Beranda > Uncategorized > GRAFIK KEHIDUPAN MANUSIA

GRAFIK KEHIDUPAN MANUSIA

Grafik Kehidupan Manusia

1511198_467642990020703_1863897528_nPernah ada sebuah pertanyaan di status fb seorang teman yang kurang lebihnya begini, “mengapa kebanyakan politisi dan pejabat publik (dari ketua RT – Presiden) justru bukan berasal dari mantan aktifis mahasiswa? Kemana para aktifis itu sekarang bersembunyi?” Pertanyaan itu sebenarnya tidak terlalu istimewa buat saya, namun nampaknya menarik untuk dicermati. Sebagai bandingan, pernah juga (bahkan sering saya dengar) dan mungkin diantara pembeca juga termasuk yang bertanya seperti ini, “Si A itu dulu waktu sekolah gobloknya bukan main, kok sekarang malah sukses dan makin cerdas ya?” Atau pertanyaan sebaliknya, “Si B itu dulu waktu sekolah selalu berprestasi, nilainya bagus-bagus, disayang oleh para guru, tapi kok sekarang berbalik 10 derajat ya?” Nah, pernah Anda merasa keheranan seperti itu?

Jika benar ada yang demikian, kiranya kita tak perlu heran. Sebab begitulah hidup. Masing-masing kita memiliki grafik kehidupan yang berbeda-beda. Ada yang grafiknya naik, ada yang grafiknya turun, ada pula yang berbentuk gelombang sinusiodal. Ini berlaku untuk dan dalam hal apa saja. Kecerdasan, pergaulan, perekonomian, dan bahkan kecantikan/ketampanan. Ada orang yang tatkala sekolah di SD begitu cerdas, namun semakin tinggi tingkat pendidikan prestasinya makin menurun. Demikian pula sebaliknya. Ada juga yang tatkala sekolah begitu banyak digandrungi teman-temannya karena kecantikan/ketampanannya, namun begitu reuni hampir saja tak ada yang mengenalnya. Atau, ada yang sewaktu sekolah tak begitu terkenal karena terkesan bodoh dan kumal, namun setelah lulus Perguruan Tinggi prestasinya memuncak, kecerdasannya berlebih, dan penampilannya semakin bersih dan rapi. Teman-teman yang bahkan dulu tak mau mendekatinya kini jadi kedanan setengah mati. Pernahkah Anda menemukan kasus yang demikian? Saya yakin jamak kita temui.

Setiap orang akan punya momentum untuk bisa berubah. Momentum itu bisa datang kapan saja, di mana saja dan dari mana saja dengan arah yang tidak disangka-sangka. Bisa jadi seseorang tiba-tiba rajin membaca buku karena gelagepan saat diajak berdiskusi dengan teman yang di’taksir’nya. Demi menjaga gengsi dan capaian lain, dia mati-matian mencari referensi sebanyak mungkin demi sebuah kata layak untuk bersanding. Ada juga yang dulunya ogah-ogahan belajar, namun saat hendak Ujian Nasional menjadi begitu rajin demi menandingi teman yang diincarnya. Tak hanya demikian, ada juga orang yang menjadi turun grafiknya karena kesalahan momentum. Yang dulunya begitu rajin belajar tiba-tiba saja menjadi malas-malasan hanya karena hal sepele.

Menyadari hal yang demikian, maka tak perlu heran kiranya jika ada mantan aktifis yang hilang dari peredaran bagai lenyap ditelan bumi, tetapi justru yang dulunya tak begitu tampak kini menjadi publik figur. Semua biasa saja adanya saya kira. Masih ingatkah Anda dengan hukum Gossen? Saya kira itu tak hanya berlaku bagi makanan saja. Pada keaadaan lain, hukum Gossen bisa jadi diberlakukan juga. Karena terlalu banyak ditekan untuk belajar dan berprestasi ketika masih kanak-kanak, bisa jadi prestasinya makin lama makin menurun karena sudah mencapai taraf bosan belajar dan berprestasi di usia remaja dan dewasanya.

Juga dalam berorganisasi. Saya pernah punya seorang teman kuliah yang begitu pandai menyusun kalimat dan program kerja, namun karena sudah bosen berorganisasi sejak dari SMP hingga SMA maka fokus di perguruan tinggi sudah berbeda arahnya; Bukan berorganisasi lagi, namun berusaha mencapai nilai yang tinggi. Ada juga teman yang saat SMP dan SMA suka plegak-pleguk tak bisa bicara, begitu digembleng di perguruan tinggi kemampuan agitasinya semakin menggila. Yang demikian ini, bisa jadi mengalami tingkat kebosanan saat dia sudah jadi sarjana karena fokus yang berbeda. Sekarang saatnya menata diri dan keluarga, mngkin begitu pikirnya. Dia sudah bosen menjadi idola teman-temannya saat masih menjadi mahasiswa. menjadi orang terkenal begitu-begitu juga rasanya. Ah, saya tak bangga. Hahaha…

Kembali ke pertanyaan teman fb di atas, tentang aktifis mahasiswa. Saya sendiri justru sepakat ketika banyak aktifis mahasiswa yang akhirnya kembali ke masyarakat biasa saja. Mahasiswa adalah anak muda, penuh idealisme semata. Tak ada tendensi dalam perjuangannya, semua berdasar nurani yang bersih semata. Yang sekiranya buruk di matanya, lawan! Hadang! hajar…! Sebab mahasiswa adalah manusia merdeka. Tatkala menjadi politisi dan pejabat publik, yakin jangkauannya sudah berbeda. harta, pangkat dan kekayaan bisa jadi menjadi tujuan utama. Dan itu yang dibenci mahasiswa, manusia dengan idealisme yang nyata.

Maka kepada kita-kita, mari jangan asal menilai dan mencela. terutama para guru, jangan suka menfonis siswa. Sebab pengalaman dan fakta sudah banyak yang berbicara. Siswa yang dulunya culun dan biasa-biasa saja, kini prestasinya sungguh tak disangka. berbuat adil adalah yang utama. Semua peserta didik memiliki hak yang sma; hak untuk diperhatikan, hak untuk disayang, hak untuk mendapat pengajaran dan lain sebagainya.

Itu.🙂

Kategori:Uncategorized
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: