Beranda > catatan harian > ORANG BIJAK TAAT PALAK

ORANG BIJAK TAAT PALAK

ORANG BIJAK TAAT PALAK

Oleh: Herman Hasyim

asedihPemerintahan Jokowi-JK adalah pemerintahan terhebat yang pernah saya ketahui dan saya alami, khususnya dalam menyiasati minimnya penerimaan negara. Supaya tidak terjadi “besar pasak dari pada tiang”, pemerintahan ini membuat kebijakan “besar pajak dari pada tumbang”. Pribahasa pertama berasal dari saudagar-saudagar Minang, sedangkan pribahasa kedua berasal dari dukun di Kunung Kidul.

Dua hari kemarin saya membaca kabar, cukai rokok akan dinaikkan, sehingga rokok yang biasanya sebungkus berharga 14 ribu akan naik jadi 20 ribu. Saya mengapresiasi kebijakan yang sangat brilian ini. Untuk itu, saya perlu mengacungkan jempol, sebelum mencabuti bulu ketiak jangkrik.

Sebagaimana tarif pesawat terbang kelas bawah yang harus naik karena tarifnya tidak boleh lebih murah dari tarif kereta api, harga sebungkus rokok juga harus dinaikkan karena harga beras sudah naik duluan. Jangan sampai harga rokok lebih murah dari pada harga beras. Jika sebelumnya harga sebungkus rokok setara dengan dua kilogram beras, maka perbandingan ini harus terus dipertahankan dengan sepenuh tenaga, keringat, darah dan air comberan.

Sekarang harga beras sudah melampaui 10 ribu, sehingga bisa kita setujui jika harga rokok dikatrol jadi 20 ribu. Percayalah, bukan hanya saya yang setuju dengan kebijakan ini. Saya yakin kebijakan ini juga didukung penuh oleh orang-orang gila di perempatan jalan itu. Kalaupun tidak mampu membeli rokok, kita masih sanggup menyedot asap knalpot bajaj sehari 12 kali, sambil rebahan di atas rel kereta api.

Cukai rokok hanya salah satu sumber penerimaan negara. Masih banyak lagi yang bisa diambil. Misalnya pajak tol. Sebentar lagi juga naik. Sumpah, ini kebijakan yang sangat futuristik. Jika tarif tol naik, orang-orang akan semakin malas menggunakan mobil, sehingga mereka memilih pergi dan pulang kerja naik odong-odong.

Tanah menganggur juga bakal dikenai pajak. Kalau Anda punya tanah di pinggir jalan beraspal, lalu Anda diamkan saja tanah itu, Anda harus membayar pajak yang nominalnya hampir sama dengan pajak ruko. Lagi-lagi, ini adalah kebijakan yang sangat mulia. Dengan kebijakan ini, para tuan tanah akan ogah punya tanah menganggur, dan mereka akan merelakan tanah itu ditukar guling dengan satu truk nasi uduk.

Pemerintahan Jokowi-JK juga membidik pendapatan negara bukan pajak (PNBP) dari maskapai penerbangan yang pesawatnya tertunda keberangkatannya alias delay. Ini jenius, karena tidak terbayang oleh pemerintahan-pemerintahan sebelumnya. Sudah pasti, penerimaan negara bakal kian berjibun. Tidak usah dipusingkan ganti rugi terhadap calon penumpang yang cerewet-cerewet itu. Bila perlu, orang-orang itu kita suruh terbang ke Sumatera atau ke Papua naik layang-layang, yang selain hemat bahan bakar, juga bisa landing di sembarang pohon.

Hanya itukah kreativitas pemerintahan Jokowi-JK? Tentu tidak. Saya sebutkan satu contoh lagi. Dalam waktu dekat, pemerintah akan mengeluarkan kebijakan pengampunan pajak atau tax amnesty. Ada juga sunset policy atau kebijakan senjakala. Istilah-istilah high class itu saya dapatkan dari seorang penjual tempe mendoan.

Maksudnya begini. Yang Terhormat Bapak Presiden Joko Widodo tidak akan memberi hukuman kepada penunggak pajak kelas ikan hiu. Ini juga kebijakan brilian. Demi keselamatan pemimpin negara, memang sudah sewajarnya beliau fokus ke ikan-ikan teri. Tidak mungkin dong kita relakan Presiden kita dikremus ikan hiu, lantas blusukan ke dalam perutnya, berputar-putar di sana sebelum keluar lewat pantat, lalu terdampar di Laut China Selatan dengan hanya mengenakan celana kolor.

***
Beberapa tahun lalu, ketika naik bus kota di Jakarta, saya sering mendapati adegan seperti ini: Dua pemuda dengan pakaian setengah rocker setengah orang-orangan sawah berusaha menghibur kami dengan nyanyian dan orasinya, plus bau ompolnya.

“Kami hanya ingin menghibur Anda semua. Kami tidak bermaksud jahat,” kata pemuda pertama, sambil menggebrak bangku penumpang. Pandangan matanya tertuju ke HP, jam tangan dan tas para penumpang.

“Hati-hati di Jakarta banyak copet, rampok, begal. Kami mencari uang yang halal. Kami tidak mau menyakit Anda semua,” kata pemuda kedua, dengan mengeluarkan belatinya. Matanya membidik ke ibu-ibu dan siswi-siswi SMA.

Untuk preman-preman seperti ini, saya selalu menyediakan uang sepantasnya. Selain karena alasan kemanusiaan, juga dengan pertimbangan fisik saya yang kerempeng ini sewaktu-waktu bisa dilempar ke luar bus dan jadi bancakan para bencong di lampu merah.

Sekarang kejadian-kejadian seperti itu sudah berkurang. Tentu ini berkat kehebatan
pemimpin kita, Jokowi dan JK, yang dengan sangat cerdas mengambil alih peran pengamen-pengamen itu melalui instrumen legal-formalin. Istilah high class yang ini saya peroleh dari penjual onde-onde.

Ingat ya. Bagaimanapun juga, sebagai orang yang pura-pura bijak, kita harus taat palak.

Jakarta, 16 Maret 2015

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: