Beranda > Uncategorized > Ndesa po Ndeso?

Ndesa po Ndeso?

nDesa, banyak yang mengidentikkan dengan ketertinggalan, kekotoran, keluguan, kebodohan, kemiskinan, ketertinggalan..dan masih banyak yang lainnya. Bisa dimaklumi, karena anggapan itu muncul kebanyakan dari orang kota. Eh, tahu nggak? padahal….orangorangan kota itu dulunya juga ndeso lho…hi.hi.hii… gak nyadar mereka kali ya??

Nah, sekarang, saya tanya. Apa kalian juga beranggapan sama seperti kebanyakan mereka? Jangan gitu dech ah. Desa harus jadi kekuaatan; Ekoonomi. He..he.. Aku juga cah ndeso kok. Lho. Kok suka ngaku wong ndeso? iya, akyu lebih suka menempatkan diri sebagai wong ndeso, cah angon, wong kampungan, kurang berpendidikan alias tak pernah skull. Alasannya? halahhh..gak usah kau sembunyikan kurakura dalam tubuhmu dach..

Kamu pasti tahu kan? dengan menempatkan diri pada strata yang (dianggap) serendahrendahnya, banyak kemungkinan aku akan terbebas dari kebersalahan. Jika akyu membuat keputusan, atau jawaban, atau sikap, atau apa aja deh…yang bdianggap salah, kurang sopan, dan lainlain, maka perisai pertama yang akan muncul adalah : “Biasa, wong ndeso yang kurang pergaulan. maklum sajalah..kalau salah..”. lho enak kan?? beda dengan orang kota, orang orang yang berpendidikan tinggi itu, sekali mereka salah, kan kudamprat mereka: “Cah kota kok guobblog ra karuan!” nah lhoh. Cilaka kan??

Juga yang lainnya, jika akyu melakukan sesuatu yang istimewa bin supercerdas, maka orang akan berkata, “Wuih, hebat bener tuh cah ndeso?!” Loh. apik to?? Lha kalau orang kota melakukan hal yang sama denganku, komentarnya pasti, “Alaaaahhhh biasa, maklum fasilitasnya majemuk, pergaulannya juga luas, dll dll…” ya to??

Dan selalu ada yang menarik dari kehidupan desa. Selain alamnya yang menawan, hamparan sawah yang menyejukkan, orangorangnya yang super ramah…ketulusannya itu lho. Misal anda, saudara, kalian, Mas dan Mbak kehilangan dompet di kota. Jangan harap bisa kembali dach..lain dengan di desa kan??

Nah, aku ada sedikit cerita nih, dari rumah. Kalian mau dengar kan??

Salah Bahasa.

Waktu itu, ada beberapa mahasiswa KKN di kampungku yang ndeso. Lha iya to, masak KKN kok di Kota?? Nah, pada suatu waktyu, Masmas dan Mbakmbak KKN itu berkumpul dan mengumpulkan warga desa di kelurahan (kamsudnya Balai Desa…). Kepada warga kampung, Mas yang KKN itu bilang, “Bapakbapak end Ibuibu..harap diperhatikan! Ini ada berita aktual…” Belum selesai bicara, ada warga yang nyelani, “Mas, aktual itu apa to?”

“Wo…dasar Wong Ndeso,” Pikir Mas KKN yang lalu ngejawab, “Aktual itu Hangaaaaaat, Pak, masih baru saja diangkat.”

“Ooooooo…,” serempak orangorangan kampung itu ndlongop.

Dan Mas KKN melanjutkan bicaranya.

“Perlu diketahui, bahwa ternyata desa kita ini telah dimarginalkan.”

Tibatiba, seorang ibuibu menyela lagi, “Mas KKN, lha marginal itu apa?”

“Margin itu artinya pinggir, Pak, Buk..kalau Marginal itu ya dipinggirkan…,” demikian mas KKN menerangkan.

Di lain kesempatan, Mas dan Mbak KKN itu diundang syukuran di rumah salah seorang penduduk. Setelah hidangan selesai dihidangkan, yang punya rumah mempersilahkan kepada para KKNwan dan KKNwati:

“Mangga Mas, Mbak, kita segera makan. Mari silahkan pilih, nasi liwet atawa nasi jagung. Boleh juga ketela rebusnya dulu, semua masih aktual kok..baru saja diangkat dari dandang..”

KKN: ?????

Selesai makan, KKNwan/wati itu berpamitan. Tak lupa yang empunya rumah berpesan dengan penuh keramahan,” Mas, Mbak, terima kasih kedatangannya. Hati hati ya, kalau jalan lewat Margin saja, dan kalau ada duri di jalan mohon dimarginalkan biar tak terinjak kakikaki kaum Marginal..”

oalaaaaahhhh…..ndesoooo..ndeso!

Burung Pak Lurah Hilang.

Lain lagi dengan Pak lurah (Pak kades kamsude…). Ini kisah dari temankyu. Suatu hari beliau mengumpulkan warganya, karena malam itu burung perkutut kesayangannya hilang. Setelah warga semua berkumpul, Pak Kades mulai membuka pidatonya.

“Assalaamu’alaiku we er we be…” (memang dalam teks tulisannya selalu Assalaamu’alaiku wr.wb.) bener juga tu kades.

“Bapak dua Ibu dua” (Biasanya juga ditulis Bapak2 Ibu2…) nah bener lagi kan Kadesnya??

“Malam tadi, saya baru saja kehilangan burung kesayangankyu..”

(Haaaa???? semua warga melongo, lalu mentutup pulutnya dengan empat ujung jari. Yang beberapa ibu, lalu setelah itu, menggigit ujung jari telunjuknya)

“Apakah diantara kalian yang hadir hari ini ada yang punya burung?”

(Dan demi mendengar pertanyaan itu, Semua laki-laki yang hadir berdiri)

Merasa salah dalam menyusun kalimat, Pak lurah mengulang pertanyaannya.

“Maksudku, apakah ada yang pernah melihat burung?”

(Semua wanita yang hadirpun berdiri. Doh ‘Pak lurah tepok jidadnya’).

“Gawat nih,”pikir pak lurah yang segera mengoreksinya lagi.

“Gini maksudnya. Apakah diantara kalian ada yang pernah melihat burung selain miliknya sendiri?”

(Separoh wanita yang hadir berdiri).

“E…e…kalian ini gimana toh? gini Bapak dua dan Ibu dua…..Siapa diantara kalian yang pernah lihat burungku????”

(Lima wanita tercantik berdiri)

“Duuuuhhhh…Ggrrrgggghhhhh…..”

Pak Kades lari, bu Kades mengejarnya dengan membawa pentungan. He..he..

“Hayo…jujur! siapa diantara pembaca yang pernah liat burung bukan miliknya??”

Punjungan.

Kisah lainnya, munjung. Munjung, dalam bahasa kampungku adalah weweh. Mungkin dari kata paweh, jadi pawehan, terus weweh. Artinya memberi, pemberian, saling memberi. Jika aku punya sedikit masakan yang tetanggaku tidak memilikinya, maka aku akan munjung ke rumahnya demi rasa berbagi dan kebersamaan. Tujuannya jelas, mempererat persaudaraan. Atau juga jika sedang ada yang punya hajad, maka seluruh warga kampung akan dapat punjungan. Dan ada saja komentar mengenai masakan yang dipunjungkan ini.

Diantara banyak komentator, ada yang hanya selalu berkomentar , “Wah, enak.” Tipe seperti ini, mungkin lidahnya sudah mati rasa. semua masakan, entah rasanya seperti apapun, selalu dikatakan enak, sedep, mantep, dan lainlain. Tak ada kata lain. Tapi akyu selalu positip tingking. Bisa saja orang intu hanya ingin menyenangkan hati si pemberi, agar tak sakit hati kepadanya. Bondan Winarno tuh, yang selalu merasakan makanan enak…makanya kalau sedang makan, aku selalu sambil nonton kulinernya bondan, biar jadinya enak…he..he..

Ada juga yang suka berkomentar, “Wah, sebenarnya ide masakannya bagus, cuma bumbunya kurang sedikit garem, pala, atau kayu manis.” Nah loh, masukan bagus kan??

Dan yang sering menjengkelkan, sudah susahsusah dipunjungi, malah mencela makanan, “Makanan seperti ini kok dikasihkan akyu. Gak level, gak doyan akyuuu…dst,dst.” Jika mendengan komentar seperti ini, biasanya si pemberi hanya akan berkata, “Maaf Pak, lha wong akyu ini masih baru belajar masak kok…mohon piwulangnya ya Pak..” (ih, kasihaaaannnn….)

Dan hanya karena masakan, pernah juga–untuk tidak mengatakan sering– terjadi sedikit keributan. Pada suatu waktu, ada seorang yang mengumpulkan warga. Karena kapasitas ruang pendapanya cuma muat 30 orang, maka diapun hanya mengundang 30 orang. Dan biasanya akyu jarang diundang lho…..he..he..

Dalam acara yang terdiri dari 30 orang tamu undangan itu, terjadi sedikit perselisihan tentang rasa masakan yang disuguhkan.

“Masakan macam apa ini?” kata seorang kakek-kakek (mungkin kurang asin. Biasa…orang tua beda selera dengan anak muda siech..)

MbahMbah yang lain ngejawab demi menyangkal ulasan ityu.

“Hai. Jangan asal ngucap Kek. Jadi orang tua mbok ya yang sedikit bijak. Ini masih permulaan, sabar dikit kenapa toh? Ucapanmu menyakitkan, tahu? Wong masakan enak gini kok dibilang gak enak???”

Keributan itu ternyata membuat gundah hati si pengundang. “Santai saja lah Mbak…!” kataku menyabarkannya.

Dan, walah. Sodara, kuberi tahu ya (masalahnya aku hanya punya tahu, gak ada yang lain..), aku ini bukan tukang masak yang baik, juga bukan tipe manusia ndeso yang suka masak. Cuma kadang sih, bisa sedikit masak (itupun sepertinya dipaksakan), dan selalu aku bagikan tak lebih dari 5 orang. Eeeee…..aku kok malah lupa tak pernah mbagi pada saudara atawa tetangga baruku itu. Marah dia..tak pernah lagi mau munjung masakan enaknya kepadaku. Kuapppooookkkkk dahhhhh…. besok tak masak lagi lah, akan kupunjungkan kepadamu…

 

Salam ndeso.

Kategori:Uncategorized
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: