Beranda > catatan harian, Uncategorized > Pesta Perkawinan Yang Meriah

Pesta Perkawinan Yang Meriah

Hingga beberapa tahun yang lalu, saya bahkan belum tahu lahir dari rahim siapa. Bahkan berapa jumlah saudaraku, aku juga tidak tahu. Yang jelas sejak kecil aku telah terserang penyakit mental. Inferior kompleks barangkali. Aku tak punya nyali sama sekali. Sebagai laki-laki, aku tak pantas disebut sebagai lelaki. Mungkin karena aku selalu berada dalam tekanan banyak pihak. Ditekan lingkungan, tertekan oleh pihak-pihak yang saya belum tahu saat itu. Bisa jadi itu adalah saudaraku, bisa juga itu tetangga atau bahkan rekan sepermainanku. Aku laki-laki, tetapi bermental layaknya seorang wanita. tetapi aneh, ku juga takut bergaul dengan dunia kewanitaan. Eh,maksudku, aku tak berani bermain perempuan. Oh, bukan, bukan itu maksudku. Aku tak pernah bergaul dengan wanita. Takut sekali aku kepada mereka, entah apa sebabnya.

Barulah beberapa tahun yang lalu aku tahu siapa sebenarnya ibuku. Ternyata aku lahir dari rahim seorang perempuan berparas cantik yang juga jelita wajahnya, pun kaya raya. Tetapi begitulah; Tak ada manusia yang sempurna. Ibuku bodoh luar biasa. Semenjak bahkan sebelum kelahiranku, ibuku telah dijajah banyak lelaki. Mereka itu nampak gagah sekali. Ibuku diperbudaknya selama bertahun-tahun, kekayaannya dirampas untuk kesenangan lelaki-lelaki itu dan tentu, keluarganya. Tetapi Tuhan Maha Kaya. Kekayaan yang dilimpahkan kepada ibuku seakan tak ada habisnya. Bahkan hingga sekarang, kekayaan yang dimiliki ibuku masih melimpah ruah, tak terkira banyaknya. Tiwi, ya, konon orang-orang memanggil ibuku dengan sebutan itu. Entah nama lengkapnya. Bisa jadi Sutiwi seperti teman kecilku dulu, atau pratiwi seperti nama guru SMA itu, atau malah pertiwi. Ah, entahlah. Aku tak mau mempermasalahkan perkara siapa sesungguhnya nama lengkap ibu kandungku. Yang jelas aku sudah sangat bahagia bertemu dengannya, Ibu yang kurindukan sejak dahulu.

Tetapi begitulah. nasib buruk seakan terus saja menghantuiku. Aku yang sudah menginjak dewasa, sudah pantas berkeluarga rupanya. Tetapi aku tak pernah memikirkannya. Itu jelas, karena aku takut bergaul dengan wanita meski sebenarnya keinginan itu ada. maka beberapa tahun yang lalu ibuku memaksaku. Aku dipaksa kawain. lalu dengan siapa? Aku bertanya. Lalu ibuku memberikan banyak pilihan. Anehnya, semua nama yang diajukan terasa asing bagiku. Aku belum pernah mengenalnya, apatah lagi bertatap muka. Tetapi demi menyenagkan hati ibu, aku pun menjatuhkan pilihan. Pesta pernikahanku sungguh meriah. Semua calon dihadirkan saat pesta itu, tetapi aku tetap saja belum boleh bertemu dengan mereka; Calon yang diajukan ibu. Aku hanya diberi gambar-gambar yang berjumlah banyak. Di pesta perkawinan itu aku harus memilih salah satu dari yang banyak itu. Kujatuhkan juga pilihanku. Calon yang kupilih itu berparas cantik sebagaimana ibuku, senyumnya menawan aduhai. Tak sia-sia rupanya ibu mengeluarkan biaya yang entah berapa milyar untuk pesta perkawinan itu.

Aku memulai hidup baru. Pilihanku rupanya tak keliru. Dia baik hati dan tidak sombong. Selalu bersikap baik, ramah, suka tersenyum. Tetapi walah. Ternyata dugaanku keliru. Dia, calon yang kupilih itu, ternyata hanya menginginkan harta kekayaan ibuku. Saban hari dikeruknya harta ibuku, bersama-sama dan bekerja sama dengan para calon yang diajukan ibuku pada waktu itu. Mereka berkomplot, bekerja sama menguras hartakekayaan ibuku. Akhinya aku pun tahu, ternyata hampir kesemua calon yang diajukan ibuku adalah pelacur. Pantas saja bermuka manis, murah senyumnya. Menyesal juga aku mau memilihnya. Lalu demi menyelamatkan harta ibuku, aku ceraikanlah dia. U and I, end. Begitu kataku. Kita putus hubungan diplomasi.

Lalu beberapa hari yang lalu. Ibuku kembali membujuk diriku, untuk menikah kembali. Dan tentu, para calon telah disediakan. Pun besarnya baya pesta perkawinan telah diperhitungkan secara matang. Bahkan panitia pelaksana kawinan juga telah dibentuk beberapa waktu lalu. Aku harus menikah dengan siapa? Begitu pertanyaanku kepada ibu. Lagi-lagi ibuku mengajukan calon, kali ini berjumlah enam. Tapi ternyata, eh ternyata, calon itu diajukan bukan oleh ibuku. Mereka adalah calon yang telah dipilih dan diajukan oleh beberapa komplotan yang menamakan diri calo pengantin. Terus terang kali ini aku bingung. Ada rasa takut dan was-was jika ternyata para calon itu adalah pelacur juga. Sebab hingga saat ini aku belum pernah mengenalnya dan juga belum sekali pun bertatap muka. Hanya gencar mereka memuji kecantikan dan kecerdsan para calon pengantin yang diajukan. Dan aku semakin bingung. Semua calon dikatakannya baik. Bahkan boleh dicoba kelihaiannya di atas ranjang. tentu aku tak mau.

Bibit, Bebet, Bobot. Begitu wejangan para sesepuh jaman dahulu. Sebelum menjatuhkan pilihan maka harus diketahui dahulu Bibitnya, Bebetnya serta bobotnya. Yang paling uatama adalah bibit. Tetapi aku juga ingin mendapatkan Ganjaran. Entah ganjaran di dunia atau pun di akhirat. Ganjaran di dunia bisa berupa kesehatan dan harta benda. HP misalnya. Ah, entahlah. Aku tak tahu lagi cerita apa. Tentang bibit, HP atau yang lainnya. Memilih atau tidak, ibuku tetap keluar biaya yang tak terkira banyaknya. saya tak paham BIBIT, bebet dan bobot. Masalah Ganjaran biarlah Tuhan yang menentukan. Bahkan teknologi semacam HP aku pun tak memikirkannya lagi.

Salam Pernikahan.

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: