SAJAK PERTEMUAN

20 November 2015 Tinggalkan komentar

Hai! Apa kabar?

Kau menyapaku dan tentu

aku kaget setengah rindu.

sekian lama kau menghilang

dan aku si penunggu waktu hampir

hampir saja menghapusmu dari memoriku.

 

Sehat? Aku terjingkat tak menjawab

kepada sosok di sampingmu mata tertuju

tak sadar tanganku merogoh kantong celana

yang masih terselip sekeping lima rupiah di sana

kutunjukkan kepadamu, dan

hai! itu sudah tak ada harganya.

 

Hari tlah sore, tanggal 17 seingat saya

aku harus menurunkan sang saka

lupa ngudhal bundhelannya

macet di tengah tiang itu bendera.

 

Semarang, 2015

 

 

Iklan

SAJAK KEPADA MADU

20 November 2015 1 komentar

Sajak Kepada Madu

Madu adalah nama ayam hutanku. Dia yang paling lama kupiara di antara piaraan saya yang lainnya. Madu, belum lama aku memberinya nama itu. Awal mula kuberikan nama itu, tersebab sakit yang dideritanya. Suatu sore sepulang kerja, kulihat dia si Ayam Hutan begitu murung. Hidungnya sedikit meler, matanya sayu mendayu. Sesekali kepalanya diangkat dan terdengar suara seperti orang mendengkur. Ayam Hutanku kena gejala flu. Karena habis persediaan obat, kuberi dia sesendok madu. Dan sembuh. Tetapi kemudian lama tak kudengar suara kokoknya. Padahal di kala sehatnya, tiap jam 3 dini hari dia sudah mulai bersuara. Rindu aku. Setelah sekian lama, aku mendengar parau suaranya. Tak bisa dia berkokok sebagaimana layaknya. Pita suaranya rusak, mungkin madu yang kuberikan terlalu panas dirasa. Sejak itu kuberi dia nama; MADU. Baca selanjutnya…

KEPEDULIAN ITU

16 November 2015 2 komentar

Makhluk seperti apakah yang bernama kepedulian itu? Sejenis Raksasa semacam Dasamuka atau mungkin semacam dewa seperti Dewa Wisnu? Terus terang saya masih penasaran, sebab hingga kini belum pernah mampu menemu dan bertatap muka dengan sewujud kepedulian itu. Atau malah jangan-jangan dia makhluk tak berwujud selayaknya angin? Entahla.¬† Yang jelas, siapa pun dirinya, makhluk bernama kepedulian itu banyak yang mengidolakannya. Banyak manusia yang sangat suka menyebut-nyebutnya. Dan seringkali saya tak peduli itu. Mungkin saya manusia yang tak punya kepedulian, bisa jadi. Tapi apa pedulimu? Nah. Baca selanjutnya…

JOGJA ISTIMEWA

~~=[  DWISaat saya kecil dulu, ketika angkutan umum masih berupa kol (mobil dengan pintu di belakang dan kursi di kanan-kiri berhadapan) jogja sungguh istimewa. Istimewa dalam arti yang sebenarnya, setidaknya untuk diri saya yang ndesa.

Tak pernah orang menyebut pasar beringharjo misalnya, saat ke Jogja Kota. Mereka akan bilang “arep nang negara”. Mau ke kota. Sehingga kemudian muncul guyonan, “pengin gedhang? Negoro lor kono!” Sebab jogja terletak di sebelah utara dusun saya. Jogja, begitu istimewa.

Saat ada hajat mantenan, semua orang yang sudah berkeluarga akan mengenakan sorjan lengkap dengan kerisnya. Hingga kini bapak saya pun masih lengkap koleksinya. Sangat istimewa.

Jika ada pagebluk atau sejenisnya, Sultan akan paring dhawuh untuk pasang kupat luar atau apa lupa sudah saya, yang jika ditarik ujungnya akan udar berantakan. Kupat seperti itu biasa dipakai penari ledhek untuk menyebar beras. Tentu tak hanya kupat, tapi disertai ubo rampe lainnya; dhong dadap serep, janur, kembang dan lain-lainnya. Dan masyarakat Jogja sendika dhawuh semuanya. Sungguh istimewa.

Terebih saat perayaan sekaten. Rakyat Jogja berjubel di alun-alun lor, merayakan sekatenan dengan penuh suka cita. Di saat itulah pusaka-pusaka kraton dipamerkan, warga bisa melihat dan mendengar suara gamelan guntur madu. Pasukan lombok abang berbaris sangat berwibawa. Di waktu lain, kecil kemungkinan kita bisa melihatnya. Istimewa sekali.

Bahkan konon, antara laut selatan-Gunung Merapi ada sebuah jalan tol yang tak bisa dilihat sembarang orang. Di alas kulon omah, dilalui lintasan itu. Dahulu sekali, saat saya masih kanak-kanak, sering pada malam tartamtu terdengar suara tabuhan yang katanya itu iring-iringan Kanjeng Ratu Laut Kidul. Entah benar atawa tidak, sungguh terasa begitu istimewa bagi saya.

Tentu banyak keistimewaan lainnya. Dan kini, Jogja semakin istimewa. Istimewa orangnya, istimewa negerinya. Sudah, itu saja. ūüôā
Baca selanjutnya…

Kategori:Uncategorized Tag:

TENTANG KITA

Tentang Kita

IMG03649-20150405-0846Bahkan yang sudah setingkat profesor pun ada banyak yang menilai sistem pendidikan kita salah. Anak-anak dididik untuk menjadi tidak kreatif. Anak-anak diformat menjadi mesin-mesin penghapal rumus dan peristiwa. Para siswa disiapkan sekadar menjadi calon-calon tenaga pekerja siap didik malah, belum siap pakai.

Saya tak akan menyitir satu pun ungkapan seperti termaksud, sebab tanpa saya tulis ulang kita sudah bisa dengan mudah menemuinya. Kalimat-kalimat berisi ungkapan pesimisme para pakar itu telah banyak berkeliaran di berbagai sudut media; Online, cetak maupun elektronik. Baca selanjutnya…

KUALITAS HIDUP

Kualitas Hidup

Ʀois Ƈlasic

Beberapa waktu yang lalu, betapa saya mendengar seorang pejabat pemerintah berkata, “Memang bisa jadi mereka (rakyat Indonesia) mampu mampu hidup dengan penghasilan 500 ribu rupiah. Namun kualitas hidup yang seperti apa dengan biaya 500 ribu/bulan itu?”

Ehm. Memang standart hidup manusia berbeda antara yang satu dengan yang lainnya. Bagi juragan uang 500 ribu bisa jadi habis untuk sekali masuk rumah makan. Tapi bagi seorang saya, 500 ribu itu luar biasa banyaknya. Sebab penggunaan untuk kebutuhan yang berbeda.

Jika juragan tersedak karena menjilat ludah yang kadung dikeluarkan, puluhan juta barangkali dibutuhkan untuk menjenguk dokter. Sedangkan saya, saat ada tulang ikan asin nyangkut di tenggorokan cukuplah menelan sekepal nasi anget persis seperti ngloloh seekor ayam dengan jamu.

Kerja dan manusia memang tak bisa dipisahkan. Ada yang bilang jika kita menggunakan 90% saja waktu kita untuk bekerja, maka dunia akan angkat topi dibuatnya. Benarkah? Entah. Tapi memang, ada segolongan manusia yang begitu maniak kerja. Siang malam dia bekerja, demi agar dunia angkat topi di hadapannya. Dan tak dipungkiri, memang ada beberapa yang berjaya. Dunia seakan ada digenggamannya; apapun yang dimauinya akan tersedia dihadapannya. Tapi eh, tentu tidak semuamuanya. Pada saat remnya blong secara tiba-tiba, saat itu juga babi ngepet hadir di hadapannya. Siap menyedot sebagian besar hartanya. Cengap-cengap dia dibuatnya.

Di tempat lain, 500 ribu itu sungguh luar biasa. Beli tembakau beberapa rupiah untuk kebahagiaannya. Sisanya buat nabung. Sebab makan dan minumnya sudah disediakan alam semesta. Mau nasi mereka menanam padi, untuk sayur mereka mengolah kebun. Hidup yang tak ngoyo. Tak perlu apartemen berlantailantai, apatah lagi mobil berkilapkilap. Hidupnya damai, penyakit ganas tak berani mengintai.

Kualitas hidupnya? Nah, itu beda parameternya. Nyatanya dengan 500 ribu/bulan saya masih bisa menghibur Juragan semua dengan tulisan sekadarnya. Tentu, kepulan asap rokok tak menghambat kesenangan saya. Anda? Entah berapa ratus juta per bulannya. Yang jelas sepiring nasi dan laukpauknya sama-sama bisa mengenyangkan kita. Anda lauk sate, saya lauk krupuk. Sama kenyangnya, sama senangnya. Itu.

Baca selanjutnya…

Kategori:Uncategorized

ORANG BIJAK TAAT PALAK

ORANG BIJAK TAAT PALAK

Oleh: Herman Hasyim

asedihPemerintahan Jokowi-JK adalah pemerintahan terhebat yang pernah saya ketahui dan saya alami, khususnya dalam menyiasati minimnya penerimaan negara. Supaya tidak terjadi ‚Äúbesar pasak dari pada tiang‚ÄĚ, pemerintahan ini membuat kebijakan ‚Äúbesar pajak dari pada tumbang‚ÄĚ. Pribahasa pertama berasal dari saudagar-saudagar Minang, sedangkan pribahasa kedua berasal dari dukun di Kunung Kidul.

Dua hari kemarin saya membaca kabar, cukai rokok akan dinaikkan, sehingga rokok yang biasanya sebungkus berharga 14 ribu akan naik jadi 20 ribu. Saya mengapresiasi kebijakan yang sangat brilian ini. Untuk itu, saya perlu mengacungkan jempol, sebelum mencabuti bulu ketiak jangkrik. Baca selanjutnya…