Beranda > catatan harian, motivasi, Uncategorized > Menulis Hal Yang Nggak Penting dan Tak Perlu Ditulis

Menulis Hal Yang Nggak Penting dan Tak Perlu Ditulis

Pelukah menulis hal yang tak penting untuk ditulis dan tak perlu ditulis? Perlu! jawab saya. hehe..

Contohnya? Banyak yang bisa diambil sebagai contoh. Tetapi sebelum saya memberikan sedikit contoh, ada baiknya tilik dulu apa yang sering kita pikirkan sebelum menuliskan sesuatu di media wordpress ini. Oh, bukan hanya di wordpress, tapi bisa juga di media sosial lainnya seperti menulis status di febuk misalnya. Apa yang Anda pikirkan? Begitu salah satu pertanyaan yang diajukan fesbuk. Pertanyaan yang cerdas menurut saya.

Sebenarnya banyak hal yang bisa kita tulis di sini, namun saya yakin kita akan bertanya kepada diri kita terlebih dahulu sebelum menuliskannya dengan pertanyaan ini; “Apa manfaat dari tulisan saya nanti?” atau, “Pantaskah hal ini saya tuliskan?” atau, “Tertarikkah orang lain dengan tulisan saya nanti?” dan lain-lain banyak pertanyaan lagi.

Jika kita mau, sebenarnya bahkan setiap hari kita bisa menulis tentang banyak hal. Tentang perayaan hari kemerdekaan negara kita, atau tentang libur lebaran misalnya. Menarikkah dua tema tersebut? Bergantung! kata saya. hehe..

Eh, Kawan. Begini, selama libur lebaran kemarin, seperti halnya para perantau yang lain, saya juga ikut-ikutan mudik ke kampung halaman. Kurang lebih 2 minggu saya tinggalkan rumah hunian saya, demi menjalin silaturahim dengan sanak-saudara di kampung, juga sungkem kepada kedua orang tua yang Alhamdulillah masih sehat wal afiat. Artinya selama 2 minggu pula hewan-hewan piaraan saya terpaksa saya tinggalkan dan saya titipkan kepada seorang tetangga. Sebagai pencinta binatang, tentu pikiran saya tak bisa tenang. Bagaimana nasib Ayam-ayam hutan yang bejibun jumlahnya dalam perawatan orang yang bukan biasanya? bagaimana musang, kura-kura, ayam ketawa, poland, dan masih banyak piaraan lainnya selama saya tinggalkan? duuhh…

Dan ternyata benar. Selama saya tinggalkan, mereka salah perawatan. Hampir semua Ayam Hutan saya rusak. Ada 3 ekor yang mati dimakan musang, tersebab orang yang saya kasih amanah tak bisa merawatnya dengan baik. Musang lepas dibiarkannya saja karena takut menangkap dan memasukkan lagi ke kandangnya, padahal musang piaraan saya itu sudah jinak total. Tak akan menggigit si pemberi makan.

Rumah kotor diacak-acak si Musang. Beberapa Ayam Hutan Hijau juga lepas dan buang kotoran sembarangan di dalam rumah. Maka tak boleh capek, tak ada kata lelah. harus bersih-bersih rumah, kembali merawat banyak piaraan. Beli pisang sebagor, susu beberapa kotak untuk musang, voer, beras merah, jagung giling dan lain-lain ntuk ayam, juga akari untuk kura-kura dan beberapa jenis ikan lainnya. Padahal stok yang saya sediakan sebelum pulang lebaran mestinya sudah mencukupi. hiks.

Lalu membersihkan rumah, merawat tempat tinggal kita. Apakah Anda termasuk rajin atau malas membersihkan rumah? hehe. nggak penting ah. Sesuatu yang nggak oenting rasanya memang nggak perlu dan tak begitu penting untuk dituliskan. Ya kan?

Salam.

  1. 19 Agustus 2013 pukul 5:43 am

    He he heeee, tulisan ringan yang indah dan menggelitik ruang permenungan. Sesuatu yang barangkali nggak begitu penting bisa jadi amat penting setelah diolah oleh pemena yang cerdas. Mohon ijin saya ‘kopas’ njih, Pak Suko Rahadi. Salam santun pagi.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: