Beranda > catatan harian, Uncategorized > PLN oh PLN ;Pengalaman Pasang Baru Sambungan Listrik

PLN oh PLN ;Pengalaman Pasang Baru Sambungan Listrik

Beberapa bulan yang lalu saya memulai membangun rumah, sebab sudah bosen puluhan tahun jadi kontraktor. Tentu, di jaman sekarang ini kita butuh penerangan praktis, yang tidak bisa tidak harus berhubungan dengan PLN (Perusahaan Listrik Negara). Pucuk dicinta ulam tiba. Beberapa minggu sebelum pembangunan selesai, ada seorang petugas BTL (Biro Teknik Listrik) mendatangi saya dan menawarkan jasa pemasangan instalasi listrik lengkap dengan KWh meternya. Dengan kata lain, saya ditawari jasa pemasangan sambungan listrik baru. Saya mengiyakan, tapi saya minta sabar untuk bulan berikutnya setelah pembangunan rumah mendekati selesai. Pada saat itu saya tanya mengenai biaya/tarif pasang sambungan listrik baru. Katanya bergantung dayanya. Untuk 900 watt biayanya Rp. 1.600.000,- dan jika 1300 watt biayanya Rp 2.700.000,-. Saya pilih yang 900 watt, karena belum butuh daya besar dan biaya lebih ringan, tentu saja.

Kurang lebih satu bulan kemudian, setelah semuanya siap, saya menghubungi petugas BTL tersebut dan minta bantuan pemasangan untuk daya 900 watt. Apa lacur, daya yang saya maksud lagi kosong stocknya. Saya tanya via SMS, butuh berapa bulan lagi bisa ready stock dan tak ada jawaban. Maka saya putuskan untuk menghubungi petugas PLN langsung di kantor cabang terdekat. Ternyata benar, hanya daya 1300 watt ke atas yang ready stock. Maka saya pun memutuskan pasang yang 1300 watt. Dan dari situlah drama dimulai.

Saya disodori leflet PLN Pintar. Ada keterangan lengkap di sana, di dalam selebaran itu. Namun demikian, saya tetep diberi penjelasan cara mendaftarkan pemasangan listrik baru lewat telpon 123. Pertama kita hubungi 123 (pakai kode area) dan ikuti petunjuknya dari sana. Lalu 3 hari setelah dapat nomer register dan nomer agenda, datanglah kembali ke kantor PLN dan tunjukkan nomer-nomer tersebut untuk keperluan survey. Dan ini anehnya; saya dipesan agar jangan transfer biaya penyambungan terlebih dahulu, meski coll center 123 menyarankan demikian.

Segera, hari itu juga, saya hubungi PLN 123. Karena telpon pakai hp, maka bisa diperkirakan berapa pulsa yang dibutuhkan. Ada beberapa pertanyaan dan informasi yang kita terima. Terutama tentang identitas calon pelanggan. Mulai dari NIK, alamat (baik yang ditempati sekarang maupun yang akan dipasang sambungan listrik),  Nomer HP, NPWP dll. Semua terjawab dengan lancar dan gantian saya yang mendengar dan mencatat ;Nomer Agenda, Nomer Register dan nomer antrian. Semua saya catat dengan baik dan benar. Sebagaimana pesan petugas PLN unitup 5253, saya kembali ke kantor PLN 3 hari setelah tilpon. Pesan petugas, saya disuruh kembali ke kantor 3 hari kemudian untuk memastikan hasil survey. Saya pun mengikuti petunjuknya. Kembali ke kantor PLN, lagilagi tak dapat apapun jua. Petugas survey tak menemukan alamat saya, katanya. Petugas kantor PLN kemudian meminta gambar peta alamat saya. Saya gambar, sembari tanya kapan lagi disurveinya. Tak ada kepastian dari petugas kantor PLN. Alasannya, surveyor yang dimaksud tak setiap hari masuk kantor. Belum tentu sekali seminggu. Pulanglah saya dengan tangan hampa.

Drama pun belum selesai. Sebagai calon pelanggan, tentu saya tanya sanasini, barangkali ada yang bisa membantu meski sebatas informasi. Dan benar, kepala sekolah di mana anak saya sekolah memberi informasi bahwa kakaknya yang bekerja di PLN bagian distribusi bisa membantu. Dimintanya nomer registrasi yang saya miliki, dan entah dari mana dianya tahu kalau saya belum membayar biaya pendaftaran. Dengan penuh optimis, dia meminta saya segera membayarnya dan 2 – 4 hari setelahnya akan menyala. Sementara saya lupakan pesan petugas kantor PLN, saya bayar biaya pendaftarannya. Total yang saya bayarkan Rp 1.474.000,- (SATU JUTA EMPAT RATUS TUJUH PULUH EMPAT RIBU RUPIAH), hampir 1,5 juta. Memang biaya itu terhitung sangat murah, sebab jika lewat BTL bisa jadi 3 juta rupiah, yang artinya 2x lipatnya. Belum biaya lain-lain, yang bisa menjadi 2,5x lipatnya. Edian tenan.

Hari jum’at saya bayar, hari selasa minggu berikutnya 2 ekor petugas survey dari PLN datang. Digambarlah peta jaringan di sekitar rumah saya dan hasilnya dinyatakan TIDAK BISA TAMBAH SAMBUNGAN BARU untuk rumah saya. Konsekwensinya saya harus kembali ke jaman purba, menggunakan api sebagai alat penenrangan. Uang saya yang sejumlah hampir 1,5 juta itu akan dikembalikan paling cepat 3 bulan kemudian. Musim hujan tapi tak mendung, tibatiba saja petir menyambar. Dhuaaarrr….

Sumpah, jika saya hidup sendiri, saya akan memilih tak pasang sambungan listrik. Lampu teplok cukuplah untuk penerangan bagi saya. Tetapi anak-anak dan istri tentu tak bisa menerima. Maka TERPAKSA saya kembali ke selera lama. Menghubungi pihak BTL untuk minta bantuan agar termungkinkan mendapat jatah sambungan. Dan bisa, tentu saja. Biaya yang harus saya keluarkan senila 3 juta, di luar yang sudah saya bayarkan ke PLN. Tak butuh waktu lama, listrik di rumah saya pun menyala.

Pertanyaannya; DI PLN INI ADA APA?

Jelas ini pembodohan yang seasuasunya. PLN Bersih hanya celoteh belaka. PLN Murah omong kosong saja. Pembeli adalah raja, tak berlaku bagi PLN rupanya. Rakyat harus sengsara, jadi lumbung padi para mavia. Lalu apa tujuan pesan yang disampaikan 123 di setiap akhir percakapan, agar tak memberi tips dll kepada petugas PLN demi menciptakan Indonesia bersih? Lipstik belaka.

Saya akan teruskan tulisan ini hingga beberapa tulisan, tunggu saja di waktu berikutnya..

  1. gondes
    8 Desember 2015 pukul 9:00 am

    Hahaha.. Sama kasusnya pak brow.. Banyak yg brnasip sama. Bersih brow.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: