SAJAK KEPADA MADU

Sajak Kepada Madu

Madu adalah nama ayam hutanku. Dia yang paling lama kupiara di antara piaraan saya yang lainnya. Madu, belum lama aku memberinya nama itu. Awal mula kuberikan nama itu, tersebab sakit yang dideritanya. Suatu sore sepulang kerja, kulihat dia si Ayam Hutan begitu murung. Hidungnya sedikit meler, matanya sayu mendayu. Sesekali kepalanya diangkat dan terdengar suara seperti orang mendengkur. Ayam Hutanku kena gejala flu. Karena habis persediaan obat, kuberi dia sesendok madu. Dan sembuh. Tetapi kemudian lama tak kudengar suara kokoknya. Padahal di kala sehatnya, tiap jam 3 dini hari dia sudah mulai bersuara. Rindu aku. Setelah sekian lama, aku mendengar parau suaranya. Tak bisa dia berkokok sebagaimana layaknya. Pita suaranya rusak, mungkin madu yang kuberikan terlalu panas dirasa. Sejak itu kuberi dia nama; MADU.

Hewan piaran itu punya insting yang tajam. Dia paham juga akan kasih sayang. Setiap aku mendatanginya seakan dia ingin menyambut dengan polah lucunya. Sayang dia tak bisa berkokok lagi. Tapi berkomunikasi, si Madu masih mampu. Gerak geriknya menunjukkan itu. Dia sayang padaku, sebagaimana aku sangat menyayanginya. Itu yang aku rasa. Karenanya aku sering mengajaknya bicara, meski dia tak mampu berkatakata. Tapi mata dan tingkahnya tak menipu. Sekali lagi, aku yakin Madu juga menyayangiku. Maka layak kiranya kuhadiahkan sajak kepadanya.

KEPADA MADU

Madu, aku menyanyangimu bukan sebab kecantikanmu.
Uga, aku tresno kowe nora merga ora ana liyane.
Kuharap engkau percaya, Madu.

Aku selalu rindu akan merdu suaramu
Kubayangkan pagi engkau membangunkanku
Lalu sore engkau menyambut kepulanganku
Ah, tentu hilang segala lelah di tubuhku.

Memandang dirimu di setiap luangku
Adalah hal terindah dalam hidupku
Sehatlah selalu, Madu
Agar Engkau bisa menyapaku setiap waktu

Dalam rasaku yang ada hanyalah rindu
Aku cemburu, aku cemburu, madu
Entah mengapa tibatiba aku jadi pencemburu
Setiap ada kawan yang melirikmu.
Tak. Tak akan aku rela kehilanganmu.

Apa iki kang aran wong edan mendem katresnan?
Anane mung tansah kelingan
Ing rasa mung tansah pengin sesandingan.
Temenan, aku wedi kelangan.

Bukan lantaran sebab kecantikanmu
Tapi memang, terhadap diri aku tak mampu menipu.
Bulu halus di tengkukmu dan bening kerling bola matamu
O, senantiasa membuatku semakin rindu.

Dan seperti orang gila, aku bertanya
;Tahukah engkau akan hal itu, Madu?

Semarang, 2015.

  1. 30 November 2015 pukul 8:17 am

    Luar biasa gila…sajak kepada ayam…hehe

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: