Beranda > Uncategorized > KUAH MIE AYAM

KUAH MIE AYAM

10397067_566570926822083_6431570395513106139_oBeberapa waktu yang lalu saya berkunjung ke rumah kakak di sebuah kota di Jawa Tengah. Dalam pandangan saya, kakak saya itu luar biasa. Beliau hanya lulusan SMA tapi terampil luar biasa. Terampil dalam berkarya, berkreasi apa saja. Pun bukunya, walah, lebih banyak ketimbang yang ada di rak buku saya. Tak hanya berkarya, dalam hal pemasaran pun kakak saya itu pandai tak bisa saya kata. Jempolan deh pokoknya. Bahkan, meski bukan jebolan teknik mesin atau STM, Beliau mampu membuat robot. Saya pernah dipameri cara kerja robot bikinannya, yang sungguh sangat membantu pekerjaannya. Pekerjaan yang mestinya sulit dan rumit, bisa dikerjakan dengan cepat dan mudah. Itu baru satu contoh. Hasil karya lainnya masih banyak dan tak perlu saya beberkan semua di sini, sebab fokus cerita saya buka pada masalah itu. Banyak pekerjaan yang bisa ditanganinya sendirian. Tapi karena banyak yang saya kurang suka dan tidak paham, tak tertarik rasanya saya untuk benyak memperhatikan. Ketertarikan saya justru tertuju pada kandang ayam. hehe.. Yups, kakak saya juga memelihara ratusan ayam. Semua jenis ayam kampung yang dipiara dengan model kandang batery. Artinya ayam dibatasi ruang geraknya, dikasih makan hasil campuran beberapa bahan. Campurannya pun dihitung dengan rumus yang saya juga tak paham. Lalu telur diambil sebagai hasil produksinya. Telur ayam kampung asli (?) yang warna kuning telurnya sungguh aduhai. Mengambil telur dari kandang adalah hal yang menyenangkan bukan? Telaten, titen dan ngati-ati. Begitu kata kakak saya dalam kerjanya. Semua serba terukur dan tercatat. Bahkan masing-masing ayam, terjadwal persis kapan bertelur dan sudah berapa telur dihasilkannya. Untuk ayam yang kurang produktif langsung diafkir, jual ke pasar. dengan demikian semua terdeteksi. Ayam umur berapa, telur yang dihasilkan sudah berapa, habis pakan berapa, yang jadi kotoran berapa kg semua dicatat dengan teliti. Luar biasa bagi keheranan saya. Dan lalu datang seorang tamu. Sore itu. Siapakah tamu itu, yang datang di waktu bersamaan denganku? Tak lain dan tak bukan, Beliau adalah pedagang MIE AYAM. Apa istimewanya? Memang tak istimewa, tapi cukup menarik perhatian saya atas apa yang diceritakannya. Kemudian. Si Tamu datang membeli ayam. Ya, ayam afkiran. “Yang umurnya sudah tua ya Mas,” pintanya. Kakak saya pun memilihkan ayam yang paling tua. Konon ayam-ayam yang tua justru yang paling produktif. Telurnya bisa mencapai 250 butir bahkan lebih dalam setiap tahunnya. Setelah 2 tahun berproduksi, biasanya akan dijual. Bukan apa-apa, hanya karena rasa kasihan saja. Lubang duburnya bahkan hingga lower dan menganga, saking seringnya telur keluar lewat sana. “Mengapa pilih ayam yang sudah tua?” saya bertanya juga. Karena dagingnya yang sudah alot, pas buat direbus dan dicacah. Selidik punya selidik, warung mie ayam yang dimilikinya ternyata yang paling besar diantara yang lainnya. Kaget tak terkira, omsetnya mencapai jutaan rupiah per harinya. Hebat bukan? Lalu apa rahasianya? Jual MIE sama AYAM hingga mencapai omset jutaan saban harinya? “Mie sama Ayam itu kan hanya brand saja toh Mas, yang bikin saya untung sebenarnya bukan itunya. Hahaha…,” tertawa menakutkan beliaunya. “Lalu?” penasaran juga saya dibuatnya. “Kuah Mas, KUAH MIE AYAM yang sebenarnya membuat saya kaya raya,” terangnya. “Tapi, sssstttttt… ini rahasia lho ya. Kalau bukan ke Sampeyan tidak akan saya buka wis, tenin,” lanjutnya. “Maksudnya?” kembali saya bertanya. “Walah. Makanya baca buku to Mas, Sampeyan itu sarjana kok goblognya luar biasa. Jangan malas, otaknya tetep diasah Mas. Jangan hanya mengandalkan ilmu-ilmu lama. Ilmu yang Sampeyan dapat dari kampus itu sudah out of date. Sudah basi, kadaluwarsa. Ngerti Sampeyan?” si Tukang Mie Ayam menggoblog-goblogkan saya. Tapi wis ben, aku rapopo. Keepdefayer pokoknya wis.. Merasa berada di atas daun, si Penjual Mie Ayam kembali mengungkap rahasianya. Dan saya hikmat saja mendengarkannya. “Begini lho Mas,” katanya. “Air itu kan sumber daya alam yang luar biasa to. Bahkan bisa kita dapat dengan gratis. Tak pakai bayar. Nah, itu yang kita olah, kita manfaatkan, lalu kita jual. kalau perlu dengan harga mahal. Orang-orang di tempat kita ini kan gampang diakali to Mas. Asal ada keterangan yang meyakinkan, apalagi kalau kita bisa menjatuhkan para ilmuwan dan sarjana kayak Sampeyan itu, kita akan dipercaya orang. Dan produk kita akan laris manis. hohoho…..” terkekeh lagi Beliaunya. “Jadi intinya….” ingin saya bertanya sesuatu sebenarnya. “Ya,” belum selesai pertanyaan saya Beliau sudah mengiyakan. Memang cerdas dan cadas. “Kalau perlu saya sandingkan resep KUAH MIE AYAM saya dengan hasil olahan para chef ternama. Nama-nama ahli kesehatan pun saya bawa beserta teorinya. Lalu sarjana goblog macam sampeyan kalo perlu tak jatuhkan, tak berguna ijazahnya. Saya belajar autodidak, tapi hasil kreasi saya nikmat dan menyehatkan. Sampeyan mau tahu resepnya? Boleh Mas, tapi tak jamin Sampeyan gak akan bisa meniru saya. Sebab bahan kuah saya tak mudah didapatkan. Tapi ssstt.. itu hanya mengada-ada sebenarnya Mas. Hohoho..” kembali tertawa Beliaunya. “Lalu masalah harga? kembali saya bertanya, sebab rasa penasaran yang luar biasa. “Murah mas.” “Murah?” “Ya, kita bikin kesan murah meriah.” “Padahal sebenarnya?” Terus dan terus saya bertanya. Hingga sampai pada satu pertanyaan…. ———TAMAT——–

Kategori:Uncategorized
  1. Bertong
    11 Maret 2015 pukul 10:16 am

    Benar Gan, berjualan produks berbahan air memang menguntungkan wis. Lha wong SDA itu bisa kita dapat dengan gretongan kok Gan. hak hak hak..

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: