Beranda > cerpen, guru, Uncategorized > Tanggung Jawab

Tanggung Jawab

Realitas, kenyataan hidup, ternyata tak selalu harus berbanding lurus dengan apa yang kita rencanakan. Pun demikian yang terjadi pada kehidupanku. Sebagai anak dari keluarga terdidik, aku terbiasa membaca buku. Berpuluh buku sudah aku lalap habis semenjak masih duduk di bangku sekolah dasar hingga selesai perguruan tinggi. Bahkan selulus kuliah, aku semakin gila dengan kegemaranku. Membaca buku dan menulis. Ya, sejak kecil aku suka sekali membaca. Orang Tuaku serta kakak-kakakku selalu saja memberikan hadiah buku kepadaku, terutama saat hari perayaan kelahiranku. Juga menulis. aku suka sekali menulis semenjak masih di bangku sekolah, meski hanya sebatas dipajang di majalah dinding milik kelasku. Kegemaranku ini, membaca dan menulis, semakin menggila setelah aku masuk perguruan tinggi. Uang saku pemberian orang tua lebih banyak aku belikan buku ketimbang untuk kesenangan yang lain. Setiap ada kabar terbit novel atau antologi puisi terbaru, aku langsung mengejarnya di toko buku. Pernah terjadi, uang saku kiriman orang tua yang seharusnya cukup untuk satu bulan habis aku gunakan untuk membeli 3 set tetralogi. Terang saja Ibuku marah besar. 

 

“Terserah. Kau mau dapat uang dari mana, Ibu tak bisa lagi mengirim uang untukmu!” Ibu menolak menransfer lagi sejumlah uang yang aku minta. Terpaksa aku bongkar pula rekening khusus yang kumiliki, karena aku malu jika harus pinjam teman. Ibuku sebenarnya tak pernah melarangku membeli buku. Tapi menhabiskan uang saku jatah satu bulan hanya untuk membeli sejumlah novel, sepertinya kurang bisa Beliau terima. Akan lain halnya, mungkin, jika uang itu aku gunakan untuk membeli bukubuku kuliah.

 

Hinga lulus kuliah, kegemaranku terhadap buku ternyata tak ada matinya. Terlebih lagi setelah aku mampu cari uang sendiri. Honor yang aku terima tiap awal bulan, sebagian besar aku belikan buku. Obsesi terbesarku, menerbitkan buku karyaku. Kalau tidak kumpulan cerpen, ya sebuah novel. Betapa bangganya aku jika bisa menghadirkan banyak rekanku di sebuah gedung, demi meramaikan peluncuran novel perdanaku. Aku membayangkan, karyaku nanti akan menjadi best seller.

 

***

Di umurku yang ke-25, aku memutuskan untuk menikah. Artinya, citacita untuk menerbitkan buku sebelum berkeluarga tak terlaksana. Aku berharap, setelah menikah nanti, suamiku akan banyak memberi motivasi dan membantuku dalam mencapai citacitaku. Aku membayangkan, suamiku tercinta akan setia menemaniku dikala aku harus lembur nulis sampai malam, membantu ngetik dan ngedit naskahku, menyeduhkan kopi saat aku mulai mengantuk, dan lainlain.

 

Tapi kenyataan, realitas hidup, tak selalu harus sejalan dengan rencana manusia. Suamiku ternyata bukan orang yang suka nulis. Tak suka baca novel, kumpulan cerpen, terlebih lagi puisi. Saat pacaran, dia memang suka nemani aku ketika mencari bukubuku yang kubutuhkan. Bahkan sering juga mengapresiasi puisi, cerpen, ataupun essai yang bahkan aku seringkali tak sampai kesana. Semua itu, yag dulu kusuka darinya, hilang, lenyap seketika setelah kami meikah. Suamiku sibuk dengan pekerjaan, sibuk mencari uang. Dan aku, sebagai istrinya, bahkan harus terbawa dalam kesibukannya. Obsesiku terlantar untuk sementara.

“Yang sabar ya Say…suatu saat, pasti terlaksana opsesimu itu..,” begitu temanteman sesama guru selalu saja menghibur dan membesarkan hatiku. Dan aku terpaksa sabar. Keyakinanku, novel perdanaku akan bisa aku luncurkan. Harus.

 

Setahun setelah pernikahanku, novel garapanku belum juga kelar. bahkan sejak beberapa bulan yang lalu, aku tak sempat lagi meluangkan waktu untuk sekedar membaca buku. Perhatianku tersedot habis untuk tugasku sebagai guru, juga untuk meladeni suamiku. Pikiranku tak fokus lagi pada novel dan cerpencerpenku. Terlebih setelah anak pertamaku lahir. semua jadi kacau. Waktuku habis untuk sekolah dan keluarga. Bahkan diriku sendiri, seringkali terlupakan. Penampilanku, kecantikan wajahku, perawatan tubuhku, aku seringkali alpa.

“Sabar ya Say, nanti, setelah anakmu besar pasti akan lebih banyak waktu..,” begitu selalu temanteman sesama guru menasehatiku.

 

***

Kini, 5 tahun sudah usia perniikahanku. Harapanku seakan pupus. Aku sering uringuringan. Bagaimana tidak? suamiku yang “penakut”, selalu saja berangkat kerja selepas subuh dan pulang ketika anak-ank sudah tidur. Ya, kini anakku bahkan sudah dua. dan novelku sudah entah, aku sendiri lupa.

Apa harus begini kehidupan orang kota? Berangkat pagi sebelum anak-anaknya bangun, dan pulang ketika anak sudah tertidur? Aku ingin berontak. Kapan aku dan anak-anakku mendapat perhatian suami dan ayahnya??

 

Suamiku yang bekerja pada sektor swasta, dituntut pimpinan perusahaannya masuk jam enam pagi. Kemampuan kerja manusia yang idealnya hanya 8 jam perhari, sepertinya tak berlaku bagi suamiku. Sepulang kerja, dia tak langsung pulang. Masih mencari kerja di tempat lain, guna memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Pun sudah demikian, masih saja kurang bisa memenuhi kebutuhan kami.

 

Tentu, aku yang kelabakan. Pontangpanting melaksanakan tugas. Tugas sebagai seorang istri untuk suamiku, sebagai ibu bagi anak-anakku, juga guru bagi muridmuridku. Oh, ada lagi. Tugas sebagai anak buah. Ya, aku adalah seorang guru, mengajar di sekolah swasta. Karena di lembaga pendidikan “luar negeri”, maka aku diperlakukan sebagai anak buah oleh kepala sekolah, juga pimpinan yayasan. Bukan rekan kerja. Aku bisa maklumi hal itu, karena persaingan lembaga pendidikan di kota memang luar biasa keras. Banyak sekolah bonafid baru bermunculan dan langsung menyedot perhatian. Sebagai anak buah, aku dituntut tertib. Harus berangkat sebelum siswa berdatangan, dan pulang setelah tak ada lagi pelajaran.

 

Capek, kesal, tak bolehkah aku rasakan? Sedang suami seakan tak mau tahu dengan diriku, dengan segenap pekerjaanku. Ketika aku mengeluh selalu terlambat datang ke sekolah, suamiku hanya marah.

“Sudah. Keluar saja dari kerja. Biar aku yang cari duit. Pekerjaan istri itu ya ngurus rumah, suami, juga anak-anak,” selalu itu yang jadi senjatanya. Akupun kalah.

Kepala sekolah yang sadis, kaku, tak mau tahu. Pimpinan yayasan yang hanya tahu keuntungan bisnis lembaga pendidikannya dan tak mau tahu kondisi anak buahnya, hal yang sudah biasa aku hadapi seharihari. Dan karena kesibukanku menyediakan sarapan pagi untuk suami dan anak-anak, juga mengurus kebutuhan anak dari memandikan, menyuapi, hingga mengantar ke sekolah, membuatku sering terlambat sampai sekolah. Dimarahi kepala sekolah, adalah hal yang biasa terjadi pada diriku.

 

“Bu ijah. Sebenarnya Ibu masih niat mengajar di sekolah ini apa tidak?” Kepala sekolah membentakku pagi itu.

“Kok Bapak bisa tanya begitu?” aku jawab saja pertanyaan itu, dengan petanyaan pula.

“Lho. Ibu sadar nggak sih? Ini jam berapa?” masih dalam nada tinggi.

“Pak. Maaf, saya gak ada jam pertama,” aku membela diri. Memang sengaja, aku meminta kepada bagian kurikulum agar tidak diberi jam ngajar pada jam pertama.

“Perlu Ibu Ijah ketahui ya. tanggung jawab sebagai guru itu tidak hanya mengajar pada saat jam pelajaran. Menyambut kedatangan murid adalah juga sebagian dari pendidikan. dan itu bagian dari kewajiban seorang guru!” Tak mau kalah.

“Tapi saya juga punya tanggung jawab keluarga Pak, Anak-anak saya adalah juga tanggung jawab saya..” aku masih membela diri.

“Saya juga punya anak, punya keluarga. Istri saya juga kerja Bu.. Perlu Bu Ijah ketahui, saya dan istri saya bahkan tak pernah terlambat masuk kantor. Bahkan sering, sebelum sekolah selesai dibersihkan, saya sudah sampai kantor Bu. itu hanya alasan. Dan Yayasan, juga sekolah, tak mau tahu dengan berbagai macam alasan. Jika merasa tak sanggup lagi bekerja di sini, maka saya persilahkan Ibu untuk segera mengundurkan diri. Dan Kami, tentu akan bersenang hati untuk memberikan dana pesangon sesuai masa kerja Ibu Ijah.” kepala sekolahku mengancam.

 

Saat itu aku kemudian hanya diam. Aku pikir, tak ada gunanya aku mendebatnya lagi. Percuma. Kepala sekolahku adalah juga hanya anak buah, yang harus melaksanakan tugas dari yayasan. Ketakutannya akan kehilangan jabatan, membuat Beliau jadi bersikap kasar dan keras terhadap guru. Dan sepenuhnya akupun sadar, memang yang beliau sampaikan itu adalah bagian dari tanggung jawabku sebagai guru. Jika saja bukan karena tanggung jawab keilmuan yang aku miliki, maka sebenarnya aku lebih memilih keluar dari sekolah itu. Memang sulit. Aku punya tanggung jawab keilmuan, juga punya tanggung jawab keluarga.

Maka aku memilih mematuhi sementara. Pagi selanjutnya, aku minta suamiku berangkat sedikit siang guna meringankan tugas rumahku  agar aku tak terlambat sampai sekolah.

 

“Tidak bisa. Hari ini ada tugas penting yang haruis aku selesaikan,” ternyata suamiku sama saja dengan kepala sekolahku.

 

“Ya Allah…beri hamba petunjukMu ya Robb,” aku hanya berdoa. Dan kembali aku melaksanakan tugasku dengan baik, memasak, menyiapkan sarapan pagi, mengurus kebutuhan anak, juga mengantar mereka ke sekolah. Aku tak mau menelantarkan anak-anakku hanya demi mengejar perhitungan waktu. Ya, aku pikir, aku bekerja dan di bayar berdasar waktu, bukan prestasi kerja. Banyak sekali temanteman guru yang datang pagi, menyambut kedatangan para siswa di gerbang sekolah, dan setelah itu entah kemana. Seringkali mereka kosongkan jam pelajaran dengan berbagai alasan. Intinya, Ada yang lebih aneh. Karena rumahnya dekat sekolah, seorang guru datang pagi sekali, absen sidik jari, lalu pulang lagi dan kembali ke sekolah saat pelajaran jam terakhir. Modelmodel semacam ini, kepala sekolah dan yayasan tak pernah mau peduli.

 

Akupun siap jika harus kembali dimarahi. Telat  datang ke sekolah karena menyelesaiakan bagian tugas yang lain yang tak kalah penting. Ngeri sekali aku jika mendengar cerita, betapa banyak anak yang salah jalan hanya karena kurang perhatian. Orang tuanya terlalu sibuk mencari uang. Jam setengah delapan pagi, aku sampai di sekolah. Begitu seperti hari lainnya. Kepala sekolahku, mungkin jam enam pagi sudah nongkrong di kursi kebesarannya.

 

Aneh. aku tak mendapati kepala sekolah di pintu kantor menghadang kedatanganku.

“Pagi Bu Ijah, hari ini sekolah kita pulangkan lebih pagi,” begitu kabar dari seorang rekan sesama guru.

“lho. Emang mau ada acara apa Bu?” tanyaku.

“Putra Bapak Kepala sekolah, dirawat dirumah sakit. Over dosis, kebanyakan obat tidur katanya.”

“Ooooo…begitu?”

 

  1. 30 April 2013 pukul 1:00 pm

    Having read this I believed it was rather informative.
    I appreciate you finding the time and effort to put this
    content together. I once again find myself spending
    a significant amount of time both reading and leaving comments.
    But so what, it was still worthwhile!

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: