TAHU NGEPET

Begitrulah aku menamainya. Tak ada sejarah dan maksud tertentu, hanya seneng saja menyebutnya begitu. hehe.. Angkringan tahu kupat dan wedang ronde itu buka sejak sore hari dan bisa baru tutup menjelang pagi. Jika perut lapar atau sepulang badminton, aku senang menyempatkan diri mampir ke warung akngkringan itu. Karena beroperasi hanya di malam hari, aku sering menyebutnya tahu ngepet. hehe lagi yo. hehe..

Maka begitulah. Persis saat sekolah dulu, banyak informasi yang kudapatkan dari warung sejenis itu. Dialog yang dibangun beraneka warna. dari masalah politik, pendidikan, keagamaan, hingga ngrasani perilaku para janda. ha.ha.ha..

Seperti beberapa malam kemarin, ada yang “berdebat” mengenai hujan. Sore mendung tapi malam tak jadi hujan. Ada yang mengatakan bahwa mangsa (musim) sekarang ini aneh, tak bisa tertebak lagi. Lalu tentang hujan tadi. Sebenarnya apa yang diharapkan dari hujan? Seorang pewarung mengatakan, tak jadi hujan tak masalah yang penting kebutuhan air tercukupi. jadi menurutnya, bahwa hujan adalah sebatas air yang dicurahkan dari langit. Selama air masih bisa tersedia, maka hujan tak lagi diperlukan.

Benarkah bahwa hujan hanya sebatas kiriman air? Silahkan ….

Sedangkan saya, cukup tersenyum-senyum saja mendengarkan. hehe..

  1. 25 September 2012 pukul 11:24 am

    aneh2 aja namanya tahu ngepet..hehehe

    • 26 September 2012 pukul 2:08 am

      he.he.. itu istilah saya saja kok Mas, lha bukanya malam hari saja masalahnya.🙂

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: