SEPATU

Semenjak bisa beli sepatu sendiri, saya lebih senang beli sepatu kulit. Maksudnya, sepatu yang bahan dasarnya kulit. Entah kulit sapi, kulit kerbau, kulit macan atau bahkan kulit buaya. Yang penting bahan dasarnya kulit. Seingat saya, hingga kini saya belum pernah beli sepatu plastik atau kain.

Selainnya itu, saya lebih senang membeli sepatu di toko sepatu dan bukan di pasar tradisional. Terus terang “nyang-nyangan” (tawar-menawar harga) adalah hal yang paling sulit saya lakukan. Saya kurang pinter dalam hal yang satu itu. Harga pas kemudian menjadi pilihan. Tetapi begitu masuk toko sepatu, kembali saya kebingungan. Banyak sekali model dan jenis sepatu yang tersedia, semua-mua cantik rupanya. Ada yang bertali, ada pula yang berperekat. Ada yang tak bertali dan tak pula berperekat, tetapi berkain karet. Ada yang ujungnya runcing kyak sepatu durna, ada pula yang tumpul kayak sepatu tentara. Pokoknya werna-werna, cantik-cantik kesemuanya.

“Yang ini lho Mas, sangat cocok buat Anda”, kata seorang penjaga yang juga aduhai cantiknya. Lalu sepatu saya coba. Duh…indahnya.

“Atau itu lho Mas, pas buat anak muda seperti Anda”, kata yang empunya toko. Saya coba lagi. Ah, banyak sekali pilhan rupanya. Semuanya cantik-cantik, harga pas pula.

Masih kebingungan memilih, saya pulang saja akhirnya. Belum menjatuhkan pilihan. besoknya datang ke lain toko sepatu, kebingungan kembali melanda. Pilih yang mana ya? Berbulan atau bahkan bertahun-tahun saya memikirkannya. Uang sudah tersedia, pilihan yang ditawarkan juga banyak tak terkira. Tinggal tunjuk dan bilang “Itu, bungkus…!” begitu saja sulitnya luar binasa.

Sepatu sepak bola. Ya, meski ada yang terbuat dari kulit, saya belum pernah sekali pun membeli sepatu sepak bola. Lha buat apa? Sebab saya tak bisa bermain sepak bola. Tetapi, meski demikian, saya sangat senang menonton pertandingan sepak bola. “Bola yang telalu tajam” kata reporternya. Bola kok tajam? kata saya. Akhirnya gagal dieksekusi. Finishing atau eksekusi akhir ini yang sering jadi permasalahan utama dalam permainan sepak bola. Bola sudah di depan gawang, tinggal tendang dan “GOLLL…” tetapi seringkali gagal juga. Bahkan sang keeper sudah menantangnya, “Ayo Mas, masukkan bola itu ke gawangku”. Tetapi mental pemain kadang buruk juga. Eksekusi terakhir itu yang jadi permasalahannya.

Kembali ke sepatu tadi. Pada akhirnya saya menjatuhkan pilihan jga.
“Yang ukuran 41 ada Mbak?” tanya saya.
“Ini Mas, silahkan dicoba”. Ternyata sesak, terlalu sempit rasanya.
“Yang ukuran 42 saja Mbak”, kata saya meminta.
“Nggak apa-apa Mas, yang ukuran 41 saja. nanti lama-lama akan longgar juga jika sudah sering dipakai” kata sang penjaga. Dan benar juga rupanya. Setelah beberapa lama menemaniku, si sepatu itu enak kepenak juga dipakainya.

“Eh, Kawan, ternyata sekedar menjatuhkan pilihan itu butuh mental juara juga. Tentu tak hanya dalam memilih sepatu, tetapi juga dalam bermain bola. Tinggal eksekusi dan goll.. tetapi mengapa sulit juga dilakukannya?

Salam.🙂

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: