Beranda > catatan harian, cerpen, puisi, Uncategorized > Beberapa Puisi Asal Puisi, Prosa Asal Prosa

Beberapa Puisi Asal Puisi, Prosa Asal Prosa

/1/
BALADA
Lelaki Muda
dua puluh tujuh umurnya
jelek rupanya, miskin hidupnya
setiap wanita menolak cintanya.
aku akan pergi saja, mama.
lalu pergi ia ke sEbuah kota
meninggalkan tempat kelahirannya.
Lelaki muda, kuat tekatnya.
batu penghalang ditendangnya
matahari pun ditantangnya.
lelaki muda.

/2/
DI PERJALANAN

di sepanjang perjalanan
mataku melirik kiri dan kanan
kulihat pakaian-pakaian kumal
bergelantungan di pinggir jalan.
kulihat pula pakaian mewah bergelantungan
di etalase toko pinggir jalan.
tapi orang-orang di sepanjang jalan.
banyak yang tak mengenakan
;pakaian.

/3/
bahuku ditepuknya.
lalu dia mengingatkanku
;Kau telah gila, katanya.
apa urusanmu, tanyaku.
kau gila, katanya lagi.
kau lebih, kataku.
Tidak! katanya
O, jadi kau hanya bisa berkata
;TIDAK!?

/4/
TEKUKUR

Tekukur kuk tekukur kuk
berbunyi nyaring burung tekukur
mengusik tuannya yang tidur mendengkur.
tekukur kuk tekukur kuk
nyaring suara burung tekukur
hati tuannya serasa diketuk
hari tlah pagi, Tuan
apakah tuan kelelahan?
sejak kemarin aku
belum Tuan asih makan.

/5/
CEMANI

aku sedang makan sop hitam
dari darah ayam.

/6/
CEMANI (lagi)

makan sop ayam berdarah hitam
selahap-lahapnya
segila-gilanya.

/7/
TENTANG AKU

Barusan kubaca buku
judunya berkenalan dengan puisi
karya Suminto A. Suyuti.
ada 20 halaman terbalik posisi
kabur tintanya, tak terbaca lagi
ya persis aku ini.
tak ada kalian yang mau membaca lagi.

/8/
EPISODE
aku duduk sendiri
di bangku depan
menakut-nakuti mereka
yang sok sibuk mengerjakan
soal ulangan.

/9/
Barusan aku membaca kalimat-kalimat manusia suci, syairnya menyentuh hati. Tak seperti syair para penyair nyinyir, kata-katanya beraromma anyir.

/10/
BERI DAKU SUMBA

Ngan.

/11/
Di kota itu, kata orang, hujan telah menjadi emas. Di kotaku, hujan yang deras, tetap saja batu.

/12/
JERAWAT

Dulu, agak dulu rupanya waktu, pernahlah hitam di bagian tengah keningku. Kini tidak lagi. Tanpa warna hitam, keningku mulus kembali. Jika tertimpa cahya mentari, nampaklah ia berkilat licin sekali. Tetapi aduh, sejak beberapa hari yang lalu. muncul sebiji jerawat di bagian kanan jidatku. Seringkali aku raba, mashilah keras dia rupanya. kutunggu beberapa lama tak mateng juga. saat bersentuhan dengan lantai, meski sudah kuamankan dengan selembar busa tetap ada rasa sakit juga. Sebelah kanan.

/13/
Lelah memaksaku menimpukkan punggung ke atas dipan. Pluk, kreket.. Begitu bunyi bilah-bilah bambu alas dipanku. Tapi mataku tak pejam jua. Dia merana, tak seide dengan otaknya. Mataku samar menatap ujung lampu. Seekor kupu-kupu? Entahlah.
dia terbang saja. berputarputar di ujung lampu. sayapnya tak lelah, menggetar membawanya berputarputar. Ke mana gerangan kawan-kawannya? aku tak melihatnya. Tak makankah ia?
sebentar terpejam, ia tak nampak lagi. kini, di kamar aku sendiri. Kupu, ke mana gerangan dirimu?
Bantal yang terlalu keras buat kepalaku. angin malam yang masuk lewat celah kecil dinding bambu. mengapa angin bisa begitu?
andai aku ini angin, pasti aku bisa menyelusup ke mana saja aku suka. Tetapi tidak. Angin tak punya bentuk. Angin.
Angin sungguh tak punya rasa. ia bergerak begitu saja. bahkan tak selalu harus sesuai keinginannya. maka aku tak mau jadi angin karenanya. di mana dia ditekan, menghindarlah dia. mencari tempat yang aman tanpa tekanan. angin itu, ingin rupanya ia bebas.

Semarang, Penghujung Mei 2013

  1. Tum
    31 Mei 2013 pukul 2:25 am

    ngan…
    haha…asik

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: