Beranda > puisi, Uncategorized > PAGI SEGALA MUSIM

PAGI SEGALA MUSIM

IMG01552-20140117-1421Pagi Segala Musim adalah buku kumpulan puisi. Sementara, buku itulah yang terakhir aku beli. Entah sudah berapa pekan, belum tuntas juga aku membacanya. Ini jelas, sebab secara saya adalah orang yang bukan sastrawan, membaca kumpulan puisi harus menuruti hati. Tak setiap saat hati ini mau diajak untuk membaca puisi. Jika lagi longgar, kubuka buku itu. Tapi tentu, banyak tidaknya ketimbang longgarnya. Maka entah, membaca buku itu kapan kelarnya.

Buku karya Arik S. wartono setebal 118+xii halaman itu ada 50 judul puisi di dalamnya, dibagi dalam 5 tema; PAGI, SENJA, MALAM, HUJAN, LURUH dan BIODATA. Oh, maaf, yang terakhir itu biodata penulis maksud saya. Jadi bukan termasuk tema puisinya. Masing-masing tema berisi 10 judul puisi. Maka 5 x 10 = 50. Membaca 50 judul puisi tentu bukan pekerjaan mudah. Terlebih bagi saya yang, sekali lagi, babar blass tak paham sastra karena memang bukan sastrawan. Tetapi asyik saja. Sebab keyakinan saya, puisi bukan hanya milik para penyair. Siapa pun, boleh memilikinya, boleh membacanya, boleh memaknainya sesuka hati. Seperti Pagi Segala Musim yang saya pegang ini. Saya berhak menyetubuhi sesuka hati.

PAGI SEGALA MUSIM

Demi pagi yang merawat harum bunga-bunga
engkaulah kekasih dalam puisi

seperti hari-hari kemarin
di sini aku tunggui subuh menuai cahaya
saat fajar berbagi kilau embun
pada daun dan rumput

engkaukah itu yang gemerisik di balik semak?
mengapa tidak keluar saja, kemari bersamaku
nikmati bulan terlambat pulang, pagi ini

musim terus berganti
tapi aku tetap di sini

seperti hari-hari kemarin
matahari berpendaran pagi ini
bunga-bunga paling menyambutnya
mekar merekah seperti bahagia
kupu-kupu memulai tugasnya
dan aku.. menyaksikan semua ini
dalam debar secukupnya

aduh, kupu-kupu sobek ujung sayapnya
miring terbangnya, alangkah miris
entah bagaimana ia melewati musim ini

dari kadal dan burung-burung
aku kirim doa untuknya
(aku harap kamu juga)

tapi pagi kemarin
dirimu terisak di pundak angin
senja membawamu pergi
pohon-pohon bersedih
rerantingnya hitam

: ada yang merampok wangi bunga-bunga

Aku bermohon musim ini
subuh mengendapkan dirimu
turun, seperti embun
lalu membawa beningnya ke matahari

tak kan terhenti musim menabur dan menuai..

Gresik, 12 September 2011

Puisi itu, yang juga menjadi judul buku, termuat di halaman 5. Indah sekali bukan? Indah? Di mana letak keindahannya? entahlah… kalau pun dipaksa menerangkan di mana letak keindahannya, hingga kiamat juga saya tak akan mampu mengungkapkan nampaknya. Seperti juga keindahan bunga, saya begitu saja spontan menikmatinya. Puisi itu, begitu saya membaca bait pertama;

Demi pagi yang merawat harum bunga-bunga
engkaulah kekasih dalam puisi

Saya sudah merasakan keindahan untaian kalimatnya. Dan entah, tiba-tiba saya teringat kalimat ini, “Demi matahari dan sinarnya di pagi hari…” Demi itu ungkapan sumpah, lalu siapa yang merawah harum bunga-bunga? Dialah sang kekasih dalam diri. Dia yang telah mengilhamkan sukma keburukan dan kebajikan.

Seperti hari-hari kemarin, pada bait selanjutnya yang terdiri dari 4 baris itu, membawa saya ke gambaran seseorang yang entah duduk entah jongkok, tetapi hanya berdiam diri menunggu datangnya pagi dan pagi lagi. Begitu seterusnya dalam setiap hari-hari yang dilalui umurnya. Lalu ada yang bergerak menimbulkan berisik di balik semak. Siapa engkau? mari nikmati pagi sembari menertawai bulan yang kesiangan. Inilah perumpamaan, metafora atau entah apa istilahnya. Memang puisi yang bagus harus penuh majas. Saya membacanya sebagai isyarat, bahwa hati telah mulai terusik. Bergantung manusianya, mau beranjak atau tidak dari kedudukannya.

Musim terus berganti
tetapi aku masih di sini.

Usikan yang belum menghasilkan. Sebab waktu terus berjalan, musim berganti, tetapi manusia tak mau beranjak juga. Tetap bertahan pada kedudukannya. Maka rugilah kita, manusia. Sebab sudah diberi usikan, peringatan, masih belum mau beranjak ke kebaikan juga. Rugi karena masih sama antara hari ini dengan hari kemarin.”… Rugilah yang mengotorinya”.

~bersambung.
#sebab lelah juga menulis bak sastrawan. salam..

Kategori:puisi, Uncategorized
  1. 14 Februari 2014 pukul 6:05 pm

    sepertinya menarik mas buku nya. Konten nya tentang kumpulan puisi. Bisa buat contekan kalau mau bikin puisi ya hehe:mrgreen:

    • 15 Februari 2014 pukul 8:07 pm

      Semua buku yang saya beli pasti menarik, mbak Rini. Nah kalau masalah puisi, saya bisa request langsung ke Mas SG jika membutuhkan.🙂

  2. 19 Februari 2014 pukul 7:58 pm

    I am truly happy to read this web site posts which carries tons of useful facts, thanks for providing such information.

  3. 1 Juni 2014 pukul 9:35 pm

    Bisa dijadikan referensi kan mas heehee, soalnya saya tidak begitu hebat membuat puisi

  4. 1 Juni 2014 pukul 9:36 pm

    Saya tertarik sekali membaca puisi yang berjudul Puisi segala musim, terima kasih mas

  5. Aral
    9 Februari 2015 pukul 11:16 am

    wah.. super… keren sekali mas.. boleh saya belajar sama sampeyan nih hahahahah

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: