PENCURI

Jumlah ternak yang semakin banyak adalah salah satu hal yang membuat hatiku girang. Merpati, ayam serta burung lainnya senantiasa menyambutku setiap kali pulang. Bahkan kura-kura, andaikan bisa keluar dari kolamnya, saya yakin akan turut bersama yang lainnya menyambutku dengan gembira. Hidup penuh suka cita.๐Ÿ™‚

Kesemua hewan piaraanku tak pernah kekurangan makan. Untuk masalah pakan memang aku bahkan tak pernah itung-itungan. Bekatul super, voer istimewa, jangkrik, ulat hongkong, dan berbagai macam vitamin selalu siap sedia. Bahkan kadang istri dan anakku jadi cemburu karena perhatianku yang berlebih pada hewan-hewan piaraanku. Tapi kecemburuan itu akan terobati ketika si derkuku manggung setiap enjelang pagi, siang serta sore hari. Lalu si kantong, ayam hutan jantan yang indah buu serta suaranya itu berkokok merdu sekali. Terlebih si plentong, jagoan bangkok yang suaranya pendek dan keras membangunkan kami setiap pagi.

Di bulan puasa, suatu pagi, aku kaget dan sedih sekali. Anak-anak ayamku sejumlah 12 ekor yang menetas di sore hari hilang lenyap kesemuanya bahkan tanpa bekas sama sekali. “Siapa tega mengambil ayam-ayamku?” begitu pikirku waktu itu. Lalu seperti biasa, kepada beberapa tetangga aku bercerita. Perihal anak ayam hilang, ternyata bukan hanya milikku saja. Konon bukan diambil orang, namun digondol tikus wirog yang gedhenya sebesar kucing.

Akan aku buktikan. Maka aku buat semacam tombak bermata 5 buah paku usuk untuk berjaga malam harinya. Tak peduli, semaleman kandang ayamku akan aku tunggui. Sekali berani menampakkan diri, bakalan mampus itu para pencuri. Dan benar, bahkan belum juga masuk waktu isya’, tikus wirog berdatangan. Aku kejar, aku tombak. Luput semua. Terlalu limpat dan cepat lari mereka. Tak hilang nyali, selang beberapa menit mereka datang kembali. Aku gebuk, aku tombak, lari bersembunyi. Lalu datang lagi dan lagi. Namun aku juga, gagal lagi dan lagi. Bagaimana ini?

Akhirnya dari seorang teman aku ketahui bahwa incaran tikus itu sebenarnya hanya sisa pakan. Jika kandang bersih dari sisa makanan, niscaya ayam bebas dari ancaman. Benar, setelah bersih tikus itu tak datang lagi. Menjaga kebersihan ternyata penting sekali. bagus buat kesehatan dan aman dari pencurian.๐Ÿ™‚

***

Tepat seminggu menjelang lebaran, tersiar kabar banyak ayam yang hilang. Lalu kembali aku berjaga, jangan-jangan tikus kembali merajalela. Berbekal tombak paku usuk dan tembak panah berpentil ketapel, semalam aku tak menutup kelopak mata. Tak juga ada tanda-tanda kedatangannya.

Malam selanjutnya kembali berjaga. Kali ini agak jauh, karena mungkin tikus sudah hapal aroma keringat manusia. Benar juga, pencuri datang kembali entah dari mana. Saat mataku terkantuk-kantuk, pintu kandangku sudah terbuka. Nampak jelas oleh mataku sesosok bayangan manusia sedang berusaha menangkap ayam jagoku, lalu memasukkannya ke karung bagor yang dibawanya. Aku terkesiap, hilang mendadak kantuk di mataku. Tapi takut, nyaliku ciut. berhadapan langsung dengan maling, tentu bukan perkara sepele. Bisa-bisa leherku digoroknya dengan kelewang. Tapi tidak, aku membawa senapan dan juga tombak. Sudah cukup memadai untuk membela diri.

Aku dekati, lalu berdehem, “Ehm…!”

Mungkin karena kaget, karung yang sudah berisi ayam diletakkan lalu bersiap lari.

“Jangan lari, atau aku tombak dan tembak!” teriakku. Tak juga ada tetangga bangun, dan sengaja aku tak berteriak “Pencuriii…” sebab kasihan jika pencuri ayam harus digebugi bahkan hingga mati.

Lalu dia jongkok, menunduk tak berani lari.

Tiba-tiba istriku membuka pintu, bertanya kepadaku, “Ada apa mas?”

“Oh, tak ada apa-apa Dhek. Tolong nyalakan lampu kandang dan bikinkan kopi 2 gelas!” pintaku.

Lampu nyala, lalu kami duduk berdua di kandang ayam yang begitu rupa. Tak luas memang, namun cukup lapang dan bersih jika sekedar untuk duduk dan ngobrol berdua. Sungguh aku kaget seketika, ternyata aku kenal benar dengan pencuri itu yang tak lain adalah tetanggaku. Bukan tetangga dekat, tapi aku kenal rada dekat. Dia yang selalu berangkat kerja pagi sekali dan pulang malam hari. Beristri satu dan beranak empat. Kang Juned, ya, tak salah lagi. Kang Juned nama lelaki ini.

Lampu menyala, istriku datang membawa 2 gelas kopi lengkap dengan nyamikkannya.

“Mari kang, ngopi dulu. Ini ada Dji Sam Soe, mau?”

Lalu kami membakar ujung rokok, ngobrol menIkmati malam serta segelas kopi.

“Mengapa harus mencuri Kang? Kalau butuh kan tinggal bilang, mencuri itu dosa kang.”

Kang Juned menghisap rokok dalam-dalam, tertunduk lesu dan malu, lalu meniupkan asap panjang. Belum juga ada jawaban, dan aku menunggu hingga beberapa hisapan.

“Kopinya Kang, mumpung masih hangat,” kataku sambil menyodorkan pisang goreng yang tak lagi hangat.

“Terima kasih Mas,” hanya sependek itu kang Juned menjawab. Rokok dihisap kembali, asap dimuntahkan lagi. Huft… nikmat sekali.

“Tolong cerita kang, ada apa sebenarnya? Bukankan kang Juned malam ini jatah ronda?” tiba-tiba aku teringat jadwal ronda.

“Benar mas, tadi juga sudah keliling. Teman-teman sudah bubar, mungkin sudah tidur semua,” jawabnya.

“O, jadi Kang Juned memanfaatkan situasi ini?”

“Terpaksa mas, sungguh saya menyesal.”

“Tapi tolong cerita, ada apa sebenarnya Kang?”

“Begini Mas. Sudah hampir sebulan saya di PHK. Sedang lebaran tinggal beberapa hari lagi,” tak melanjutkan ceritanya, tibatiba kang Juned menangis sesenggukan. Sungguh saya jadi terharu sekali.

Sengaja saya diam membiarkan kang Juned menangis. Lalu saya kembali menyodorinya rokok. “Nyambung kang,” kataku.

Dia tersenyum menatapku, mengambil sebatang Dji Sam Soe dariku lalu menyulutnya dengan rokokku. Korek jressnya habis. hehe..

“Kang, lalu kenapa harus mencuri?” aku menanyainya lagi.

“Anak-anak minta baju baru Mas, buat lebaran. Lalu istriku, malu rasanya jika lebaran tak punya sangu. Mungkin juga tak membuat opor buat lebaran karena saya tak cukuppunya uang.”

“Tak punya sedikitpun tabungan kang?”

“Bagaimana mau nabung Mas, gaji saya bahkan tak cukup buat sebulan. Istri juga masih banyak tanggungan hutang. Saya juga tak sedikitpun dapat pesangon dari perusahaan. Sudah beberapa hari ini kami tak makan nasi Mas…”

Kang juned kembali menunduk, menetes lagi air matanya.

Saya sungguh tak tega dan tak berani untuk melontarkan kata sekedar mengajukan tanya. “Sebentar kang, hari sudah hampir subuh.”

Lalu aku masuk rumah, mengambil beberapa kaleng roti, sejumlah uang dan sebuah sarung yang masih terbungkus rapi. Keterlaluan sekali aku ini. Hidup sudah lumayan berkecukupan, namun dengan tetangga sedikitpun tak punya perhatian. Bisa jadi aku lebih berdosa ketimbang seorang pencuri. Kang Juned mencuri karena terpaksa. Aku yang dicurinya mungkin sangat tepat, karena jatah 9 golongan yang tak aku bagikan dengan segera.

“Ini kang, sedikit buat anak istri. Tolong tak usah mencuri lagi ya kang, jika suatu saat butuh datang saja ke sini.”

Kang Juned pergi, aku masuk rumah lalu menangis tiada henti. Dosaku tak terhitung lagi. Ampuni aku Ya…Robbi…

Gunungpati, 2012.

  1. 1 Agustus 2012 pukul 8:53 pm

    tulisan pendek yang saya anggap luar biasa dan apik. Bisa menginspirasi pembaca yang lain agar jangan terlalu kikir dan selalu Eling, sebab ada nasihat bagus dari Nabi Muhammad SAW, yang harus kita patuhi yang berbunyi sebagian hartamu adalah milik orang lain. Salam jumpa lagi dari saya oldman Bintang Rina

    • 1 Agustus 2012 pukul 9:44 pm

      Terima kasih Eyang, terus terang saya masih belajar menulis cerpen. Semoga suatu saat akan mampu menulis dengan baik. amiin..

      Salam,

  2. 14 Agustus 2012 pukul 3:15 pm

    hehehe bagus yha

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: