Beranda > catatan harian, Uncategorized > Berlibur ke Jakarta

Berlibur ke Jakarta

Adalah hal yang menyenangkan jika kita bisa menikmati kehidupan ini dengan cara yang benar. Begitulah istilah yang bisa saya gunakan. Benar entah menurut sudut pandang yang mana, terserak pembaca. Namun jika kita sudah semaksimal kemampuan kita bekerja, lalu menikmati sebagian hasilnya untuk membahagiakan keluarga, mungkin itu yang saya maksud dengan cara yang benar. Seperti liburan semester ini, setelah berlelah menggarap sawah maka saya menggunakan sebagiannya untuk bertamasya yang tak begitu mewah.

Yach, memang tak mewah. Yang utama adalah kebahagiaan dan pengalaman. Saya juga tak mengerti mengapa memilih untuk menggunakan istilah “tamasya tak mewah.” Dalam versi saya, tamasya yang menggunakan sedikit dana bisa dikategorikan tak mewah. Tamasya sederhana saja, mungkin lebih tepat jika begitu saya menyebutnya. Naik bus saat berangkat, numpang kereta api saat kembali ke rumah lagi. Melelahkan namun sangat menyenangkan. Awal mula saya berkeinginan berangkat dengan kereta api. Maka di suatu pagi, selepas shalat subuh saya berangkat ke stasiun untuk membeli tiket kereta api. Kaget sekali, sepagi itu saya datangi, ternyata sudah puluhan orang yang antri tiket kereta api. Lalu jam berapa mereka berangkat tadi? Mungkinkah jam 3 dini hari?

Belum juga jam lima pagi saya sampai ke situ, ke stasiun KA itu. Padahal loket buka lebih jam tujuh. Lelah, capek menunggu tanpa bisa duduk di kursi tunggu. Memang tak ada kursinya, jika Kawan mau tahu. Kami antri sembari terus berdiri melingkar di teras stasiun kereta api dengan sesuatu yang tak pasti. Tak pasti dapat kereta api ekonomi, karena tiket sudah diborong para calo sejak beberapa hari. Kami  para pengantri, bisa jadi tak kebagian lagi. Lima puluh lebih calon penumpang yang antri, bisa jadi tiket sudah habis terbeli meski baru separo yang dapat kartu antrian. Begitulah, ternyata ribet sekali. Antri sedari pagi, jam 7 lebih baru dapat tiket antri lagi. Pun, tiket antri belum tentu juga kebagian tiket kereta api. Maka saya memutuskan tak memakai kereta api. Anak saya nampak sedih, gagal naik kereta api yang sudah diimpikannya beberapa malam terakhir ini.

Yang saya herankan, tiket kereta selalu kehabisan namun PT KAI selalu saja mengalami keruagian. Lalu tiket yang ada di tangan calo, bagaimana jika tak laku hingga tak berlaku lagi? Mengetahui bahwa tiket KA ekonomi bisa dijual oleh calo bahkan hingga lipat harga sampai 4 kali, saya geram sekali. Permainan apa lagi yang diperankan dalam bisnis kereta api?

Saya putuskan, menuju Kota Jakarta naik bus malam. Pilihan saya jatuh ke Sumber Alam. Siang hari tiket saya pesan, malam hari bisa langsung diberangkatkan. Simpel kan, Kawan-kawan? Untuk kenyamanan, saya pilih bus AC yang dilengkapi toilet. Hal ini agar tidak kerepotan, mengingat kedua anak saya masih kecil dan agar tak ribut dalam perjalanan. Ternyata eh ternyata, pintu toilet tak bisa dibuka dan otomatis toilet tak bisa difungsikan. Kembali kecewa, betapa tak bagus pelayanan jasa di negara saya.

Sesuai perjanjian, jam 5 sore saya bersama keluarga menunggu kedatangan bus di terminal yang letaknya jauh dari rumah saya. perbekalan lengkap saya bawa, termasuh 2 bungkus nasi dan telur dadar sebagai lauknya. Anak-anak saya kembali kecewa karena bus datang begitu lama. Jam 5 menunggu, bus tak datang tepat waktu. Jam 8 lebih baru kami mendapatkan bus itu, senanglah hatiku juga anak-anakku.

Lalu yang saya khawatirkan benar terjadi. Kemacetan di banyak tempat sepanjang perjalanan benar terjadi. Bahkan sopir nampak lelah dan ngantuk sekali, hingga suatu saat ketika menunggu kemacetan karena antri, bus nyelonong menabrak sebuah truk. Untungnya pak sopir cepat bangun dan sadar kembali. Tak masalah, tak ada kerusakan yang berarti.

Tak banyak yang bisa saya ceritakan sepanjang perjalanan, biarlah semua jadi kenangan yang megasyikkan. Jam 8 pagi kami sampai di cikarang bekasi, tepat di depan BCT kami berhenti. Lalu istirahat di rumah adik, yang tinggal di bekasi. Pagi harinya, seharian kami di TMII.

Nah, Kawan, mengenai kisah kami di TMII akan saya ceritakan di lain waktu nanti. Ini foto kenangan kami.

 

  1. 25 Juli 2012 pukul 2:28 am

    wah terakhir ke TMII, tahun 1999, sekarang gimana yah disana…
    jadi pengen kesana deh …😦

  2. 25 Juli 2012 pukul 12:09 pm

    saya malah sama sekali gak pernah ke jakarta.. hiks!

  3. 25 Juli 2012 pukul 12:31 pm

    Naik kereta api,,, mbak tut,, tuut,,,,

  4. 25 Juli 2012 pukul 7:08 pm

    wah, selamat berbahagia bersama keluarga tercinta, Pak Guru🙂

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: