Beranda > catatan harian, puisi, Uncategorized > Sebuah Harapan

Sebuah Harapan

    UNTUK TUHAN
    kepada mantan

    Tuhan, tolong bahagiakanlah mantan-mantanku,
    karena selama ini aku sadar; orangnya cuek,
    tidak dapat menepati janji, seringkali menyakiti

    Tuhan, aku mohon bahagiakan mereka, seperti
    dibahagiakannya sungai kering karena
    dipertemukan kembali dengan hujannya

    Tuhan, aku meminta kepadamu: kedepannya,
    jangan pertemukan aku dengan perempuan
    yang tidak dapat aku bahagiakan

    2012

Puisi di atas adalah karya WM tanpa Abdul Hadi. he.he.. Maksud saya, puisi itu karya Windu Mandela. Puisi yang ditulis pada hari senin kemarin, ternyata menarik minat saya untuk turut berkomentar. Meski tak menyinggung masalah perpuisian, saya turut berkomentar. Mengagetkan, karena di tengah perjalanan komentar itu saya ditohok dengan sebuah pertanyaan berat yang tentu salah alamat. “apakah ini masih dapat disebut puisi pak?” begitu pertanyaan yang dilemparkan WM dan tepat mengenai jidad saya. Pertanyaan itu kemudian lumer, meleleh ke bawah menutupi mata, hidung, kumis, serta mulut saya. maka tiba-tiba wajah saya hilang. Di depan WM saya kehilangan muka.😦

Apa salah saya sebenarnya? Bisa jadi kesalahan berawal dari keberanian saya berkomentar. Bak bumerang australia, komentar itu saya lempar, berputar, lalu kembali mengarah ke saya lagi. Maka hal itu langsung saya tanggulangi. “Pertanyaan yang salah alamat” kata saya. Jelas salah alamat, sebab saya tak punya kapasitas sedikit pun untuk menjawab pertanyaan itu. Lalu kepada sang filsuf saya uncalkan pertanyaan itu. Apa lacur, pertanyaan saya menyublim di tengah jalan. Hilang sebelum sampai alamat. Buktinya, Filsuf kaji tak menanggapi.πŸ˜€

Atas kejadian itu lalu saya teringat pada guru-guru semasa sekolah dulu, dari SD hngga SMA. Baiklah saya sebutkan salah satu diantaranya, yaitu guru AGAMA. Saya ingat betul bagaimana mereka dengan sabar dan telaten mengajar dan mendidik kami, murid-murid yang tak pintar ini. Guru Agama waktu di SD, Pak Ratman namanya. saya ingat betul bagaimana guru saya itu mengajarkan kami tatacara sholat di kelas 2. Runtut beliau menerangkan, lalu kami diminta mempraktekan. Saat pada gerakan ruku’ ada yang punggungnya melengkung, Pak ratman akan meluruskannya sembari berkata, “Punggung yang begini besok akan diluruskan dengan pedang malaikat.” lalu kami menertawai mereka yang melakukan kesalahan. Tak mengapa karena memang begitulah belajar. Guru SMP lain lagi. Beliau yang ibu-ibu itu, mampu membimbing kami bagaimana membacakan khotbah dengan benar dan menarik. Sedangkan Pak Slamet, Guru SMA saya, begitu sungguh luar biasa di mata saya. Beberapa kali pertemuan saya melihat Pak Slamet matanya merah karena diserang kantuk berlebih saat mengajar. Tetap hebatnya, beliau tetap menerangkan materi agama dengan sabar, runtut dan menarik. Beliau juga melayani pertanyaan-pertanyaan, yang kadang si penanya sudah tahu jawabannya, dengan sejelas-jelasnya. saya sungguh kagum pada mereka, guru-guru tercinta.

Sok romantis? Bukan begitu saya kira. Itu semua nyata adanya, sangat baik dan perlu kiranya untuk kita jadikan sebagai kaca benggala. Masih ingat Suminto A. Suyuti? Beliau adalah juga seorang guru yang sangat sabar dan tekun memelihara masa depan sastrawan dan karya sastra mereka. Dulu, hampir tiap minggu beliau rajin menulis kritik sastra di harian Minggu Pagi dan juga Kedaulatan Rakyat. Ingatkah juga kita pada Ustadz Umbu Landu Paranggi, Ragil S. Pragolapati, Mansur Samin, Saini K. M., dan tokoh-tokoh lain-lainnya? Merekalah para sastrawan yang tak hanya sekedar menulis cerpen dan puisi, namun juga begitu sabar, tulus dan telaten memberikan penyuluhan dan pencerahan kepada masyarakat agar tahu jalan bagaimana memasuki dan menikmati puisi. sastrawan semacam mereka ini sungguh dibutuhkan lagi saat ini.

Lalu masih adakah yang mau berbuat seperti mereka di jaman yang sekarang ini? Entahlah. Yang jelas, saya menemukan begitu banyak penyair (jika boleh saya sebut begitu) baru yang terus dan terus menulis puisi baik di media facebook maupun blog. Mereka hanya menulis dan terus menulis puisi, tanpa peduli akan adanya apresiasi. Jikalau ada kesempatan saya menyambangi, maka seringkali akan muncul pertanyaan seperti tadi; “Layakkah tulisan saya ini disebut sebagai puisi?” Mendapat pertanyaan seperti ini maka saya bisanya hanya lari, menyembunyikan diri. Maka kepada siapa saya harus mengadukan permasalahan yang berat ini? Di satu sisi sastrawan ingin agar masyarakat mau dan mampu menikmati karya puisi, namun di sisi lain banyak diantara mereka yang menutup diri; tak berkenan memberikan pencerahan kepada masyarakat awam seperti kami.

Beberapa tahun yang lalu saya sempat membaca kolom kritik cerpen di Suara Merdeka. Tapi hanya sekali saja saya membacanya. Sekarang ini sepertinya sudah tidak ada. Saya sangat senang membacanya, karena di sebuah cerpen yang sangat menarik di mata saya ternyata masih ada “cela”. Saya baru bisa mengetahui betapa cerpen itu banyak kekurangannya disaat setelah saya membaca kolom kritik sastra. Bahwa hari minggu yang disebut oleh hasta Indrayana sebagai “Hari Sastrawan Nasional” mestinya bisa memberikan penerangan kepada masyarakat akan indahnya sebuah karya sastra. Tapi apakah ada minat masyarakat umum untuk membacanya, jika mereka tak juga paham akan maksudnya? Itu pertanyaan saya.

Saya sungguh bingung dan hanya bisa berlari menyembunyikan diri dibelakang punggung Sang filsuf Kaji, Sastrawan Tum dan Begawan Aras sandi.. Saudaraku, tolonglah kami.πŸ™‚

NB: Tulisan pengganti, kerna panjang yang pertama hilang.😦

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: