Beranda > motivasi, puisi, Uncategorized > PENYAIR SS (SITOK SRENGENGE) KESANDUNG BATU

PENYAIR SS (SITOK SRENGENGE) KESANDUNG BATU

Foto3484Penyair kondang asal Bantul, Yogyakarta yang pernah memerankan tokoh Ahmad Dahlan dalam film Sang Pencerah itu kesandung batu. Ya, Sitok Srengenge (SS) dilaporkan oleh seorang Mahasiswi UI yang mengaku telah diperkosa beberapa kali oleh Sitok hingga hamil 7 bulan pada hari kemarin, Jumat 29 Nopember 2013.

Saya belum bisa menulis banyak tentang kejadian ini, sebab lagi banyak gawean. Yang jelas, beberapa hari ini SS tidak nampak di akun facebook miliknya. Setelah banyak muncul pertanyaan dari banyak kawan pegiat sastra, maka terjawab sudah pertanyaan itu. Istri Sitok srengenge, Farah Maulida, mengungkap fakta tersebut. Inilah yang diungkapkannya, “Teman-teman, saya sudah tahu masalah ini sejak 7 November saat ada teman aktivis yang menelpon saya. Saat itu juga saya cross check kebenarannya kepada Mas Sitok Srengenge dan Mas Sitok tidak menyangkal dan siap bertanggung jawab, dan sebagai istri yang mencintai dia saya akan terus ada di sampingnya.” ~Farah Maulida

Maka begitulah. Laki-laki, seringkali sukses menghadapi godaan lain. Tetapi jika sudah dihadapkan dengan isi rok mini, dia seringkali gagal. Tak peduli entah sebagai apa pun dirinya.

Berikut saya Copas prosa karya Sitok Srengenge yang paling baru;

Matahari & Bulan
by; SS

Siang-malam berjalan di langit sendirian, Matahari merasa kian kesepian. Ia ingin punya teman. Lalu ia berjalan lebih jauh ke utara. Di sana ia melihat Gletser sedang telentang, istirahat di pinggang Pegunungan. Itulah hal paling indah yang pernah dilihatnya.

Sejak itu, diam-diam Matahari sering datang ke utara dan menghabiskan waktu lebih lama hanya untuk memandang Gletser memeluk Pegunungan, menghampar hingga kecakrawala. Suatu kali Matahari mendengar Pegunungan mengadu kepada Gletser, “Tahukah kau, Gletser, bahwa Matahari gemar sembunyi di balik punggungku sambil memandangimu dari jauhan?” Matahari tak kuasa menahan malu. Ia lantas lari menjauh, tak ingin Gletser marah karena ulahnya.

“Hei, Matahari,” teriak Gletser. “Mendekatlah ke mari, agar aku bisa melihat wajahmu.” Di luar dugaannya, ternyata Gletser tidak marah. Wajah Matahari pun seketika berubah cerah. Pegunungan meminta Matahari naik ke atas punggungnya agar terlihat lebih jelas. Namun, Gletser tetap tak bisa melihat wajah Matahari. Ia lantas melompat ke langit dan menggumpal menjadi Bulan.

Alangkah bahagia hati Matahari. Kini ia punya teman. Ia tak lagi kesepian. Ia pun membangun rumah di langit, agar Bulan bisa tinggal bersamanya. Di rumah itu mereka berdua sering menari bersama. Tiap hari mereka memancarkan kebahagiaan ke dunia dengan iringan senandung lagu cinta.

Tapi, suatu hari, Bulan merindukan Pegunungan serta pelukan lembah yang hangat dan bersahabat. “Aku mencintaimu , dan aku senang menari di langit bersamamu,” katanya kepada Matahari. “Tapi aku tak sanggup menanggung rinduku kepada mereka. Aku akan kembali menemui mereka.”

“Maafkan aku,” kata Matahari. “Aku tak akan mencegahmu, tapi kau tak bisa kembali. Kau bukan lagi Gletser yang dulu. Kau sekarang Bulan. Kau tak bisa kembali ke Pegunungan.”

Bulan berurai air mata. “Biarkan aku mencoba. Jangan berpikir bahwa aku lebih mencintai Pegunungan daripada kau.Tapi aku harus turun, aku harus melakukannya.”

“Aku mengerti,” jawab Matahari, lirih. “Aku akan melepasmu, tapi tak akan kubiarkan kau meninggalkan hatiku. Ya, hatiku selalu terbuka untukmu. Kapan saja kau tak sanggup melanjutkan perjalananmu, berbaliklah dan kembali padaku.”

Begitulah, tiap hari ketika Bulan mencoba merendah demi menggapai Pegunungan, Matahari selalu berada di belakangnya. Matahari tak akan pernah berhenti mengikuti Bulan.Tak akan.

(Diceritakan kembali dari dongeng anonim)

PLEDOI CINTA RAHWANA
Puisi Sitok Srengenge

Di Rimba Dandaka, di kelam yang kekal
senantiasa ada percik cahaya secerlang bintang zohal
Juga di hatiku, Sita, hati yang diselubungi seribu malam
dan digelorakan angin sakal

Aku tahu, itulah cahaya dari ruang paling purba
—di mana kau dan aku telah bersua
sebelum terlahir sebagai manusia

di Rimba Dandaka, Sita
telah kauhadapi genangan sunyi
Sunyi yang tak tertepis oleh dekapan kekasih
karena kesunyianmu abadi
berasal dari kesenyapan kata-kata Mahadewa
ketika ia bersabda tentang cinta
: cinta yang melahirkan kita
cinta yang mengukir dan mewarnai dunia

Mencintaimu adalah mencintai bumi
sebab dalam dirimu tersimpan magma, bara abadi
yang meski begitu dalam terpendam
—tak akan padam
Kerut-merut kulitmu bagai lekuk-liku sungai
mengalir jauh mencari muara
menghanyutkan hasrat dan harapku ke samudera cinta

Kurun demi kurun menguap bagai fatamorgana, dua belas tahun Sita!
Dua belas tahun aku merayu, merajuk, mendamba cinta
Kini aku tahu: harapan membuatku bertahan dari rasa sia-sia
tapi juga sekaligus memperpanjang derita

Telah kuatasi derita dari rasa takut, lapar, dan wabah
kutaklukkan dewa-dewa, segala makhluk liar dan dedemit bawah tanah
Tak kusangka, deritaku justru mengada dari cinta

Tapi bukan itu yang merisaukanku
barangkali karena cinta membuatku lebih hidup
dan itu lebih bermakna dibanding hidup tanpa cinta
Keagungan cinta tak bisa dinilai dari pemilikannya
tapi bagaimana ia diperjuangkan dan dijaga

Itulah yang kulakukan, Sita
memperjuangkan dan menjaga cintaku kepadamu

Mahadewa mencipta hutan, aku membuat taman
Maka dari Rimba Dandaka kuboyong kau ke Taman Asoka
demi melindungimu dari keluhuran palsu
yang kelak menistakanmu

Kau tahu, kekasihku
seluruh peradaban ini—sebelum dibentuk dan diarahkan
oleh kesadaran pikiran, lebih dulu digerakkan naluri
Akulah gerak naluri itu, gerak murni
yang hendak menentukan arahnya sendiri

Rama menyerbu Alengka bukan semata untuk merebutmu kembali
tapi terutama demi menjaga wibawa dan nama baiknya sendiri
aku hadapi amarah prajurit Kiskenda dan Ayodya
sebagai risiko atas pilihanku, perjuangan cintaku
Rama mengerahkan balatentara karena ia pamer kuasa
aku bersedia tumpas tanpa melibatkan siapa pun
Mereka yang gugur di pihakku
semata berperang demi mempertahankan negeri yang diserbu
Rama memilihmu karena ingin memiliki dan menguasaimu
aku mencintaimu sebagai pelaksanaan takdirku

Maka kusambut panggilan takdir itu
dengan hanya satu kesimpulan:
Rahwana berjaya di atas atau tersungkur tumpas
sama-sama jadi penentu:
betapa besar dan mutlak cintaku padamu

Pada hari terakhir perang agung itu, Sita
dengan kereta yang dihela delapan kuda, kusongsong ajalku
Matahari ditelan gerhana
jagat sekelam nasib buruk yang menghadangku
tapi aku tak peduli, karena cintaku padamu suci
bahkan tak akan lunas jika ditebus dengan mati

Sampai panah ciptaan Brahma itu
menembus dadaku, mengoyak kalbuku
bagian paling kulindungi karena di situ bersemayam cintaku
Kusaksikan darahku tercurah, lalu menggumpal beku
seperti tinta yang mendadak tak lagi basah
lantaran tak cukup menulis rinduku padamu

Kenangkanlah Sita, betapa pada detik terakhir menjelang ajalku
semesta gelap gulita. Segala sirna. Hanya wajahmu
semata-mata wajahmu
yang tetap membayang di pelupuk mataku

Daun-daun di Rimba Dandaka gugur
bunga-bunga di Taman Asoka gugur
Alengka runtuh
Rahwana rubuh
tapi tidak cintaku, Sita
cintaku padamu tegak dan baka
terus tumbuh, berbiak berjuta cerita

2013

Kedua karya yang banyak mendapat pujian beberapa sastrawan dan penyair itu ternyata adalah gambaran kisah nyata. Hebatnya, puisi pledoi cinta bahkan sempat dibacakan di RRI Semarang. Penyair kondang, sedang kesandung batu; Sitok Srengenge.
Salam.

  1. 30 November 2013 pukul 6:47 am

    Setahuku pemeran Ahmad Dahlan itu Lukman Sardi?
    Wah kacau nih SS, terpleset juga sama wanita.

    • 1 Desember 2013 pukul 10:26 am

      Benar Mas, terima kasih koreksinya. Agak lupa, nampaknya Mas Sitok memerankan Sultan Hamengkubuwono, dan bukan Ahmad Dahlan.

      Salam.

  2. Tum
    14 Desember 2013 pukul 8:21 am

    “Selamat pagi, Pak Guru…”

    • 15 Desember 2013 pukul 11:24 am

      Pagi Mas Sulistum..
      wah.. telat nih ngresponnya. Sehat Mas Sulis??

      • Tum
        15 Desember 2013 pukul 1:21 pm

        sehat, pak guru, bantul masih projotamansari?

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: