Beranda > catatan harian, Uncategorized > Si Anak Kentong

Si Anak Kentong

Berbeda jaman dahulu, berbeda pula dengan jaman sekarang. Waktu dulu belum ada berbagai macam fasilitas elektronik yang canggih, sekarang ini berbagai alat komunikasi bertebaran bahkan ada yang memiliki secara berlebihan. HP tak cukup satu di tangan, kalau perlu tas pinggang penuhi dengan HP murahan. he.he…

Kalau sekarang untuk bisa tahu di mana posisi rekan kita cukup dengan pencet nomer yang tertera, saya dulu untuk bisa mengetahui hal itu harus bertapa dahulu, 40 hari 40 malam. ha.ha.ha…

Waktu kecil dulu, jam berapa Anda pulang ke rumah saban harinya? Tentu diantara kirta punya ketentuan yang berbeda-beda. Sebagai anak desa, sepulang sekolah saya punya kewajiban untuk bekerja. Bukan untuk mencari uang, namun mencari rumput buat makanan ternak. Kambing atau sapi, sebagai tabungan untuk bayar kuliahku nanti. Baru setelah itu, sepulang mencari rumput di sawah, saya bisa main ke mana saja yang saya suka. Namun tidak, saya tak bisa mein jauh-jauh dari rumah. Tentu saja, karena mau main ke mana? ke hutan atau ke pantai, sudah bosen rasanya jika tiap hari harus ke sana. Maka biasanya saya menghabiskan waktu bermain bola saja. Tidak di lapangan, cukup di halaman rumah tetangga. Bersama kawan-kawan, bermain sepak bola plastik. Jikalau pas tak ada bola, maka saya dan kawan-kawan akan membuat bola dari debog (pelepah pisang) untuk sekedar bersenang-senang.

saya dan kawan-kawan tak tahu siapa saja pemain sepak bola yang kondang pada saat itu. Hal ini harus dimaklumi sebab kami tak punya televisi. Jikalaupun kami nonton siara tivi, paling banter ketoprak, atau film si unyil di minggu pagi. hihihi..

lalu jadwal bermain pun diatur oleh bapak-simbokku. Jika sudah sore, maka aku harus pulang ngurusi ayam dan hewan piaraan agar masuk ke kandang. Atau jika ada tugas mendadak, aku juga harus pulang memenuhi tugas dari orang tua. lalu caranya? ya tadi, pencet nomer HP jika itu waktu sekarang ini. Namun berbeda dengan saya jaman ra enak itu, maka bapak-simbokku jika memanggilku yang sedang bermain ke tetangga akan menggunakan cara yang membikin Kawan-kawan tertawa.

Bagaimana tidak akan tertawa? Sebab untuk memanggilku pulang, simbok cukup memukul kentongan dan aku pun akan segera pulang. Thong…thong…thong…..!
maka akulah si anak kentong.🙂

Salam.

  1. 4 September 2012 pukul 7:45 am

    wakakak keren sekaligus romantis.

  2. 6 September 2012 pukul 5:04 am

    Wkxkxkxkx.., simpel sekali caranya.., saya cuma membayangkan andai semua orang tua waktu itu menggunakan cara yang sama, kira-kira gimana yah..:mrgreen:

  3. 8 September 2012 pukul 11:29 pm

    no coment….wakakakakak…se-ndeso-ndesonya saya tidak mengalami yg kayak gini.

  4. 23 Maret 2014 pukul 8:27 am

    I quite like reading an article that can make people think.
    Also, thanks for allowing me to comment!

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: