Beranda > catatan harian, Uncategorized > Perubahan Memungkinkan Fleksibilitas yang Lebih

Perubahan Memungkinkan Fleksibilitas yang Lebih

Waktu masih SMP dulu saya pernah silat di sebuah padepokan. Mungkin karena terobsesi oleh pilm-pilm layar lebar yang sering digelar di lapangan yang dibintangi beri prima dan ratno timur. Betapa saya ingin mendapatkan jurus-jurus yang ampuh dan ilmu kadigdayaan semisal ilmu gelang-gelang atau serat jiwa misalnya. Namun ternyata belajar silat tak seperti yang saya bayangkan. Para murid perguruan hanya diajari bagaimana menangkis pukulan, menendang dengan benar, menghindar dari serangan dan lain-lain. Semua diawali dengan dasar-dasar pengolahan otot dan kelenturan tubuh. Maka bosanlah saya, karena tak segera mendapatkan harapan saya.

Maka saat SMA saya pindah halauan, mengikuti beladiri asal korea; tae Kwon Do. Betapa saya membayangkan bisa menguasai tendangan dolyo, pukulan momtong, menggunakan ruyung (double stick) dan lain-lain. Lalu saya diajari bagaimana memukul yang benar, mengepal yang benar, kuda-kuda yang benar, menendang yang benar, membela diri yang benar. Dan seperti di perguruan silat, semua harus diawali dengan dasar-dasar pukulan, tendangan, latihan fisik dan kelenturan, pokoknya sungguh melelahkan. Maka kembali bosanlah saya.

Di perguruan tinggi, betapa banyak kegiatan yang ditawarkan. Maka sifat kemaruk pun muncul. Hampir semua kegiatan saya coba ikuti. Hasilnya nihil. Dari jet kun do, Gabsimo, karate, kungfu, kejawen dan lain sebagainya semua mengajarkan dasar-dasarnya saja. Harus latihan memukul, menangkis dan menendang sebanyak ratusan bahkan ribuan kali dalam sehari. Kebosanan kembali datang.

Maka mulailah saya belajar bahasa dan sastra. Ini juga sama edannya. Untuk mampu menjiwai sebuah peran. kita disuruh tertawa-tawa sendiri tanpa sebab, diminta diam merenung berlama-lama, berjalan berkeliling kampus malam-malam tampa boleh sekecap pun mengeluarkan suara, disuruh menirukan tingkah kucing, anjing, babi dan lain-lain. lalu saya bosan dan bosan.

Akibatnya kepada banyak pendekar akhirnya saya mengumbar pertanyaan. “Dari berbagai macam teori menendang, tendangan seperti apa sebenarnya yang paling jitu?” Dari seorang atlit tinju bebas saya dapatkan jawaban, bahwa “Tendangan yang bagus adalah yang mampu merobohkan lawan. Bagaimanapun caranya. Mau melingkar pakai gaya silat, kaki diangkat ke depan dulu seperti tae kwon do, ataupun yang lainnya yang penting lawan KO. itu!”

Barulah saya puas dengan jawaban itu. Pakai teori apapun, yang penting tujuan tercapai.

Lalu kembali saya bertanya kepada seorang teman, “Bagaimana tulisan yang baik itu?” Jawaban yang saya dapatkan sungguh berbeda. “Tulisan yang baik adalah yang mampu menarik pembacanya, tulisan yang sampai pada tujuannya. Pesan yang disampaikan bisa ditangkap pembacanya. Itu!”

Saya kembali bertanya, “Lalu EYD, Logika, filsafat,…”
“Cukup!” Sergah temanku. “Saya bosan dengan pembahasan tak bermutu semacam itu!”

Lalu kembali saya ke dasar lagi. Hingga kini. Di pantat periuk saya menjadi kerak. Untuk dihidangkan di meja perjamuan sungguh tak layak.😦

  1. 8 September 2013 pukul 7:39 am

    It’s amazing in support of me to have a site, which is beneficial designed for my knowledge. thanks admin

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: