NENEK KEMBANG

NENEK KEMBANG
;Sebuah Cerpen

FotoAku cuma duduk-duduk di depan Benteng Vredeburg, depan Gedung Agung, sambil terus menyedot rokok Djie Sam Soe dalam-dalam. Memang nikmat. Tapi meski malam minggu itu suasana ramai, tertama di ujung selatan Malioboro itu, aku tetap merasa kesepian. Tidak apa. Toh semua sudah disadari sejak awal.

Sebenarnya aku ingin melihat pameran lukisan karya Bondowoso yang tampaknya punya obsesi khusus tentang kuda. Entah karena apa pula, aku pun sudah lama terpesona oleh lukisan-lukisan kuda –karya siapa pun itu. Bahkan juga foto dan patung kuda. Bondowoso memang menggelar pameran di Vredeburg itu, tapi kupikir lebih baik nontn di hari-hari tidak sibuk seperti hari minggu.

Di tengah banyak orang lalu-lalang keluar masuk Bneteng Vredeburg untuk menikmati pameran FKY itu, tiba-tiba kulihat seorang wanita berpakaian necis dan berambut sebahu, berjalan keluar dari Vredeburg. Aku tergagap, setengah percaya setengah tidak. Tapi aku akhirnya yakin. Aku meloncat dan memburu wanita itu.

“Neni?” sapaku lirih.
Wanita itu menoleh, menatapku dengan terkejut, dan kemudian berhenti.
“Pracoyo?”
“Pangling?”
“Tidak. Tapi…”
“Kau sendirian?”
“Ya.”
“Tidak keberatan aku antar?”
“Ke mana?”
“Bagaimana kalau makan sate di Pakualaman?”
“Masih sering ke sana?”
“Begitulah.”
“Baiklah.”

Kami pun melangkah ke barat, lalu belok ke selatan, dan di depan Kantor Pos Besar kami naik becak ke timur.

Lima belas tahun yang lalu aku berpisah dengan Dyah Anggraini. Dulu kami sering menonton teater maupun musik. Juga ngajar TPA bersama. hehe.. Atau menghadiri diskusi. Tapi sejauh itu, kami tidak pernah menyinggung tentang cinta. Aku ragu-ragu menutarakannya, takut ditolak. Lalu mendadak kudengar dari seorang teman Neni dilamar pemuda Sleman dan hari pernikahan pun sudah ditentukan. Aku sendiri belum kelar sekolah waktu itu. Aku sangat kecewa. Tak doyan makan hampir sebulan lamanya. Maka aku meninggalkan Jogja. Pertama ke Surabaya. Lalu ke Jakarta. Pindah Semarang, dan kini aku di Jogja lagi.

“Berapa anakmu?” tanyaku.
“Dua. Cucu satu!”
“Cucu? Kau sudah punya cucu?”
“Kaget?”
“Berarti Kau nenek cantik!”
“Makasih ya… Kau?”
“Aku?” kelincutan juga mendapat pertanyaan seperti itu. Mungkin aku lelaki goblok. Atau lelaki gombal. Atau kolot. Atau apalah namanya, tapi hingga sekarang aku belum menikah, meski umurku hampir 55 tahun. Edan, menurut teman-teman.

“Anakku empat,” kataku. “Dan hampir menjadi kakek.”
“Kenapa hampir?”
“Anak pertamaku yang di Semarang, isterinya tengah hamil. Mungkin dua tiga bulan lagi lahir.”
“Syukurlah, aku senang mendengarnya.”
“Mendengar apa?”
“Bahwa akhirnya Kau menikah dan punya anak. Sas-susnya sih…”
“sas-sus apa?”
“Oh, tidak apa,” Neni mengelak. Tapi aku tahu, dia tidak ingin melanjutkan omongannya. Biarlah. Aku tak mau mendesaknya kalau memang dia tak ingin membicarakannya.
“Kenapa tidak bersama suamimu?”
Neni tidak langsung menjawab, malah wajahnya tampak sedih, “Sudah meninggal,” kata Neni kemudian, hampir berbisik.
“Oh, maaf. Kalau begitu sama.” Kataku.
“Apanya yang sama?”
“Isteriku juga sudah meninggal, sekitar empat tahun yang lalu. Kangker rahim.”
“Oh, maaf.”
“Tidak apa-apa. Jadi Kau kini…?”
“Janda?”
“Nenek kembang, maksudku?”

“Iih!!” Neni mencubit pahaku, dan aku pun ingat lima belas tahun yang lalu, Neni juga suka mencubit seperti itu kalau hatinya tengah gemas. Neni tak berubah ternyata. Masih seperti doeloe, kecantikannya tetap mendebarkanku, menggetarkanku.

“Bagaimana kalau…”
“Kalau gimana?”
“Kalau kupinang? Kau mau menjadi isteriku?”
Neni diam.

“Aku doeloe memang terlambat. Sebab atmosfer keluargaku memang mencetak aku menjadi seperti itu. Aku kalah cepat dengan suamimu. Aku takut menyatakan cintaku padamu, mungkin itu kesalahan terbesarku. Atau kegoblokanku?!”

“Dan kini Kau berani?”
“Ya, karena umurku sudah 55 tahun. Pengalaman hidupku juga sudah sangat banyak. Yakin buku yang kubaca jauh melebihi jumlah yang kau baca. Aku merasa tak akan kalah ilmu lagi denganmu. Asyik kan kalau kita menikah? Kakek dapat nenek? Daripada hidp sendirian dan kesepian.”

Kami makan dengan lahap. Setelah itu aku menyedot Dji Sam Soe-ku lagi. Dan menatap Neni. Masih cantik seperti doeloe, seperti jaman SMA doeloe.
“Kau tidak keberatan kan, jadi istriku?”
“Aku sudah jadi nenek, umurku sudah 53 tahun. Terpaut 2 tahun di bawah umurmu. Apa yang Kau harap?”
“Seluruh dirimu, seluruh Dyah Anggraini. Seluruh Neni-ku!”
“Kok Neni-ku?”
“Karena aku tidak pernah berhenti mencintaimu, ke mana pun aku pergi. Boleh tidak percaya. Tapi begitulah aku.”
“Jadi benar sas-sus yang kudengar?”
“Sas-sus apa?”
“Bahwa Kau belum menikah juga, meski umurmu telah setengah abad lebih?”
“Dengar dari siapa?” aku kaget.
“Kau tidak perlu malu. Tidak perlu sewot. Karena kita sama!”
“Maksudmu?”
“Sama? Apa maksudmu? Jadi Kau belum menikah juga?” aku terkejut bukan main.
“Berita aku dilamar itu, sengaja aku hembuskan agar Kau cemburu. Atau marah, atau menemuiku entah di tempat kerjaku, entah di rumah nenekku, entah di rumahku. Mengajakku menikah atau bagaimana. Tapi ternyata Kau pengecut. Kau pergi begitu saja dan membuatku menderita.”

“Kenapa kau tak konfrmasi dulu kepadaku?” tanyaku
“Kenapa Kau tak pernah bertanya juga kepadaku?” Neni sewot.
“Karena aku takut Kau ajak nikah muda!”
“Aku tak pernah menuntut seperti itu.”
“Bagaimana aku bisa tahu, dan kenapa Kau tak menungguku?”
“Menunggumu? Intinya RAGU-RAGU.”
“Terus kenapa Kau tak menikah juga?”
“Karena aku mencintaimu. Sepenuh hati. Hanya aku tak mau jujur kepadamu. Mestinya Kau yang bilang itu doeloe kepadaku. Bahwa Kau mencintaiku.”
“Baiklah, sekarang aku sampaikan bahwa AKU MENCINTAIMU!”
“Ya, AKU JUGA MENCINTAIMU!”

Aku melongo. Aku terpesoa. Aku malu. Aku sedih. Aku menangis. Neni langsung kupeluk. Erat sekali. “Oh, Nenek Kembangku!” bisikku.

“Dasar Kakek Gendeng! Eh, Kakek Ganteng!” Neni mencubitku keras…

“Duh….”

-SELESAI-

  1. 8 Maret 2014 pukul 2:23 am

    Reblogged this on Fiksi.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: