LOMBOK

Sekarang ini, lombok tak banyak dibicarakan lagi. Padahal beberapa waktu yang lalu, wuih, riuh rendah dan betapa meriah orang membicarakan lombok; dari lombok ijo, lombok setan hingga lombok merah. Nah, kali ini saya akan membuat sedikit catatan tentang perlombokan untuk sekedar meriah-meriahan. Jangan dibaca dengan serius yach…

Terus terang saya kurang begitu suka makan lombok. Masalahnya pedhes sekali rasanya di bibir yang sensual ini. Selain itu, perut saya tak begitu kuat menahan pedasnya lombok. Lombok, bagi daerah tertentu bisa menjadi sebuah gengsi. Orang dianggap belum makan jika tak kepedasan. Karenanya, entah di daerah mana saya sedikit lupa, pada saat kemarin harga lombok hampir menyentuh langit ada-ada saja kelakuan masyarakat daerah itu. Jikalau ada tamu datang pada mereka sedang makan, maka mereka akan bersembunyi sebentar di kamar. mengoles mata dan bibirnya dengan lombok agar kelihatan merah, berair serta kepedasan. he.he.. apik to?

Lalu ungkapan yang sering saya dengar sedari kecil untuk menyebut Tuhan adalah “Sing Ngecet Lombok” (yang mengecat/memberi warna lombok). Ya, lombok ada bermacam warna. Hijau, kuning, putih, serta merah. Lombok yang pagi ini masih berwarna putih kekuninga, tibatiba saja esok harinya berwana merah. Siapa yang mengecat lombok itu? begitulah. Nama lombok juga bermacam-macam. Waktu SD dulu saya senang mendengarkan berita RRI yang menyiarkan harga-harga barang kebutuhan pokok di berbagai pasar. Misalnya, “Cabe merah kriting ing peken bringharjo reginipun satus seket rupiah, wondene ing pasar induk kramat jati jakarta kaleh atus seket rupiah.” Waktu itu saya bertanya-tanya, seperti apa bentuk lombok yang dimaksud sebagai cabe merah keriting. Dan sekarang saya tahu, ternyata seperti ini gambarnya.

 

cabe merah keriting (dari gogel)

 

Meskipun saya seneng menanam lombok di sawah, namun terus terang saya tak suka makan lombok. Seperti barusan sehabis tarawih tadi. Saya membeli nasi goreng dan tukang nasi hapal betul bahwa saya tak seneng pedhes. Berbeda dengan pelanggan yang lain, mereka bisa minta sambel bahkan hingga tiga sendok. Ngeri saya membayangkan. Terlebih lagi jika yang digunakan adalah lombok setan. Lombok itu meskipun kecil bentuknya, namun pedasnya luar biasa. Awalnya saya mengira itu lombok rawit, namun ternyata beda. Maka saya juga mengenalnya sebagai lombok setan saja. Cabe rawit, begitu istilah di berita RRI doeloe, bentuknya seperti ini;

cabe rawit (dari gogel)

 

Lalu beberapa tahun yang lalu baru saya tahu, ternyata lombok tak hanya dinikmati dari rasanya saja. Lombok, di manapun pasti pedas rasanya. Namun oleh para ahli masak ternyata lombok bisa dijadikan penambah selera, sebagai pewarna masakan agar tak nampak pucat. Misalnya kita masak sayur tempe; agar tak nampak hanya warna putih saja, maka dikasihlah lombok merah sebagai pelengkap warna dan pengundang selera. Juga katanya, kulit lombok merah bermanfaat untuk menghaluskan kulit. Masalah benar dan tidaknya saya kurang mengetahui. namun yang jelas, kulit saya halus tanpa mengunyah kulit lombok merah. wehe.he..

Maka begitulah. Saya seringkali makan tak dengan hanya memperhatikan warna. Bagi saya yang penting adalah rasa. Ada yang nampaknya menarik namun rasanya tengik. Ada yang tak menarik tampilannya,  namun nikmat dirasanya. Karenanya, di dalam gelap kita tak akan lagi memedulikan warna. Istilah dari Pak Wilu, “Rai setan rasa ketan.” he.he..

Lalu ini lombok apa ya. kira-kira?

 

lombok aneh (dari gogel)

 

Salam.

  1. 5 Agustus 2012 pukul 6:21 pm

    kebiasaan masyarakat yang unik…hehe. Masyarakat mana itu, Pak Guru, di Brebes ‘celem sabrang’ alias ‘jangan lombok’ menjadi hidangan wajib di pesta-pesta, misalnya, pas resepsi.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: