Beranda > catatan harian, cerpen, guru, Uncategorized > SEHARIAN TIDAK MENGAJAR

SEHARIAN TIDAK MENGAJAR

Seharian Tadi Aku Tidak mengajar

Ya, seharian tadi aku telah melakukan sebuah kesalahan. Lebih parah lagi, kesalahan itu sengaja aku lakukan. Sebagai seorang guru, seharian tadi aku tidak mengajar. Meski masuk kelas, aku tetap memilih tidak melaksanakan tugasku sebagai seorang guru Matematika. Padahal aku telah menyiapkan segala perangkat yang kubutuhkan sedemikian rupa, karena aku masih berpedoman bahwa naik mimbar tanpa persiapan, turun mimbar tanpa penghormatan. Tapi begitulah; semua yang telah kupersiapkan dengan matang tak jadi aku sajikan.

Sebelumnya, mungkin perlu aku ceritakan pula bahwa aku megajar di sebuah sekolah yang letaknya sangat terpencil, jauh dari riuh gemuruh keramaian kota. dari pusat kota kabupaten, butuh waktu hampir 2 jam untuk sampai di sekolah tempatku mengajar. Pertama kali mengajar di sekolah ini aku sungguh kaget. Sebab bertahun-tahun aku mengajar di sekolah favorit di pusat ibu kota propinsi, kini harus mengajar di sekolah yang hanya terdiri dari 3 kelas dengan jumlah siswa tak lebih dari 15 siswa tiap kelasnya. Tak hanya itu, tak ada fasilitas apapun selain ruang-ruang kelas itu. Bahkan untuk ruang guru, masih harus numpang di ruang guru sekolah dasar. Juga siswanya. Meski jauh dari pusat kota, perilaku dan budaya mereka tak jauh beda dengan anak kota.

Contohnya, saat ada siswa yang ulang tahun. Sepulang sekolah si anak akan dilempar telur tepat di kepalanya, disiram tepung, lalu diguyur air. Jelas kelas menjadi amis dan licin. lalu dari mana mereka mendapat budaya semacam itu? dari televisi. Ya, ternyata begitu besar pengaruh televisi. hampir sebagian besar anak dari pinggir pantai hingga puncak gunung mampu dipengaruhinya. Luar biasa.

Selama ini aku masih bisa memaklumi, karena kebayakan teman juga tak begitu mempermasalahkan. Tetapi ternyata aku tak betah berlama-lama dengan kebiasaan mereka. Masuk kelas terlambat tak pernah uluk salam, keluar kelas saat pelajaran juga tak pernah ijin dan tak ada rasa sungkan. maka aku berpikir, apa yang harus aku lakukan?

Lalu pagi tadi. Saat aku baru akan menerangkan materi, tiba-tiba saja beberapa anak dari kelas sebelah masuk kelasku tanpa permisi. Ada beberapa siswa di kelasku yang mereka dekati, lalu setelah menerima sebuah kamus mereka keluar lagi. kembali tanpa permisi. Aku hanya bisa geleng-geleng kepala, heran setengah mati. Maka aku utuskan untuk mengakhiri pelajaran yang bahkan belum aku mulai.

“Anak-anak,” kataku. “Hari ini ibu tak akan memberikan pelajaran matematika. “Setuju?”

“Setuju…” berteriaklah anak-anak. tentu mereka senang.

“Baik, hari ini tak akan ada pelajaran dan akan kita ganti dengan diskusi.”

Semua siswaku kemudian saling bisik, saling bertanya ada apakah kiranya? Mungkin begitu pertanyaan di benak mereka. Kelas kemudian menjadi sedikit riuh, suara-suara tak jelas terdengar di telingaku.

“Baik, sekarang ibu mau bertanya pada kalian semua. siapa yang rumahnya paling dekat dari sini (sekolah ini)?”

Para siswa saling tunjuk, tak mau mengakui.

“OK. Sekarang, siapa yang letak rumahnya paling jauh dari sini?” aku bertanya lagi.

Kembali para siswa hanya saling tunjuk, tak ada yang mau mengakui. Aku tersenyum, manis sekali.🙂

“Ya, tak mengapa jika tak ada yang mau mengaku. Sekarang saya mau tanya sama Gatot. kamu tinggal dengan siapa di rumah? Aku bertanya demikian, karena hampir 100% siswaku tidak tinggal bersama kedua orang tua mereka. Ya, di lingkungan sekolahku rata-rata orang tua menitipkn anaknya pada entah nenek atau pakdenya. Mereka para orang tua pergi merantau. Bapaknya ke jakarta, ibunya ke bandung. atau malah, ibunya ke korea sedang ayahnya ke surabaya. Bertahun-tahun mereka tak ketemu orang tuanya.

“Sama kakek nenek, Bu Guru..” jawab gatot.

“Punya kakak?”

“Punya Bu.”

“Laki-laki apa perempuan?”

“Ha.ha.ha…..” semua siswa tiba-tiba tertawa.

Aku hanya tersenyum, wajahku semakinmanis dan cantik sekali. :))

“Oh, maksud ibu begini anak-anak…” suaraku menenangkan tawa mereka. “Jika misalnya sepulang sekolah nanti saya mampir ke rumah kalian. Lalu ada kakek, nenek, kakak, atau entah siapa saja di antara keluarga kalian ada yang sedang duduk di teras lalu ibu nyelonong saja masuk rumah tanpa permisi, menemuimu di kamar lalu meminjam celanamu. Setelah itu ibu keluar lagi tanpa permisi, tanpa basa-basi, tanpa menyapa kakek, nenek, pak dhe, bu dhe, atau entah siapa yang ada di teras rumahmu. Kira-kira bagaimana menurut kalian?”

Semua siswaku diam, (pura-pura) nampak berpikir. hehe..

“Bagaimana?” aku menguatkan lagi pertanyaanku.

“ya tak sopan to Bu Guru…” jawab beberapa siswa.

“OK, bukan Bu Guru yang bilang lho ya. itu pendapat kalian sendiri.”

Nampak semua anak tersenyum kecut.

“Pertanyaan ibu selanjutnya. Apakah setiap berangkat sekolah kalian ijin sama kakek, nenek, atau siapa saja yang ada di rumah?”

Tak ada jawaban.

“Sekarang begini saja. Misalnya, ini hanya misalnya lho anak-anak… Misalnya dalam sebuah keluarga ada lima orang anak. Lalu setiap malam ibu dan bapak mereka nonton tv di ruang depan. Kelima anak ini keluar kamar, lewat di depan kedua orang tuanya, tanpa kata-kata, lalu pergi keluar rumah begitu saja. Jam 12 malam beru mereka kembali, membuka pintu sendiri tanpa salam, lalu masuk kamar dan tidur hingga pagi. Menurut kalian, bagaimana dengan sikap anak-anak yang semacam ini?

“sudah Pak Guru, eh, Bu Guru.. sudah.. jangan nyindir terus. Sekarang pelajaran saja Bu Guru…” Salah satu siswa terlihat sedikit jengkel.

“Baik, sekarang misalnya lagi..”

“Bu Guru… sudah….” si anak semakin kencang berteriak.

Dan hal yang sama, aku lakukan kembali pada kelas-kelas yang lainnya. Respon mereka, tak jauh beda dengan kelas sebelumnya. Cengar-cengir, jengkel secara tiba-tiba. hiks, seharian tadi, aku tidak mengajar sama sekali. Tak melaksanakan tugasku sebagai guru. Oh, Tuhanku ampunilah daku. Amin.

  1. 11 Oktober 2012 pukul 7:29 am

    sepertinya dari pengalaman kongkrit ni😀

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: