Beranda > catatan harian, Uncategorized > Menulis di Hari Ibu

Menulis di Hari Ibu

Sudah agak lama saya tak menulis. Tak hanya di blog saja, namun juga di status pesbuk. Bukan berarti tak ada ide untuk dituliskan, namun karena alasan lain yang takperlu rasanya saya ungkapkan. Namun tiba-tiba saja hari ini saya ingin menulis. Ya, sebatas ingin. Entah apa yang akan saya tuliskan nanti.

Memang menulis bukan perkara mudah. Bisa jadi kita memiliki berjuta ide untuk dituliskan, namun seringkali kesulitan saat akan memulai menulis. Seperti juga saat ini. Saya entah akan menulis tentang apa. Yang jelas, saya ingin membuat sebuah tulisan di hari yang istimewa ini. Istimewa dalam arti karena dirayakan umat sedunia sebagai hari Ibu. Kita semua punya ibu kan? Ya, tak ada orang yang dilahirkan oleh seorang bapak. Kalau pun ada istilah seorang anak lahir tanpa Bapak, itu perkara lain. hehe..

Tapi suatu saat ada seorang anak SD yang bersedih ketika ditanya siapa nama ibunya. Lalu menangis. Tentu saja gurunya bingung. “Mengapa engkau justru menangis duhai Ananda? Apakah ibumu sudah meninggal?” Beitu Ibu Guru yang cantik itu menanyai muridnya. “Bukan Ibunda Guru,” jawab si anak. “Saya menangis bukan karena itu, tapi sejak kecil saya ini sudah belum pernah punya ibu. Saya lahir dari seorang simbok.”

Ha.ha.ha.. Simbok, emak, ibu, biyung, atau apa lah istilah lainnya, semua sama saja. Mereka adalah orang yang paling berjasa karena telah melahirkan kita. Jika kita tahu bagaimana perjuangan seorang ibu dalam mengandung dan hingga melahirkan kita, tentu kita akan selalu patuh dan turut pada perintah ibu. Ya, betapa besar pengorbanan yang telah ibu berikan kepada anaknya. Sungguh tak terkia perjuangan dan pengorbanannya.

Ibu adalah manusia istimewa. Bahkan katanya, Surga ada di telapak kaki ibu. Tentu ada arti tersendiri dari ungkapan itu. Pernah dengar atau membaca cerita malin kundang? begitulah akibatnya jika seorang anak berani durhaka pada ibunya. Maka layaklah jika ada 1 hari yang disitimewakan sebagai hari ibu.

Lalu apakah predikat ibu hanya layak disandangkan pada seorang perempuan yang melahirkan saja? Entahlah, untuk menjawab pertanyaan itu perlu pemikiran yang mendalam kiranya.

Selamat Hari Ibu. Sejahtera selalu untukmu.

Salam.

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: