Arsip

Archive for April, 2017

Anjing Tin Tin

Sekedar Cerita

Saya punya seorang sahabat yang memelihara seekor anjing. Anjingnya tak terlalu besar, memang, tapi saya tak berani mengatakannya kecil. Jika Panjenengan pernah lihat film Rintintin, nah wajah anjing piaraan sahabat saya itu mirip sekali dengan wajah anjing milik Tintin. Saya pernah perhatikan, ada sedikit cacat di kakinya. Cacat bawaan kata sahabat saya. Meski cacat kaki, anjing itu mampu berlari cepat sekali. Pun jalannya normal, jika tak kita perhatikan dengan seksama. Bulunya lebat, taringnya runcing, tatapannya garang. Ngeri bagi yang belum mengenalnya. Tapi anjing tetap saja anjing; Dia akan tunduk dan patuh pada perintah si Empunya.

Seringlah saya berkunjung ke rumah sahabat saya itu. Tiap kali hendak berkunjung, saya selalu kirim pesan, “Tolong anjingnya diamankan.” Artinya anjing itu akan dicancang. Sebab kepada anjing, saya takut bukan kepalang. Pernah suatu hari saya dikejar hendak digigitnya, lari tunggang langgang dan kaki saya kejaduk-jaduk kursi dan juga meja. Memarlah kedua kaki saya. Aduuhh.. 5 hari belum sembuh sakitnya.
Waktu dulu memang saya pernah piara anjing. Tapi itu dulu, sewaktu masih kecil dan tinggal di kampung kelahiranku. Kini tak pernah lagi. Berganti sudah anjing dengan berbagai macam unggas. Pernah pula piara musang, namun tak lama. Si Musang yang kupiara sakit dan akhirnya mati saat kutinggal 4 hari bertamasya ke Pulau Madura.

Muncul pertanyaan pertama; Mengapa saya takut anjing?
Ya, memang saya takut jika dikejar anjing, meski jelas anjing itu jauh lebih kecil ketimbang saya. Jangankan anjing, ayam jago saja jika tajinya panjang dan berani ngabruk, bisa jadi saya akan takut dibuatnya. Meski jelas jika duel habis-habisan saya tak akan kalah juga.

Pertanyaan yang kedua; Apakah anjing tidak takut kepada saya?
Takut. Sebenarnya anjing itu takut. Kepada manusia, semua takut dibuatnya. Harimau juga, dedemit demikian pula. Sebenarnya semua makhluk takut dengan manusia. Dan untuk menutupi ketakutan itu, maka dia si anjing menyalak terlebih dahulu. Jika kita keder, dia akan mengejar. Kita bawa pentungan kecil saja, si anjing akan putar balik dibuatnya. Tapi rasa takut akan mampu membalikkan fakta. Saat melihat anjing menyalak, pikiran jernih hilang seketika. Lari adalah pilihan utama. Ahahaha..

Beberapa waktu lalu, saya kembali berkunjung ke rumah sahabat saya itu. Kali ini tak sendiri. Saya bawa teman, biarlah sekali-kali main keroyokan. Jika si anjing akan berbuat ulah, kita sepakat untuk memakannya mentah-mentah. Tapi rupanya sahabat saya sudah paham, anjing piaraannya langsung diamankan. Bisa jadi dia khawatir anjingnya akan kami cincang. Heran dech, meski sudah dirantai tetap saja dia menggonggong. Saat melihat saya lewat, dia menyalak keras, matanya melotot, kupingnya njepiping, taringnya dipamerin. Hiii.. takyuutt..

Tapi beda dengan teman saya yang datang dari Jakarta. Dia mendekati anjing itu, lalu menyapanya.
“Hallo, Su.. selamat malam.”
“Guk..gukk.. ghhrrrr…,” si Anjing tintin tetap tak mau menunjukkan rasa persahabatan.
“Santai Boss, santai..,” teman saya tetap mendekatinya sambil tangannya dadadada.

Si Anjing mulai goyah pertahanannya. Dia diam, duduk sambil mengibas-ngibaskan ekornya.
Lalu teman saya lewat di dekatnya sebab hendak cuci tangan di kran dekat tempat si Anjing tintin diamankan. Lengah teman saya, dikiranya anjing sudah tunduk kepadanya. Dia, teman saya, berjalan dengan santainya. Tiba-tiba, guk..guk.. guk.. ghhrrr….
Kaget, lompat dan lari menubruk apa saja yang ada itu teman saya.

Wahahahaha… saya tertawa terbahak-bahak tak ada hentinya, melihat teman saya jalan pincang, entah kakinya menabrak apa. “Anjing tetap saja anjing, Kawan,” kata saya. Mau dilawan berapa orang pun dia tetap mampu mengagetkan kita. Di saat tertentu memang dia diam, tak beraksi sama sekali. Tapi dia membaca kita. Begitu kita lengah, dia akan menyalak, menunjukkan taring dan mengejar kita. Tak peduli berapapun lawan yang ada di hadapannya. “Pancen asu.. ” ngunu ujare kancaku mau. Ahaha..

Baca selanjutnya…