Beranda > catatan harian, cerpen, motivasi, Uncategorized > MELUKIS WAJAH PACARKU

MELUKIS WAJAH PACARKU

lukis wajahPelukis. Ya, waktu masih sekolah dasar dahulu saya pernah bercita-cita ingin menjadi seorang pelukis. Seringkali aku melukis wajah pacarku. Meski tak pernah punya pacar, tak apalah aku katakan begitu. Mengenakan topi, ke mana-mana membawa peralatan lukis, pakaian nyentrik dan lain-lain. Saya memang gemar melukis, waktu itu. Bahkan buku-buku saya penuh dengan gambar ketimbang catatan pelajaran. Ada gambar pemandangan, dengan ciri khas dua gunung yang menjulang dan tiang listrik yang berjajar di pinggir jalan. Lalu sawah-sawah. Tetapi aku paling senang, entah kenapa, menggambar dua orang laki-laki dan perempuan yang berjalan beriringan. Si laki-laki memikul dua kerangjang depan dan belakang, sedang si perempuan (istrinya) menggendong tenggok di punggungnya.

Kegemaran menggambar berlanjut hingga Sekolah menengah Pertama (SMP). Di SMP saya lebih senang menggambar sawah dengan sebuah bendungan pembagi air di antaranya, serta gambar-gambar bangunan; entah masjid, gereja, atau bahkan rumah di pinggir sawah. Menggambar pohon aku juga sangan senang. Tapi biasanya yang aku perjelas adalah tonggaknya, yang lengkap dengan akarnya yang menyembul ke permukaan tanah. Contohnya akar pohon gayam. Pasti pembaca banyak yang belum paham tentang pohon gayam. hehe..

Di SMP nilai menggambar dan ketrampilan di rapotku selalu 9. Tak pernah kurang dari angka itu. Namun nilai mata pelajaran lain, jangan tanya, untuk mendapat nilai 7 saja sulit luar biasa. Hebat bukan, kawanmu ini?πŸ˜€

Tapi, tak masalah. Lukisanku ternyata mampu membentuk raut wajah muka gantengku. Sebuah lukisan gereja di pinggir sawah yang berdampingan dengan sebuah pohon besar, masih menghiasi dinding sekolah hingga kini. Tak hanya itu, aku pernah menjuarai lomba lukis tingkat kampung. wkwkwk.. bukan ding, tingkat kabupaten maksud saya.πŸ˜›

Ketrampilan tangan baik dengan kertas, bambu, kayu, maupun tanah liat aku juga mumpuni. HHasil pahatanku berupa asbak tempat puntung rokok masih menghiasi kamar tamu orang tuaku hingga kini. Konon asbak itu pernah ditawar orang seharga 5.000.000,- rupiah oleh seorang tamu. Tapi oleh bapakku tak diperbolehkan. Saya sungguh menyesal, sebab tawaran itu hanya ada dalam mimpi. Hahaha…

Selepas SMP saya hendak mendaftar SMSR (Sekolah Menengah Seni Rupa) di Jogjakarta. Tetapi bapak dan simbokku tidak mendukung keinginanku. Aku disuruh mendaftar sekolah umum (SMA) saja. Tentu aku menurut kemauan mereka. Simbokku mengira bahwa seniman selalu berpakaian semaunya. Lusuh, rambut gimbal, tak pernah mandi. Itulah kejujuran seniman.

Jiwa seniku seakan tak pernah padam. Seluu SMA, atas biaya sendiri, aku mencoba mendaftar ke ISI (Institut Seni Indonesia) jurusan Diskomvis (Disain Komunikasi Visual). Aku pontang-panting ke sana kemari belajar pada orang-orang seni. Tentang pengetahuan seni, tentang test masuk ISI. Lagi-lagi gagal. Nasibku bukan di tangan seniman. Kini aku tak nyeni lagi. Tetapi memahat, oh, itu pekerjaan paling aku sukai. Telah banyak aku pahatkan namaku di hati para perempuan cantik. hihihi…

Ini lukisan ngawurku tadi malam, wajah seorang perempuan. Aku melukis wajah pacarku. Dalam bayangan.πŸ˜€
Foto3272

  1. 6 Juli 2013 pukul 6:33 am

    Kunjungan perdana,,, menarik!!!

    • 6 Juli 2013 pukul 11:57 am

      Terima kasih Mas, nanti saya kunjungi balik.πŸ™‚

      • 6 Juli 2013 pukul 12:26 pm

        mhon bimbingannya,, sya org baru,,, ga bisa apa,,, hehehπŸ™‚

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: