Hantu

Aku hantu. He..he..

Bukan dhing, Aku manusia.

Kalian tahu hantu kan? Sudah pernah lihat? Kalau belum, berarti sama dengan aku. Atau mau lihat sekarang? Tuh di belakangmu, duduk di kursi, melipat kaki. Hiiii….takyuuuuuttttt.

Hantu, seringkali menjadi bahan pembicaraan yang mengasyikkan bagi sebagian orang. Saking asyiknya, kita seringkali bercerita dengan penuh kebohongan mengenai hantu itu. Seringkali cerita dibuat seseram mungkin, hingga membuat si pendengar ketakutan. atau, ada juga cerita hantu yang lucu menggelikan sehingga jika kita mendengarnya akan tertawa terpingkalpingkal hingga otot perut menjadi kejang. Dan aku, tentu tak suka mendengar cerita tentang hantu. Baik itu hantu yang menakutkan, maupun yang menggelikan. Hantu, bagiku, tetap hantu. Makhluk itu punya dunia yang berbeda dengan duniaku, dan selalu saja berhasil menyedot habis nyaliku. aku seorang penakut, tak mau cerita hantu. Kecuali satu hantu, yaitu burung hantu. Jiahh..

Kalian bisa saja beda. Besar kemungkinan kalian tak takut hantu. Tapi, ada juga banyak teman yang tadinya tak takut hantu, tapi setelah membaca atau mendengar cerita hantu akhirnya jadi penakut. Oleh karenanya, sekiranya kalian tak berani mendengar atau membaca cerita hantu, mending jangan dilanjut baca certa ini. Tak baik buat kesehatan masalahnya…

Baik, begini cerita itu. //Bukan dari aku lho…dari temenku.

Aku adalah seorang penjudi. Harihari dalam hidupku, kuhabiskan di tempat perjudian. Bisa di tempat orang kesripahan, orang lahiran, lapangan sepak bola, di pinggir jalan, pangkalan angkot, atau juga yang paling kusenangi, di tempat sabung ayam. Dulu, di tempat sabung ini aku tak pernah kalah. Jago wido yang kumiliki selalu jadi jagoan. Selalu memenangkan pertarungan. Ayam kesayanganku itu selalu kuberi jamu. Kalau tidak cemendil (anak tikus yang masih merah) ya percil (anak katak sawah).

Dan begitulah. Rupanya nasib kurang baik menimpa kegemaranku. Beberapa waktu yang lalu Jago Widoku hilang, lenyap entah ke mana. Mungkin dicuri orang. Tapi mungkin itu juga salahku. Beberapa waktu sebelum hilang, jagoku itu ditawar seseorang seharga Rp. 5.000.000,- (Lima juta rupiah). Aku tak boleh. Jago kesayanganku tak akan kujual. Tak pernah terbersit sedikit pun aku untuk bermaksud menjualnya. Dan kata beberapa rekan, jika barang yang kita miliki pernah ditawar dan tak jadi dijual, maka akibatnya akan hilang atau mati. Dan benar, hal itu terjadi pada ayam sabunganku. Gile beneerrr…

Aku berusaha melupakan kejadian itu. Untuk sementara, aku menghibur diriku. Kulupakan kegemaran judiku, dan aku menggantinya dengan mancing. Banyak sungai besar di daerahku, dan banyak pula ikan besarnya. Dari sidat yang besarnya seukuran paha orang dewasa, ikan gurami yang besarnya segedhe bantal, atau lele dumbo yang mulus sebesar betis wanita dewasa. Dari sebangun tidur di pagi hari, aku mancing di sungai hingga menjelang pagi lagi. Anehnya, aku hanya selalu mendapat ikan kecilkecil. Kalau gak wader, badher abang, urang petung, ya pasti genjilan.Ternyata tak mudah juga memancing ikan.

Dasar nasib baik, ada berita yang bagiku sangat menggembirakan. “Jika ingin dapat ikan besar, maka ijin dulu sama Mbah Ponco, juru kunci kuburan, lalu mancinglah di bawah pring ori samping kuburan…!”

Demikian saran seorang teman sesama pemancing. “Siap Ndan. Laksanakan!” aku bergegas menemui Mbah Ponco sore itu. Ternyata ada tambahan syarat. Setelah dapat satu ikan raksasa,  Bulus seukuran caping gunung misalnya, harus segera pulang. tak boleh lagi melanjutkan. SIIP. Batinku.

Aku melaju. Kususuri bantaran sungai, menuju bawah ori samping pohon randu di kuburan itu. Hari hampir magrib. Kupasang umpan, seekor cacing tanah berukuran lumayan. Setelah terpasang umpan, kujopajapu, lalu kuludahi. cuiih! lalu kubaca mantra; “Pancing sering gogok caplok. Pancing sering gogok caplok. Pancing sering….,” dan pluung, kail pun masuk sungai. Blup! ndull..ndull..ndul…, syuuuuuuuttt.. tak lama kemudian umpan termakan ikan. Srreeeeeeettt. Pancing kutarik. Dapat. Seekor yuyu kepi (kepiting hitam tipis) sebesar piring makan. Ealaaahh…

Sedang asyik mancing, kudengar suara kokok jago widoku. Jelas, itu jago aduanku, aku hapal betul suaranya.

Kuhentikan mancingku. Kucari sumber suara itu, dan ketemu. Jago wido methangkring di bawah pohon randu alas. Pohon Randu yang berumur ratusan tahun itu besarnya minta umpyun. Lingkar badannya hampir menyamai keliling lingkaran bedug purworejo. Akarnya yang pipih menyembul ke tanah, biasa untuk bermain musik alami oleh anakanak. Batangnya berlubang besar. ya, pohon itu ada lubang di salah satu bagian tubuhnya, bisa untuk bersembunyi 2 orang maling kiranya. Dan kini, jago widoku berada di sana. Bagaimana bisa??

Menurut kabar, pohon itu ada penjaganya. Hantu raksasa. Sudah hantu, masih raksasa pula. Hari persis menjelang magrib. Takut akan gelap malam, aku segera mendekati jago widoku. “Thong….kanthong….,kruk..krukk,” kupanggil jago itu, sambil kupetheti. Kanthong adalah sebutan yang kuberikan padanya, sebab seringkali ia menambah isi kanthongku.

Ketakutan. Bukannya mendekat, kanthong malah takut kepadaku. Semakin kudekati, semakin takut. “Thong…kur.kur…,” aku menawarkan kebaikan, dengan menunjukkan cacing umpan mancing. Kanthong, jago widoku itu, bukannya mendekat kepadaku. Dia malah semakin ketakutan, dan berembunyi masuk ke lubang pohon. Blaik. padahal hari sudah magrib. Doh(tepuk jidat sambil merem).

Aku sedikit bergidik. Tapi demi jago kesayanganku, kutumbuhkan nyaliku. Aku masuk ke lubang besar itu. Gelap. gelap sekali. Hiiii….. merinding, tengkukku seakan ada yang meniup pelan. Berdiri semua rambut di kepalaku, bukan hanya bulu tengkukku. Tak ada. Kanthong tibatiba hilang. lenyap dimakah pohon randu alas raksasa . Atau malah dimakan sang penunggunya ya? pikirku. Dan semakin takut, semakin dingin, semakin berkeringat.

“Kokkk.kokkk.kokk…” Kudengar lagi suaranya, tapi dari luar sana. Kucari asal suara itu. “Thooong…Kanthooongg..,” kupanggil lagi. “Koookkk…kok.kok….,” dari dalam kuburan. Gila. Ayam aduanku itu sudah berpindah tempat, bertengger di atas tembok kuburan. Semakin gelap. Tapi, aku tak mau kehilangan kesempatan. Aku kejar ayamku, dan lari masuk kuburan. Blaik. Sepi. tak ada satu manusia pun, kecuali aku. Tak peduli rasa takut, aku masuk kuburan. Ayam jagoku sudah ada di sana, di dekat cungkup Mbah Jombrang. Tinggi, besar, gelap. Ringkas cerita, ayamku tertangkap. Segera kubawa pulang.

Kasihan ayamku. Temboloknya kempes, mungkin kurang makan. Segera kukasih makanan kesukaannya, kumasukkan ke dalam kurungannya. Tetap diam, belum mau makan. Aku merasa kasihan. Maka, demi rasa cintaku padanya, malam itu aku rela tidur dekat dapur menunggui Jago Wido kesayanganku. Lupa mandi, lupa pula aku pada makanan. Lelah, hampir aku tertidur.

“Blugh, blugh..,” kaget aku. Terdengar suara, seperti kelapa jatuh. Tepat didekatku, di belakangku. “Kembalikan ayamku…!” sebuah suara tanpa rupa. Keringat dingin semakin mengucur. Dahi dan wajahku seperti diguyur peluh dingin. Tapi ada sisi sedikit nyali. “Siapa kau?. Tunjukkan wujudmu!” perintahku pada suara itu.

“Blugh. Kembali suara itu datang, dan tepat di depanku berdiri sesosok makhluk sebesar raksasa hulk. Kotor, jelek, bacin. Ramput Panjang, Jari keriting, matanya berlubang satu. Serba menakutkan.

“Mau apa kau kemari?!” tanyaku padanya.

“Aku mau ambil ayamku,” jawabnya sambil menyeringai, menunjukkan giginya yang panjang dan kotor.

“Tidak bisa. Itu jago widoku. Namanya Kanthong,” aku mencegahnya.

“Siapa bilaaang..Ha..ha..ha..jagoku itu namanya bedor,” tertawa menakutkan.

“Pokoknya gak boleh! Buat apa kau ambil jagoku? ” aku bertanya dan tetap mempertahankan.

“Di alamku, jago itu kuadu. Kubuat botohan sama temantemanku,” Jawab hantu raksasa itu.

“Aneh,” pikirku. “Hantu kok botohan.”

“Sudah. Pokoknya gak boleh kau ambil jago ini. Enyah kau dari rumahku. Pulang sana ke alammu!” perintahku. Semakin malam, semakin dingin, semakin takyut. Tapi demi kanthong, kususun ulang pazel keberanian yang berserakan dalam jiwaku. Dapat separo. Lumayan, masih ada sedikit keberanian.

“Berani kau melawanku? Baik. Kubuat bergedel, sekalian kau akan kumakan.” berkata demikian, raksasa jelek mengangkat tangannya yang tinggal tulang iyu tinggitinggi, siap menerkamku.

“Sebentar!” sergahku. “Di alammu kau adalah botoh. Aku juga botoh di duniaku. Bagaimana jika kita botohan saja?” tawarku.

“Maksudmu?” dhedhemit itu tertarik dengan tawaranku rupanya.

“Begini, kita panggil jago itu dengan nama pemberian kita. Kemana dia menuju, dia yang berhak memilikinya,” aku menjelaskan sistem perbotohannya. Dan hantu itu menyetujui.

“Baik, aku beli jualanmu.”  Gaul juga rupanya hantu itu. “Siapa panggil duluan?” tanyanya kepadaku.

“Kita undi saja,” jawabku. “Kita undi pakai koin, moh aku kalau harus pingsut,” kataku.

Makhluk bacin itu menyetujui, dan menang. Dia yang dapat jatah manggil duluan. Jago dikeluarkan dari kurungan, dan parbotohan mulai dilaksanakan.

“Bedoooooor…..kluik.kluik…bedoooorrr….,” dia panggil berulangulang. Yang dipanggil hanya diam, tak merespon panggilan.

“Ha…ha…,” aku tertawa.

“Diam!” hantu itu membentakku, kembali memanggil, kembali pula gagal. Setengah putus asa, dia menyerngai dan berkata, “Sekarang giliranmu.”

“Kanthong….kanthong… kurkur…kurkur..,” panggilku. Ayam itu njenggelek, berdiri, lalu berjalan mendekat kepadaku. Aku pemenangnya.

I’m a winner! Sorry, you’re lost!” teriakku.

Dan, “Blup.” Tibatiba hantu itu hilang, berpindah tempat. Dasar dhemit botoh tak bermutu. Manusia kok dilawan. Hiii….aku segera memegangi ayamku, kubawa masuk rumahku.

Suuuusssttttt..angin berhembus pelan, muncul suara lirih berbisik;

“Hantu itu, berpindah di belakang kursimu. Ikut baca cerita hantu, ” hiiii….takyut….

Salam, Hantuuuuuuu…..kabuuurr….

  1. 25 Juni 2012 pukul 8:06 pm

    selamat jalan buat mas hantu yang kalah taruhan. Sesampainya di rumah jangan lupa kirim surat. (hehehehehe…tukang posnya tanggung jawab gurusatap9)
    salam dari oldman Bintang Rina

    • 25 Juni 2012 pukul 8:38 pm

      we.he.he….
      Selamat malam, Eyang Hemingway…

  2. 26 Juni 2012 pukul 9:18 am

    ada yang baca cerita ini pagi hari rupanya; nggak asyik ah. wehehe…😛

    • 26 Juni 2012 pukul 9:51 am

      siapa bilang gak asyik. soalnya membacanya didalam sarung yang tebal , dan di dalam kamar tertutup lagi. Di tambah bawa senter. Lagi asyik-asyiknya membaca, tiba-tiba cucu masuk. kamar .Sarung dibuka, trus berteriak sambil lari keluar………..ada hantu bawa senterrrrr!!!!!!!!. Aneh melihat sarung bergerak-gerak tidak takut, setelah sarung dibuka tiba-tiba berteriak ada hantu bawa senter Hantunya yang mana yaaaaa?.

  3. 27 Juni 2012 pukul 6:58 pm

    huwaaa…..hantu koncone suko ndableg tenan…😆

    • 27 Juni 2012 pukul 7:10 pm

      We.he.he..
      Selamat malem, Mbak Yu Hesti…tuh, di belakang kursi apaan ya? xixixi…..

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: