat dan mudah. Itu baru satu contoh. Hasil karya lainnya masih banyak dan tak perlu saya beberkan semua di sini, sebab fokus cerita saya buka pada masalah itu. Baca selengkapnya…

Kategori:Uncategorized
Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 98 pengikut lainnya.