Beranda > catatan harian, Uncategorized > Pengalaman Pahit Membeli Sebidang Tanah

Pengalaman Pahit Membeli Sebidang Tanah

Apakah Anda berencana membeli sebidang tanah? Saya kira tentu, ya, tentu kita semua punya keinginan membeli sebidang tanah lalu memanfaatkannya entah untuk membangun rumah tinggal, tempat usaha, area peternakan, sebatas investasi, atau pun yang lainnya. Nah, bagi Anda yang belum pernah berurusan dengan jual-beli tanah, ada baiknya berhati-hati sebelum membeli sebidang tanah. Sebab apa, jangan sampai kita tertipu atau setidaknya repot sendiri hingga kehabisan banyak energi untuk itu.

Saya sampaikan pesan itu, tentu karena saya tak ingin kawan semua mengalami permasalahan yang sama dengan apa yang barusan saya alami dalam hal membeli sebidang tanah. Lebih lengkapnya lihat di sini.

KELUARGA YANG ANEH

Katakanlah Bapak H memiliki istri Ibu W. Setelah lama menikah, ternyata Bapak H dan Ibu W tak memiliki keturunan/anak. Lalu Bapak H menikah untuk kedua kalinya, mendapat istri kedua Ibu T. Dengan Ibu T, Bapak H ini memiliki 3 orang anak. Yang paling besar bernama S, diasuh oleh ibu tua (Ibu W). Anak nomer 2 bernama T, diasuh sendiri oleh ibu kandungnya. Lalu yang ke-3 bernama R juga diasuh oleh ibu tua (Ibu W). Anak pertama dan kedua tadi laki-laki, sedang anak terakhir perempuan.

Bapak H dan Ibu W adalah orang kaya, sedangkan Ibu T bukan termasuk orang berada. Atau lebih tepatnya, Ibu W memiliki banyak harta warisan dari orang tuanya. setelah Bapak H dan Ibu W meninggal, ternyata Ibu T menikah kembali dan memiliki 3 anak lagi. Maka warisan dari Bapak H dan Ibu W menjadi hak ketiga anaknya, dan Ibu T tidak sedikitpun mendapat bagian. Lebih edan lagi, semua tanah yang berhektar-hektar itu diatasnamakan satu orang saja, yaitu anak barep (anak nomor 1). Hal ini karena, saat ada pemutihan/sertifikat massal, si anak bontot sedang merantau di batam dan si tengah sedang kerja di tempat yang jauh.

Pada kasus yang lain, Bapak H pernah menukar dua ekor kerbau dengan sebidang tanah milik saudara Ibu W. Tentu, karena waktu itu harga tanah di tempat itu belum seberapa, 2 ekor kerbau sangatlah lebih berharga. Kesalahannya adalah bahwa hal tersebut hanya berdasar saling percaya tanpa ada dokumen/surat-menyurat. Setelah sekian puluh tahun dan yag bersangkutan meninggal semua, terjadilah rebutan antara ahli waris. Dan mumetlah urusan ini. Pokoknya the embuh lah..

dalam keluarga seperti itulah kasus jual-beli tanah yang saya alami terjadi saat ini. hiks.😦

Salam.

  1. 26 September 2012 pukul 7:18 am

    Hehe…ya semoga urusannya bisa kelar, Pak Guru. Saya juga pernah berkasus semacam ini, cuman beda masalah.

  2. 26 September 2012 pukul 2:19 pm

    waduh njlimet…

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: