LUPA

Lupa adalah augerah teramat indah yang dikaruniakan Tuhan kepada manusia. Bisa dibayangkan jika kita tidak dianugerahi sifat lupa. Segala kejadian semenjak kita dilahirkan hingga sekarang teringat terus. Bisa jadi kita tak pernah bisa merasakan lezatnya masakan yang tersaji di depan kita. Itu jelas, sebab baru saja menyentuh makanan,kita teringa akan kejadian-kejadian menjijikkan yang membuat perut mual dan muntah. Tetapi kejadian dalam hidup tak semuanya buruk. Maka bisa jadikita akan tertawa-tawa tanpa henti karena selalu teringat kejadian yang menggelikan tanpa pernah terlupakan. Sungguh Tuhan Maha Bijaksana.

Lupa adalah anugerah luar biasa. Karena lupa adalah sifat manusia, maka menjadi tugas antar manusia untuk saling mengingatkan. Seorang khotib akan senantiasa mengingatkan jamaah sholat jum’ah untuk senantiasa meningkatkan iman dan taqwa. Namun demikianlah; dari mimbar diingatkan, belum sampai di rumah lupa kembali.

Tetapi lupa mungkin juga ada tingkatannya. terhadap rumus yang banyak sekali saya juga seringkali lupa untuk mengingatnya. Tetapi tentang tangan kanan dan kiri, terus terang, sepertinya saya belum pernah lupa. Sebab sepatu atau sendal jepit saya ternyata belum pernah kebalik kanan kirinya. Lupa juga bisa datang sewaktu-waktu. Jelas-jelas kaca mata menempel di ubun-ubun, seseorang pernah kebingungan mencari dan bertanya kepada semua orang di mana kaca matanya. Berangkat ke kantor mengenakan sendal jepit, disangkanya sudah bersepatu. Maka sopir harus mengantarnya pulang ganti sepatu. Sampai di rumah berganti baju, tak mengganti sendal dengan sepatu. Kalau tingkatan sudah mencapai stadium itu, linglung atau apalah istilahnya, saya juga lupa. Sebab bahkan masalah sudah berbuka puasa apa belum hari ini, saya juga sudah lupa.

Tetapi inilah kejadian tentang lupa yang menggelikan. Ini nyata, meski ceritanya mirip sebuah legenda. Tersebutlah saya punya seorang sahabat, Aras Sandi namanya. Konon, menurut cerita para tetangga, semenjak kelahirannya sahabat saya itu telah diberi seekor burung. Begitulah legenda. Tak diketahui dari mana burung itu berasal. Yang jelas burungnya berukuran kecil, dan waktu itu masih baru saja keluar sarang.Para tetangga paham betul itu adalah sejenis burung finc, si burung emprit. Pun bukan burung emprit gunung yang menawan warna dan suaranya, tetapi emprit gantil yang senangnya menggantil di dahan kecil. Sarangnya juga menggantung, dan mungkin karena itulah disebutnya emprit gantil.

Tetapi begitulah lupa. Ya, sepertinya sahabat saya itu lupa akan jenis burung yang dimilikinya. Beberapa waktu yang lalu saya bertemu sahabat AS itu, dan dikatakannya bahwa dia memiliki seekor burung elang, sejenis burung garuda yang gagah perkasa. Dan saya hanya tertawa. Sebab menurut kesaksian para tetangga, burung itu seringkali diumbar di depan rumah saat pagi dan sore. Dia tetap menggantil, pun ukurannya hanya kecil. Bahkan membikin sarangnya sendiri juga belum bisa terlaksana hingga kini.

Terus terang saya kebingungan tentang bagaimana cara mengingatkannya. Sebab ini persis cerita legenda.

  1. 7 Agustus 2013 pukul 1:08 am

    nice post,Pak.. saya juga lupa kapan terakhir kali saya ke sini…soale agak lama semaput nih…

    salam.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: