Beranda > Uncategorized > Pujian dan Ngantuk

Pujian dan Ngantuk

/1/

PUJIAN

Tak bolehkah kita memuji kehebatan seseorang? Boleh, menurut saya, tentu saja boleh. Hanya jangan berlebihan dalam memuji. Sebab berlebihan dalam memuji bisa jadi justru kita membunuh yang kita puji. Pujilah sekedarnya saja. Lalu bagaimana memuji dengan sewajarnya itu? Tak usah diulang-ulang, tak usah dilebihlebihkan.

Pernahkan Anda melihat orang tua “ngudang” anaknya? Misalnya begini, “Ealaah…nang, bocah bagus. Kok pinter men, gek anakke sopo to Nang? Nang!”

Atau malah bisa dengan kudangan lainnya, “Tang kintung kintang kintung, bocah elek nakal tenan.”

Nah, kudangan macam mana yang Anda pilih? “Mengudang” atau memuji ternyata tak berlaku hanya untuk anak-anak. Kita yang sudah “tuek keklek” pun seringkali masih butuh dikudang. Atau ada diantara Teman fb saya yang tak butuh pujian? Itu kecil kemungkinan. Dalam banyak karya/tulisan, memang ada yang seringkali menyertakan catatan untuk diberikan kritikan. Namun kritik seperti apa yang diharapkan? dalam hal ini, saya pernah membaca sebuah komentar bahwa sesungguhnya ketika seseorang membuka diri untuk dikritik tak lain hanya meminta untuk dipuji. Benarkah demikian? wallohu ‘alam…

Juga hewan peliharaan. Ayam aduan misalnya. Terus terang saya senang memelihara unggas. Jika suatu saat ada teman yang datang dan mencacat/ memberikan penilaian jelek terhadap unggas-unggas saya, tentu saya akan tidak terima. Meskipun AHH (Ayam Hutan Hijau) saya matanya hilang sebelah karena kena peluru tembak, namun dengan perawatan ekstra ternyata bulu-bulunya menjadi indah luar biasa. belum lagi kokok cekikreknya yang membahana. Mengapa tak melihat saja keindahan bulu dan suaranya, ketimbang melihat satu matanya yang buta?

Maka begitulah. Saya sudah lelah. he.he..

/2/
NGANTUK
Ngantuk itu bahasa jawa po bahasa Indonesia ya? Saat tubuh kita kelelahan, otak akan kelebihan oksigen, lalu secara entah sadar atau tidak mulut kita akan terbuka, mengeluarkan udara yang menyesaki ruang kepala. Istilahnya menguap. menguap itu kalau bahasa jawanya ya angop. Oahemmm…. maka tutuplah mulut saat menguap, karena dikhawatirkan akan ada lalat yang masuk.🙂

Terus terang saat ini juga saya sedang ngantuk. Karena aktifitas ngantuk, maka saya mengantuk. Oahemmm… menguap berkalikali. Mata terasa berat, ingin segera merem. Tapi saat PC masih nyala, kopi masih tersedia, otak ini tak juga mau diistirahatkan. Entahlah, maka mata jadi memerah. Maksudnya, warna putih di mata berubah menjadi merah. Bukan karena marah, namun ngantuk tadi yang semakin menjadi. Oahemm.. lhah. Angop lagii….

Entah sudah berapa malam mata saya tak bisa terpejam. Malam lho, saat malam. Tapi kalau siang hari, ya klipuk menidurkan diri dari pagi hingga sore hari. Tapi tidak untuk seharian tadi. Saya memaksakan diri untuk tak tidur siang tadi, agar bisa memejamkan mata malam ini. Tak begadang lagi, karena esok masih banyak agenda pekerjaan untuk segera ditangani. Pekerjaan apa? Pokoknya pekerjaan lah, banyak sekali. Panjenengan mau bantu barangkali? hihihi…

Seperti seharian tadi. Untuk menghidari rasa kantuk, maka saya menyibukkan diri. Membelah bambu, membuat kandang untuk Ayam Hutan yang baru saja kubeli kemarin pagi. Lho, ayam hutan lagi….
Lha iya, memang demikian kok. Ayam hutan jantan yang baru berumur 7 bulan, pagi hari tadi sudah mulai berbunyi. Cekikreekk.. keren, keras dan merdu sekali. Duhh.. senang sekali hati ini.

Ngantuks. Saya tambahi huruf “s” karena ngantuk saya sudah jamak, menumpuk banyak sekali. Lihat, mata saya merah dan berair, nampaknya harus tidur gasik malam ini. Tapi walah, mau men turn off PC kok susah sekali, ya jadinya tak segera tidur mata ini.

Sebentar, janjane saya ini ngemeng apa to? Ya tadi, saya hanya inigin bilang bahwa saya sudah ngantuks sekali. Tapi agak lucu rasanya jika saya hanya nulis status/kontent sependek ini, “NGANTUKS.COM.

we.he.he..
salam.

 

Kategori:Uncategorized
  1. 15 Agustus 2012 pukul 12:53 am

    wah kalo saya sian2g ngantuk bingung gak ada kerjaan. paling buka laptop. trus nonton kartun biar ketiduran.😛 semoga ayam hutan kecilnya tumbuh jadi anak yang soleh ya mas…😆

    • 15 Agustus 2012 pukul 1:08 am

      amiin… Mas Ilham punya piaraan apa saja Mas? atau malah nggak suka unggas?

      • 15 Agustus 2012 pukul 1:16 am

        di rumah ada kolam. saat ini sih piara lele mas.🙂 mau piara unggas udah gak ada tempatnya.

  2. 15 Agustus 2012 pukul 1:23 am

    Ilham :

    di rumah ada kolam. saat ini sih piara lele mas. :) mau piara unggas udah gak ada tempatnya.

    di atas kolam lele apa nggak bisa dikasih minimal satu kandang Mas? Memang sekarang sulit ya, mau miara unggas terlebih bagi yang tinggal di kota besar…

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: