KEPEDULIAN ITU

Makhluk seperti apakah yang bernama kepedulian itu? Sejenis Raksasa semacam Dasamuka atau mungkin semacam dewa seperti Dewa Wisnu? Terus terang saya masih penasaran, sebab hingga kini belum pernah mampu menemu dan bertatap muka dengan sewujud kepedulian itu. Atau malah jangan-jangan dia makhluk tak berwujud selayaknya angin? Entahla.  Yang jelas, siapa pun dirinya, makhluk bernama kepedulian itu banyak yang mengidolakannya. Banyak manusia yang sangat suka menyebut-nyebutnya. Dan seringkali saya tak peduli itu. Mungkin saya manusia yang tak punya kepedulian, bisa jadi. Tapi apa pedulimu? Nah.Apa pentingnya kepedulian itu? Tak tahulah aku. Hanya saja, beberapa waktu belakangan ini warga masyarakat dunia maya, utamanya facebook (baca;pesbuk), tengah disibukkan dengan istilah kepedulian. Sebagian sangat besar dari mereka merasa paling berhak memiliki kepedulian. Karena rasa memiliki itulah yang kemudian membawa mereka ke dunia yang berbeda. Ya, beda pendapat yang saya maksud tentu saja. Sebab ada yang menerjemahkan wujud kepedulian itu mirip warna bendera Perancis yang tembus pandang. Dengan memasang PP (Pict Profile, gambar profil akun fb) berupa foto yang diblok warna bendera Perancis berarti mereka memiliki kepedulian. Jadi kepedulian adalah sebentuk warna bendera.

Benarkah? Benar bagi yang meyakininya, tentu saja. Sebab di pihak lain ada pula yang tak demikian. Mereka tak sepakat bahwa kepedulian hanya berhak ditujukan ke Negara Perancis yang diteror sekelompok orang gila itu. Palestina, Burma, dan bahkan Negeri kita sendiri juga butuh kepedulian. Asap yang melanda beberapa daerah beberapa waktu yang lalu, banjir di beberapa daerah, masyarakat miskin yang ada di sekitar kita dll. juga butuh kepedulian kita. Karenanya kepedulian tak hanya berwujud bendera Perancis. Lalu muncul Bendera Palestina, Kabut Asap dan bahkan Bendera Indonesia. Mana yang benar? Entah. Tak pedulilah saya. Biarkan saja.

Sementara saya, yang bukan siapa-siapa, tak mampu berbuat banyak untuk peduli. Sebab untuk sekedar membantu tetangga yang kesusahan saja saya masih megap-megap. Banyak sasaran anak panah kepedulian di sekitar kita, tetapi seringkali lepas dari pengamatan; artinya kita tak peduli. Tak usah tetangga, bahkan seringkali masih keluarga kita. Lalu terhadap tragedi kemanusiaan tingkat dunia kita musti diam seribu bahasa? Terserah Anda. Yang jelas kepedulian tak akan terwujud jika hanya mandheg di tingkat perdebatan. Kepedulian bukan sekadar wacana. Kepedulian adalah tindakan nyata. Setidaknya kita berdoa, atas segala bencana dan musibah yang melanda dunia. Cukupkah dengan doa? Saya katakan, itu hanya setidaknya. Tentu wujud nyata dari selain doa juga harus. Teriak-teriak di fb? Terserah. hanya saja, ada juga efek jeleknya. Sedang kepedulian itu harusnya menenteramkan, bukan memicu permusuhan. Kita ini aneh. Seaneh-anehnya makhluk, bisa jadi.

Kembali ke awal tulisan ini, bisa jadi rasa kepedulian saya sudah terdegradasi. Entah oleh dan sebab apa. Yang jelas bukan karena Jokowi. Hehe.. itu.

  1. 17 November 2015 pukul 10:21 pm

    Peduli memang sesuatu banget gan, apalagi jika kita peduli dengan sesama

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: