Beranda > catatan harian, cerpen, puisi, Uncategorized > AYAH, ROKOK DAN PUISI

AYAH, ROKOK DAN PUISI

Sore itu ayah baru saja pulang dari sawah. tentu badannya masih lelah. Dan adikku yang masih TK itu seakan tak mau tahu. Ia langsung saja menyambut kedatangan ayah, mengikuti setiap geraknya sambil terus nrocos bercerita tentang apa saja. Yang tak pernah dilupakan adikku untuk diceritakannya adalah tentang pekerjaan rumah yang mendapat nilai bintang 5 (*****) dari gurunya. Ayah hanya tersenyum dan tersenyum saja mendengar cerita adikku sambil sesekali menanggapi dengan kata-kata pendek, “Nggih“, “Pinter”, “Hebat,” “Wah”, serta kalimat-kalimat pendek lainnya sembari terus bergerak memberi makan merpati, Ayam Hutan, Ayam poland, ayam Bangkok, Kucing Hutan serta piaraan-piaraan ayah lainnya. Adikku terus saja ndremimil sembari terus mengikuti gerak ayah entah di sampingnya, di belakangnya, bahkan kadang di depannya untuk turut membantu memberi makan unggas-unggas. Ujung-ujungnya adikku minta dibelikan sesuatu. Itu aku tahu pasti karena terjadi hampir setiap hari. Juga sore itu. Kepada ayah, adik minta dibelikan pensil warna. “Pah, mengkeh nek pun boten kesel, dedek tumbaske pewarna nggih?

” Ayah mengiyakan saja permintaan itu, tersenyum, lalu diciumlah kening adikku. Arkian setelah itu barulah adikku berlalu menuju ke aku. “Mas, mangkeh tumbas pewarna maleh…

Betapa ayah sangat sayang kepadaku dan juga adikku. Meski lelah badannya, keinginan adikku diturutkannya juga. Sore itu kami diantar ayah menuju toko alat tulis yang letaknya dekat kampus. “Pah, ten kampus onten bursa buku,”
kataku kepada ayah. Aku tahu hal itu dari membaca sebuah tulisan besar yang terpampang dekat kampus MIPA. “Tumbaske nggih Pah,” pintaku.

Nggih Mas,” seperti biasa ayahku hanya menjawab sesingkat itu. Maka sebelum membeli pewarna yang diminta adik, kami berhenti di depan kampus tempat bursa buku itu digelar. Ayah selalu memilih sendiri buku-buku kesukaannya. Sedang aku dan adikku ditemani ibu memilih sendiri buku-buku kesukaan kami. Terkadang aku juga mengikuti di belakang ayah. Ayahku hobi sekali membeli buku. Dalam kesempatan seperti itu, ayah bisa membeli tak kurang dari 15 buku. Ada sesuatu yang hingga kini aku belum tahu. Setiap uangnya kurang ayah menuju sebuah kotak di seberang jalan, masuk ke dalamnya dan keluar sudah membawa uang. Mungkinkah itu yang disebut Bank? Hingga kini aku dan adikku belum pernah diijinkan ikut masuk ke dalam kotak itu.

Berbeda dengan ayahku, ibu jarang sekali membeli buku. Tetapi ibu selalu membantu memilihkan buku untuk aku dan adikku. Seperti ayah, aku juga senang membaca. Tetapi adikku sedikit berbeda. Dia lebih gemar belajar berhitung dan menggambar. Semenjak TK aku sudah lancar membaca. Sekarang, setelah kelas 2, aku lebih lancar lagi membaca. Ayah hanya tersenyum-senyum saja saat aku ikut-ikutan membaca koran yang dipegangnya. Buku ayahku banyak sekali. Namun anehnya ayah tak pernah membaca buku di atas meja. Ayah selalu membaca buku-bukunya di ruang dapur, sambil merokok. Ya, ayahku memang senang merokok. Entah berapa banyak rokok dihabiskannya saat membaca buku-buku. Di dapur itu.

Ayah juga pandai berpuisi. Di komputernya ada sebuah rekaman puisi yang diputarnya berkali-kali. Judulnya “sajak sebatang lisong”. Aku dan adikku sering meniru-nirukan membaca puisi itu.

    Menghisap sebatang lisong
    Melihat Indonesia Raya
    Mendengar…

Aku dan adikku hanya hapal sampai di situ. Kami berteriak-teriak jika membacanya. Tentu, ayah hanya senyum-senyum saja. Kami, aku dan adikku, juga pernah meminta ayah merekam puisi untuk kami. Tentu saja permintaan kami dituruti. Dengan sebuah HP ayah merekam suaranya saat membaca puisi untuk kami. Aku dan adikku hapal puisi itu;

GEMBALA
aku anak gembala
selalu riang gembira
berangkat di pagi hari
menggiring kerbau atau sapi

kucari padang yang luas
penuh rumput yang hijau
ternakku makan dengan puas
tak usah aku risau

di bawah pohon aku menunggu
sambil meniup seruling bambu
kunyanyikan lagu
lagu-lagu kesayanganku

Bila hari telah petang
ternak kubawa pulang
hati siapa tak kan senang
membawa ternak pulang ke kandang
.

Ayah juga punya banyak buku puisi. Setiap belanja buku, buku puisi selalu dicari. Kadang kami meminta ayah membacakan buku puisinya keras-keras. Aku senang mendengarkannya meski sering tak tahu apa maksudnya. Pokoknya hanya senang saja. Seperti waktu itu, aku meminta ayah membaca puisi untukku. Lalu diambilnya sebuah buku, coklat sampulnya, dibuka halamannya lalu sebuah puisi dibacakannya. Indah tiada tara;

DI BERANDA SENJAMU
;Dimas Arika Mihardja

aroma tembakau terbang meruang
memberi wangi segar, mulai dari pagar, halaman hingga buritan

di beranda itu kulihat dirimu menelisik buku-buku
menghirup sejuta rekam kenang yang terurai dan terburai di setiap
halaman

lalu kau taburkan berjuta kearifan di beranda senjamu itu
dan, dengan hembus lembut nafasmu,
kau bisiki kami dengan warna hatimu,
begini;

“denyut nadi kalian telah mendaging di tubuhku”

kutulis sajak ini di perjalanan
saat membelah perbatasan sidoharjo-surabaya
dengan cinta yang tak pernah purna..

wassalam, Ardi Nugroho
Juragan lapak Katakata

Indah nian ayahku membaca puisi itu. Tetapi seperti juga puisi-puisi lainnya, aku tak paham akan maksud yang ada di dalamnya. Maka pada kesempatan itu kepada ayah aku bertanya,

    “Beranda niku napa to Pah?”

dengan tersenyum ayah menjawab, “Beranda itu bagian depan sebuah rumah Mas, semacam teras itu…” maka aku pun menjadi sedikit paham. Yang aku tak paham lagi adalah mengapa ayah memilih puisi itu. Bisa jadi karena di dalamnya ada kata tembakau, bukubuku, sajak dan cinta.

    Embuhlah…

Gantian adikku meminta dibacakan puisi kembali. “

    Mpun lah, ngenjang maleh.

” Baru kali ini ayah menolak permintaan kami. Tetapi adikku, tak bisa ditolak jika meminta sesuatu. Dia akan terus meminta dan meminta hingga dituruti permintaannya. Akhirnya ayah menyerah juga, kepada kami dibacakannya kembali sebuah puisi;

KIDUNG BERJARAK
Kepada Dimas Arika Mihardja

Bukalah jendela ketika matahari membangkitkan kesadaran
Angin masih saja seperti kemarin
jalur panjang meninggalkan jejak seperti bayang tak beraturan
apa yang hendak kau hitung dari ceceran waktu
dari rangkaian yang tak berulang

biarkan cahaya masuk di semua ruang agar kau bisa saksikan
wajah-wajah siapa yang terbingkai di dindingdinding rumahmu
atau lukisanlukisan yang teronggok di sudut paling gelap
rumah hati

masihkah hendak kau hitung
berapa jalur tapak kaki kehidupan yang terayun
sungguh hari manakah yang bisa dirulang
seperti terbit atau tenggelamnya matahari
gumpalan mendung deras hujan dan halilintar
juga kumpulkan berapa taburan warna langit
banjir dan badai mana yang memberi tanda beda diantara
keseluruhannya
kecuali petaka yang sebentaran saja terlalaikan?
SEBUTKAN!

…..

Kali ini aku lebih tak paham lagi. Puisi yang dibaca ayah begitu panjang sekali, lebih panjang dari sajak sebatang lisong.

***
Sudah lebih dari sebulan ayah tak merokok lagi. Juga ayah tak minum kopi. hal itu karena sakit yang dideritanya selama lebih dari dua minggu, kira-kira sebulan yang lalu. Waktu itu ayah nampak kesakitan sekali. Kata ayah kepalanya sangat pusing. Sedikit saja rambutnya tersentuh, ayah akan mengaduh. “Aduh yung..” begitu. Selama 2 minggu itu ayah tak berani mengendarai motor. jika hendak berobat, ayah meminta teman-temannya yang tinggal di masjid at-taqwa. Kata ayah mereka itu masih mahasiswa. Anehnya ayah, setiap pulang dari berobat selalu saja membawa jangkrik. Meski sakit, tak lupa pula rupanya ayah pada hewan-hewan piaraannya.

Ahad kemarin ayah sudah berani berkendara. Maka adikku minta dibelikan jajanan dn juga susu. Lalu aku? tentu ayah akan membiarkan aku mengambil jajanan kesukaanku. Entah apapun itu. Tak boleh ada yang tahu, kecuali ayahku. Lalu ayah menyuruh aku dan adikku keluar terlebih dahulu. Tentu setelah mengambil jajanan dan juga susu. Aku mengintip dari balik pintu, ayah membeli sesuatu; ROKOK. Ya, kembali ayah membeli rokok. Aku tertawa, juga adikku; ikut tertawa bersamaku.

Sampai di rumah ayah menyuruh kami berdua tidur. Ayah menemani kami, sambil membaca buku tetapi bukan buku puisi. Lalu aku pejamkan mata, pura-pura tidur. Ayak keluar kamar begitu melihat aku dan adikku sudah tidur. Menuju dapur. Membaca buku. Lalu kudengar sebuah suara “Thing..” suara zippo. Ayah merokok lagi. Aku bangun, menuju dapur. Dari balik tembok aku berpuisi, keras sekali.

“Menghisap beranda rokok..”

    lalu aku tertawa, lari menuju kamar kembali, pura-pura tidur lagi. Ayah selesai merokok saat ibu pulang dari kuliah. Kepada ibi kami mengadu, “Mah, papah wau ngrokok maleh..” Ibu hanya tersenyum, lalu meletakkan jari telunjuk tangan kanan ke bibirnya, “Sssstt….!”

    Ayah menatapku, bepura-pura marah. Aku mendekat ayah, lalu meminta, “Ampun jengkel nggih Pah…”

    Seperti biasa, ayah hanya tersenyum.
    Ganteng sekali ayahku itu,
    persis seperti aku dan juga adikku.

    Nop2012.

  1. Tum
    9 November 2012 pukul 7:20 am

    hehe…(disarikan dari berbagai kejadian nyata) (Y)

    • 9 November 2012 pukul 8:59 am

      Cerpen Mas SG, fiksi. he.he…

  2. Tum
    9 November 2012 pukul 9:34 am

    hehe…kayak kejadian sehari-hari…lha ada sawah, ayam hutan, dan binatang piaraan lainnya. itu sepertinya nggak jauh dari hari2 pak guru😀

    • 19 November 2012 pukul 11:12 pm

      Benar Mas Tum SG. hehe..🙂

  3. 26 November 2012 pukul 3:11 pm

    iku cerpen apa certen, om?

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: