Beranda > catatan harian, cerpen, motivasi, Uncategorized > Mengapa Saya Libur Menulis Beberapa Hari?

Mengapa Saya Libur Menulis Beberapa Hari?

Ya, dengan terpaksa, beberapa hari yang lalu saya libur menulis. Terus terang, saya sangat sedih. Menulis seakan telah menjadi kebutuhan bagi diri saya. Tak menulis barang sebaris dua, rasanya ada yang hilang dari diri saya. Tapi mau bagaimana, keadaanlah yang memaksa saya. Kawan, jikalau beberapa hari kemarin saya libur menulis, itu bukanlah sebuah kesegajaan. Ceritanya saya baru liburan ke luar kota. Jelas PC segedhe gajah tak mungkin saya gotong nalor-ngidul naik angkutan umum. Malu ah, jaman sekarang jika harus ngalor-ngidul bawa CPU plus layar yang gedhenya sak hohah.

Ceritanya, musim sekarang ini adalah musim panen kacang tanah. Jika harus saya pekerjakan kepada orang, tentu saya hanya mendapat sedikit bagian. Karenanya biarlah saya kerjakan sendirian. Jikalau ada yang membantu tentu itu bukan tenaga upahan, namun mereka yang punya beberapa ternak dan butuh rendeng (pohon kacang) untuk pakan. Saya sangat bersyukur bahwa hasil panen kali ini cukup menggembirakan. Benih kacang yang saya tanam beberapa waktu sialam, menghasilkan butir-butir kacang yang padat bersisi dan jumlahnya banyak sekali.

Gambar 1. Melihat sawah siap panen

Menyenangkan sekali berada di tengah hamparan sawah dengan tanaman pertanian yang siapa panen. Bisa kawan lihat, di sekitar saya betapa telah menguning daun-daun tanaman kacang yang siap panen. Betapa Tuhan telah bermurah hati kepada mereka yang tak lelah untuk terus berusaha.

Gambar 2. Memulai dhedhel Kacang.

Gambar 3. Mengajarkan cara memanen kacang kepada si kecil.

Sawah di tempatku sangat subur dan hampir tak pernah kekurangan air. Bukan karena banyak curah hujan, namun karena sistem pengairan tinggalan jaman belanda yang memudahkan kami membagi air dari kali winongo kecil ke seluruh bulak yang ada di sekelilingnya. Betapa banyak pintu-pintu pembagi air tinggalan jaman penjajahan itu. Kami para petani pun memanfaatkan sebaik-baiknya fasilitas itu demi kemakmuran bersama. Jadwal pengairan telah disusun dengan baik oleh OPPA (Organisasi Petani Pemakai Air) sehingga kami para petani tak harus berebut air irigasi demi suburnya tanah di pesawahan kami.

Namun sayang sekali, di jaman sekarang ini semakin banyak pemuda yang tak lagi mau bertani. Mereka lebih memilih kerja di kota besar, entah berdagang ataupun menjadi buruh pabrik. Bagi yang beruntung, memang bisa menjadi pegawai tinggi. Kalaupun ada yang masih tinggal di kampung biasanya lebih suka lontang-lantung dan entah karena malas ataupun gengsi, ke sawah mereka sudah tak mau lagi. begitulah, begitu mereka menginjakkan kaki ke bangku sekolah semua serba berubah. Sekolah telah mengubah banyak generasiku bukan menjadi lebih maju dan bermartabat, namun justru seakan telah salah arah. Bukan, bukan sekolah atau sistem pendidikan yang salah namun lebih kepada entah. Ya, entah apa yang membuat mereka menjadi berubah.

Gambar 4. Panen Raya Meniru Pak menteri atau Pak presiden.

Begitulah. Di tipi-tipi saya sering melihat Pak Menteri atau juga bapak Presiden memamerkan hasil panen kepada masyarakat. Maka kami, meski tanpa didampingi para petinggi negeri ini, pun dengan bangga mengharuskan diri berbangga akan hasil pertanian yang telah kami dapati. Sungguh tak pernah kami berhenti mensyukuri nikmat Tuhan yang sangat melimpah yang telah dikaruniakan kepada kami.

Gambar 5. Siapa mau kacang?

Gambar 6. Pohon Camcao-Camcaonan.

Gambar 7. Tanaman Lateng

Gambar 8. Buah Ciplukan.

Gambar 9. Buah Ciplukan telah dikupas.

Gambar 10. Siap dimakan. he.he..

Gambar 11. rumput Meniran.

Gambar-gambar di atas adalah beberapa jenis gulma yang ada di pesawahan. Sebenarnya masih banyak jenis gulma yang lainnya. Misalnya rumput teki, lateng, kololiko, dan lain-lain. Namun tak bisa saya unggah semuanya. Perlu kiranya Kawan ketahui, hampir semua rumput gulma itu memiliki khasiat yang berbeda-beda. Kololiko untuk obet penutup luka, ciplukan untuk penghilang dahaga. wehehe.. yang lain, sungguh, semua ada manfaatnya.

Gambar 12. Menjemur hasil panenan.

Gambar 13. Sepanjang Jalan Menuju Dusun Kami.

Begitulah. Kami bukanlah petani yang memiliki banyak lahan untuk menjemur hasil panen. Karenanya, kami memanfaatkan bahu jalan yang ada di sebelah timur dusun kami guna menjemur hasil pertanian selama massa panen. Entah menjemur kacang, kedelai, jagung maupun gabah. Pagi sebelum matahari terbit kami telah nggelar kepang/deklit, sore hari kami mengangkutnya kembali ke rumah. Berkarung kacang, jangung, kedelai, maupun gabah melimpah ruah. Betapa negeri ini sesungguhnya kaya akan hasil yang melimpah ruah.

Gambar 13. Belum Kering.

Gambar 14. Mengikat Karung.

Menunggu untuk diangkut.

segala sesuatu jika kita kerjakan dengan senang hati, sungguh akan membuat gembira hidup ini. Tak lelah kami bekerja, bahkan semari menunggu armada masih juga sempat berpose ria. ha.ha.ha….😀

Begitulah. Dan kami siap menjual sebagian hasil panen untuk sekedar makan dan jalan-jalan. Ya, liburan tahun ini kami menyempatkan diri menghibur hati, berkunjung ke Wisata bahari Lamongan, TMII, Taman Monas, Owabong, Pantai Samas dan sekitarnya. Kami bersyukur, dan tentu, bagaimana kami berlibur ke beberapa kota akan kami ceritakan kepada kawan semua. Tunggu cerita selanjutnya ya? we.he.he…

Salam.

  1. 13 Juli 2012 pukul 7:11 am

    Ombo tenan sawae mas prof,,, sak hohah !

    • 14 Juli 2012 pukul 3:07 am

      Sawahe wong sak kampung Mas Oce, he.he..

  2. 13 Juli 2012 pukul 7:18 am

    selamat panen, Pak Guru. ceplukanipun jan menthilis

    • 14 Juli 2012 pukul 3:09 am

      Matur nuwun mas SG, sumangga menawi kangen lan kersa ceplukkan. We.he.he..🙂

  3. 13 Juli 2012 pukul 10:29 am

    senangnyaaaaaaaaa………………. 😀

    • 14 Juli 2012 pukul 3:09 am

      Ayo, mari ikut bersenang-senang Yish…

  4. 13 Juli 2012 pukul 4:29 pm

    wah seru banget kayaknya… saya baru tahu buah ciplukan.

    • 14 Juli 2012 pukul 3:10 am

      Wow, kalau kepengin, bisa saya sending Mas Ilham…… ha.ha.ha..
      dijamin ketagihan.

  5. 14 Juli 2012 pukul 5:11 am

    wah benar-benar menyenangkan.. apa yang kita tabur, akan kita tuai…
    mantap!

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: