LAWAN

Entah apa penyebabnya, tiba-tiba saja saya tertarik untuk mencari arti kata “lawan”. Ya, saya tertarik. Entah siapa yang menarik saya, yang jelas itu ada; buktinya saya tertarik. Sekuat tenaga saya berusaha melawan tarikan itu. Melawan untuk tidak tertarik mencari kata “lawan”. Aneh, semakin kuat saya melawan, makin kuat pula ia menarik saya. Saya pun menyerah, tak lagi mengadakan perlawanan, ketertarikan itu saya abaikan, saya anggap tidak ada saja. Keanehan itu datang lagi, sebab tiba-tiba pula saya tak tertarik lagi. Rasa tertarik itu tiba-tiba hilang, karena saya menganggapnya tak pernah ada. Kesimpulan saya, saat saya menyatakan diri untuk melawan sesuatu maka dengan sendirinya saya mengakui eksistensi sesuatu itu. Semakin kuat saya melawan, semakin kuat pula dia bergaya. Mungkin ini yang dimaksut hukum aksi-reaksi.

Setiap yang ada akan senantiasa mempertahankan kedudukannya dengan melawan entah seberapa besar gaya luar yang mengusiknya. Ini sunatullah, hukum alam istilah lainnya. Hukum kelembaman atau inertia, disebut begitu juga sah-sah saja. Semua bergantung besar kecilnya massa dan gaya. Semakin banyak massanya, semakin besar pula kemungkinan untuk bergaya. Artinya nggaya itu berbanding lurus dengan jumlah massa. Kecil kemungkinan sesuatu, maksud saya seseorang, yang tak punya massa berani untuk bergaya. Tetapi sebentar, sebab ada pula kejadian yang disebut sebagai anomali. Sudah sendirian (dalam arti tak punya massa), jelek, ungkris-ungkrisen, goblok tapi tetap juga nggaya. Sebut saya ia, massa allah, benerbener ndableg namanya. Apapun keadaanya, yang penting nggaya.๐Ÿ˜ฎ

Nggaya itu bisa menarik dan bisa juga menekan, demi mengubah arah dan kedudukan. Setiap yang kena gaya pasti akan melawan, setidaknya mempertahankan kedudukan. Untuk massa yang besar, usikan dari gaya yang kecil bisa dinggap tidak ada saja. Atau bisa jadi, justru yang kecil itu yang ganti akan dilindasnya. Jika sudah begitu, maka siap yang menindas dan siapa yang tertindas? Pilihan kata “lawan” sungguh mengerikan. Sebab tadi, berbalik arah bisa jadi. Yang tadinya melawan justru berubah jadi penyerang. Maka saya lebih memilih kata “mengimbangi”. Melawan gaya dengan gaya yang besarnya sama. Ini sama saja artinya tak ada gaya yang bekerja. Tak ada tarikan, tekanan, apalagi gesekan. Sebab gayanya menjadi nol.

Lawan! Begitu lantang teriakan itu. Siapa yang akan dilawan, tentu saja yang menarik atau menekan. Tak harus bersinggungan, tak musti bermusuhan. Melawan bisa jadi bisa saling menguatkan. Menguatkan eksistensi, mengakui keberadaan. Saya tidak tersinggung, sebab saya bukan sastrawan. Kawan, air laut dan bulan juga tak sekalipun pernah bersinggungan. Tetapi saat purnama, mengapa laut tiba-tiba pasang?

Melawan, bukan memusuhi. Melawan itu cukup dengan mengimbangi. Menahan gaya dengan gaya yang besarnya sama. Tak perlu memberi yang lebih besar lagi, sebab nanti kita bisa jadi justru bertukar posisi. Melawan itu mengakui, menemani, mengimbangi, menyamai. Maaf, saya tidak melawan sebab keberadaannya tak pernah saya akui.๐Ÿ™‚

saya tidak menarik, janganlah saya dilawan
saya tidak menekan, janganlah saya dilawan
saya tidak menyerang, jangan saya dilawan.

engkau bergaya, saya melawan.๐Ÿ˜€

  1. 22 Januari 2014 pukul 2:15 am

    ‘lawan’ bisa juga berarti bertahan untuk melawan ketidakadilan.๐Ÿ˜€

    • 25 Januari 2014 pukul 3:13 pm

      Benar Mas, dan lawan tidak selalu berarti musuh.๐Ÿ™‚

      matur nuwun kunjungannya.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: