Beranda > catatan harian, PAHI, Uncategorized > KE MADURA;BERBURU AYAM GAOK DAN KEKOK DI PASAR TANAH MERAH

KE MADURA;BERBURU AYAM GAOK DAN KEKOK DI PASAR TANAH MERAH

10968541_905602559480753_7707882187972989686_nHari Jum’at (09022015) saya meluncur ke Pajang, Solo di tengah rintik hujan. Pukul 17.30 wib saya berangkat dari Kota Lumpia, yang disambut hujan deras di perbatasan Kota Salatiga-Boyolali. Didorong oleh janji yang kadung dibuat, saya tetap melanjutkan perjalanan. Untungnya sepeda motor yang saya kendarai lumayan bandel. Masih bisa melaju 80-100 km/jam untuk bisa segera sampai ke Kota “the spirit of Java” agar termungkinkan saya tidak terlambat sampai tujuan. Tiga jam perjalanan; ya, dari Kota Semarang menuju Kota Solo saya membutuhkan waktu 3 jam, tersebab hari yang hujan. Andaikan tidak, bisa jadi 2,5 jam sudah sampai tujuan.

Pukul 20.30 wib saya sampai di Pajang. Mampir ke Masjid buat sholat Magrib dan Isya’ barulah setelahnya menuju rumah Juragan Pajang. Ya, perjalanan ke “Salt Island” kali ini saya sekadar menemani juragan saya yang gondrong tetapi mbois itu. Beliau seorang pengusaha besar dan tentu, kaya raya. Uang yang dimilikinya bertumpuk-tumpuk, tak ada nomer serinya.😀 Setelah tunai kuwajiban saya, menujulah saya ke rumah sahabat yang juragan itu. Baru selesai keramas rupanya. Rambut panjangnya masih basah, bau shampo tercium dengan jelas. “Monggo Mas, istirahat dulu. Saya tak menyiapkan bekal sebentar ya?” Begitu ramah sambutannya, tentu lengkap dengan salam semutnya. Tahu semut ka? ya, entah apa sebabnya, setiap kali bertemu antar semut selalu menempel pipi kiri kanan.

Disajikannya kepada saya segelas air teh manis, semanis wajah saya. ehm.. Tas punggung ala pendaki gunung telah penuh diisinya. Maka tak lama setelah teh manis habis, kami menuju ke Terminal Tirtonadi. Terminal Bus di Kota Solo, bersih nian rupanya. Tak butuh waktu lama untuk bisa mendapatkan bis jurusan Surabaya. Merk bis itu “EKA”. PATAS AC yang nantinya meluncur ke Terminal Bungurasih surabaya, dengan kecepatan yang saya tidak bayangkan sebelumnya. Deg-deg ser hati saya, sebab belum terbiasa. Di dalam bis kami bertemu dengan seorang teman juragan saya, yang memiliki tujuan kota yang juga sama; Surabaya.

Baik, tak perlu saya ceritakan apa yang terjadi di selama perjalanan. tahu-tahu kami sudah sampai di Bungurash Surabaya, kira-kira jam 3 pagi. Seorang sahabat yang juga juragan di Surabaya, tepatnya tinggal di Perak, siap menjemput kami di terminal. Agak lama juga kami menunggu. Ternyata sahabat kami itu, Juragan Gundul yang juga “sugih mblegedhu”, tak tahan dengan kantuknya. Ngorok beliau itu rupanya. Ahahahaha…. Selama kami menunggu di terminal, juragan saya bolak-balik ke kamar mandi. Tak tahan dengan penyakit “HIV”nya. HIV itu Hasrat Ingin Vivis, kawan. hehe..

Dan lalu datang juga juragan yang menjemput saya. Mengendarai mobil xenia, sebab mobil itu yang letaknya paling luar di antara mobil-mobil mewah lainnya. Lalu sarapan. Entah di jalan apa, tapi masakannya mak nyuss luar biasa. Cukuplah seporsi nasi dan lauknya bagi saya. Pukul 04.30 wib kami sampai di Perak, mandi dan istirahat sebentar lalu kami meluncur ke Pulau Madura. Pasar Tanah Merah yang menjadi tujuan pertama.

PASAR TANAH MERAH

IMG01093-20150207-0717Tanah Merah adalah nama sebuah kecamatan, dan Pasar Tanah Merah adalah Pasar Hewan. Sebagaimana Pasar Hewan lainnya, di Pasar Tanah Merah lengkap juga hewan yang dierjualbelikan. dari sapi, kerbau, kambing dan berbagai macam hewan unggas ada semuanya. Tiap sabtu. Ya, hampir bisa dipastikan jalan raya yang merupakan akses utama masuk kota-kota di Pulau Madura itu macet dibuatnya. Berjubel pengunjung pasar dengan berbegai kepentingannya. Jual-beli hewan atau sekedar cari hiburan.

Sedangkan saya bersama 2 juragan, punya kepentingan yang tak jauh beda; Berburu ayam asli Pulau Madura. Maka yang pertama kami kunjungi adalah anjungan Ayam Gaok. Baru kemudian ke Anjungan Ayam Kekok. Anda tahu, apa itu Ayam Gaok dan Ayam Kekok?

Tapi sebentar, tersebab kami tak menguasai Bahasa Madura maka kami pun kudu menunggu kedatangan 2 rekan kami terlebih dahulu. Dua teman itu, satunya Juragan Blega dan satunya lagi Cak Karim, dua-duanya pengusaha Ayam Hutan dan bekisar terbesar di Pulau madura. Sambil ngopi tentunya. Di Pasar Tanah Merah dekat anjungan Bekisar dan ayam Kekok, ada sebuah warung kopi yang penjualnya sungguh aduhai, cantik nian dia tak bisa dikata. wkwkwk…

Butuh waktu kurang lebih 1 jam kami menunggu. Saya hanya bisa senyam dan senyum saja menikmati sajian khas Pulau Madura. Masyarakat yang masih mempertahankan kearifan lokalnya, keramian pasar yang penuh sesak dengan pengunjungnya. Mengenakan sarung dan kopiah yang dilengkapi hisapan rokok adalah hal yang menarik pandangan saya. Lalu bahasanya; saya babar blas tak paham apa yang mereka bicarakan. Tetapi sama; mereka juga terbengong melihat dan mendengar logat kami. Manusia dari planet mana mereka ini? mungkin begitu dipikirnya saat memperhatikan kami yang agak aneh ini. Juragan Blega pun datang, dengan senyum ramah khas yang dimilikinya. Sahabat saya yang satu itu santun dan halus luar biasa. Asli Kediri, tinggal di Madura.

Capek nulisnya, saya lanjut nanti ya, Kawan.🙂

 

 

 

  1. 24 Februari 2015 pukul 4:36 pm

    kebetulan ane baru sekali bro ke madura, itupun acara ziarah walisongo😀
    pengen kesana tapi untuk berwisata, seperti nya seru ya sob, apalagi nyari ayam😀

    izin follow yak blog nya🙂

    • Wily
      11 Maret 2015 pukul 10:01 am

      Mantabs Mas Brow.. Mana ayam gaok-kekoknya?

  2. 24 Februari 2015 pukul 4:38 pm

    kebetulan ane baru sekali bro ke madura, itupun acara ziarah walisongo😀
    pengen kesana tapi untuk berwisata, seperti nya seru ya sob, apalagi nyari ayam😀

    izin follow yak blog nya😀

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: