Beranda > catatan harian, PAHI, Uncategorized > REVIEW KOPDAR PAHI (2)

REVIEW KOPDAR PAHI (2)

Ahad Pagi, 20 Januari 2013.
Setelah mandi badan segar kembali Lalu ngudut dan nyruput kopi. konon kata Pak Yusuf, kopinya luwak asli hasil tumbukan sendiri.

Hingga jam sembilan pagi acara belum juga dimulai. Nampak ada keresahan di benak Pak Thoyib, sebab masih ada beberapa agenda penting yang harus segera diselesaikan. Maka sebelum acara dimulai secara formal, Pak Thoyib mendahuluinya dengan bincang-bincang Sersan (Serius tapi Santai). Ada beberapa hal yang dibahas pendahuluan itu. Misalnya tentang bagi-bagi ilmu. Seperti kita ketahui bersama bahwa di Group PAHI masih banyak sekali anggota yang belum paham tentang seluk beluk Ayam Hutan. Tentu dalam hal itu termasuk saya.🙂 Tentang bagaimana memilih ayam hutan, teknik penjinakan, mencetak pacek dodokan/sodokan, pemeliharaan, pembuatan kandang dan lain-lain kita masih perlu banyak belajar kepada para Master PAHI.

Satu yang ditekankan dalam pembicaraan itu adalah bahwa bukan masalah mahal/murahnya sebuah ilmu juga bukan masalah pelit/tidaknya pemilik ilmu. Hal yang lebih penting dari semua itu adalah etika mencari ilmu. Tidak sopan nampaknya jika kita baru kenal AHH lalu masuk group PAHI dan tiba-tiba menginbox semua Master PAHI meminta bagian ilmu perayamhutanan. Atau karena ada luang waktu, kita tiba-tiba datang berkunjung ke rumah Master an lalu menodongkan pistol untuk memaksa agar berkenan menurunkan ilmu kadigjayaannya tentang bagaimana menundukkan Ayam Hutan kepada kita. Bukan begitu caranya. Semua ada etikanya, ada adab mencari ilmu yang musti kita taati. Hehe..
Bisa dibayangkan jika kita tiba-tiba ditodong seseorang untuk menurunkan segala ilmu. Karenanya dalam pendahuluan itu dibahaslah tentang pembagian ilmu. Bahwa kesabaran adalah yang utama. Sabar mencari, sabar memelihara. Sabar mencari artinya kita jangan kesusu dan grusa-grusu dalam hal ilmu. Harus ada pendekatan personal dengan tahap tertentu. Jika kita sekali pun belum pernah bertemu, bagaimana mau dituruni ilmu? Karena bahkan seorang petani pun tak akan menanam benih di lahan gersang. Begitu juga ilmu; seorang guru harus bijak dalam hal itu. Ringkasnya, mari terlebih dahulu kita bertemu. Tak hanya sekali waktu, karena bertemu sekali saja belum cukup untuk menimba ilmunya. Inilah pentingnya kita bertemu, membangun persaudaraan dalam hobi/kegemaran yang sama. Kopdar bukan yang utama, tetapi sangat penting nampaknya.

Tentang kesabaran yang kedua, bahwa memelihara Ayam Hutan bukan permainan sulap. Bim salabim maka jinaklah. Bukan begitu dan tak semudah itu. Semua butuh proses, butuh biaya serta kesabaran. Bahwa ayam hutan piaraan kita mati seekor dua, itu belum apa-apa. Untuk menjadi master, banyak di antara mereka yang sudah kehilangan puluhan hewan piaraan. Tentu, hal ini bukan hanya berlaku pada Ayam Hutan saja. Karena sebab itulah ilmu dikatakan mahal. Proses kita belajar itulah yang menjadikan mahal. Anda sekolah habis biaya berapa banyak dan dapat ilmu apa?

Selanjutnya muncul pertanyaan dari seorang teman bagaimana tentang penjodohan AHH dalam mencetak bekisar. Nah, ini yang menarik dan ditunggu-tunggu. Tapi, tepat sesaat sebelum Master Thoyib membeberkan jawabannya datanglah tamu baru. Mas Gogor Yoga Utama namanya. Dia mengucap salam, kami menjawab serempak. Pertama yang menyambut adalah Mas Dwi Jogja karena kebetlan duduk tepat di samping pintu. Lalu Pak Thoyib, baru kemudian saya. Saat itu Mas Gogor belum sadar dengan siapa dia berhadapan. Saat setelah berjabat tangan dengan saya, Pak Thoyib bertanya, “Eling aku rak, sapa aku iki?” Kontan Mas Gogor memandang serius muka tua Pak Thoyib. Sejurus kemudian dia berteriak, “PAK THOYIB!” lalu berpelukanlah mereka bak dua saudara yang baru bertemu setelah berpisah puluhan tahun lamanya. Kami semua tertawa tentu saja. tawa kami menggelegar, menggoncang Kota Malang. Saya kaget, betapa rumah mewah itu seakan mau runtuh.😀

Inilah Mas Gogor, yang bersiap salaman dengan saya yang ganteng ini.🙂
19410_4287259947820_618721697_n

  1. 26 Januari 2013 pukul 1:40 am

    maaf baru bsa buka dan baca……………. mas suko mmg top klo mengumpulkan ceritera….hahahaha
    mmg sy dg mas gogor yugo utomo sdh lama bgt saling kenal, dan mngkin sdh ratusan kali komunikasi via tlp, walau sering lht fot d fb, ttp aja sangsi dg ujud aslinya, mknya bgtu sy thu itu mas gogor yugo utomo, sy spontan sapa beliau, dan setelah d sapa beliaupun sangat2 kaget, spontan teletabis berpelukan bak saudara yg sdh puluhan thn hilang dan ketemu kembali…………..
    inilah arti persaudaraan……… PAHI mmg mantabh……….

  2. 11 Februari 2013 pukul 8:27 am

    I just couldn’t depart your web site before suggesting that I really loved the standard information an individual supply for your guests? Is gonna be again ceaselessly in order to investigate cross-check new posts

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: