Beranda > Uncategorized > Mimpi Jadi Pengusaha (2)

Mimpi Jadi Pengusaha (2)

Aku, GURU. (Weeee…Guru lagi to??).

Lha mau nyebut gimana lagi? Lha wong memang guru kok. Tapi Guru yang pengusaha lho?? ! he..he..

 

Ehm.

Aku Guru, istriku juga guru. Guru yang sebenarbenarnya guru. (Lho, kok sama seperti kemarin lagi??)

Baik, begini ceritanya Kawan. Aku ini Guru, artinya aku juga sarjana. Sarjana S1 Lho…Sarjana penuh. Doktorandus. Hebat kan aku? he..he.. Karena Sarjana, maka kalian pasti ngerti, aku pernah kuliiiii..ah. Ya, aku pernah jadi mahasiswa Kawan… Dan bagiku, masa kuliah adalah masa paling menyenangkan, paling membahagiakan selama menempuh pendidikan. Alasannya? itu yang mau kalian tanyakan to, Kawan??

Baik, aku jelaskan Kawan. Begini ceritanya;

 

Ada yang menggolongkan Mahasiswa itu menjadi tiga kelompok: Pertama, Mahasiswa Cerdas. Mahasiswa yang beginian biasanya rajin baca buku, utak-utik soal sewaktuwaktu. Nilainya selalu kumlod, lulus cepat. setelah lulus, maka akan jadi dosen, ataupun ilmuwan yang pandai berteori. Kedua, Mahasiswa Organisatoris. Mahasiswa kelompok ini sukanya berdiskusi, berdebat, berorganisasi. Bahkan terkadang, demi demonstrasi kuliah rela ditinggalkan. Kelompok ini, setelah lulus, akan jadi birokrat, bisa juga politisi. Ketiga, Mahasiswa calon pengusaha. Mahasiswa kelompok ini nilainya pas-pasan, banyak teman, suka bergaul. Entah, aku masuk kelompok yang mana. Yang jelas, tak akan masuk kelompok pertama. He..he..

 

Beberapa jenis usaha pernah aku lakoni ketika mahasiswa. Dari agen majalah, jualan makanan kecil, jualn gula jawa, jualan pakaian, dan lainlain. Terakhir usahaku ketika mahasiswa adalah Foto Copy. Awal mulanya aku hanya membantu teman mengopersikan. Jadi anak buah teman nih.. Nah, setelah temanku lulus kuliah (aku belakangan lulusnya kawan..), dia pulang kampung. Karena punya sedikit tabungan, maka aku operasikan mesin foto copy itu dan aku yang bayar kontrak tempat. Hasilnya dibagi 50-50. Cukup lama aku geluti usaha ini, bahkan hingga aku lulus kuliah. Nah. Ada keanehan di sini. Saat aku melayani pesanan, ada mahasiswa yang tanya, “Mas. Dengerdenger, Mas ini Sarjana ya Mas?”

 

“Begitulah kirakira Mbak, mang kenapa Mbak?” balik aku bertanya pada mahasiswa itu.

“Kok nggak cari kerja Mas?” pertanyaan yang aneh. Ya, jelas aku lagi kerja, kok ditanya kenapa gak cari kerja. biuhh..

“Hmm..,” aku hanya menjawab dengan senyum.

 

Dua tahun lebih berjalan, aku mulai berhitung. “Jika begini terus, aku yang kuwalahan,” pikirku. Bagaimana tidak? Jika dihitung modal, samasama keluar modal. Temanku modal mesin, aku modal tempat, kertas, dll plus mengoperasikan. Pun masih nggaji seorang karyawan. Masih memenejemeni sendiri. Masih bayar listrik, dll. Jika hasilnya sedikit, temanku seakan gak percaya. Repot kan? Nah, berawal dari situ, aku mencoba buka usaha yang lain, rental komputer. Juga join sama seorang teman. Gagal. Ternyata semua usahaku gagal (dalam hitunganku lhooo…).

 

Ternyata sulit juga membangun usaha bersama. Terdapat beberapa kendala(kalau butuh kendalanya apa, inbox aku ya? he..he..). Karenanya, aku harus buka usaha sendiri. Tapi modal dari mana?? Duuuhhh…Bingung akyu! Tapi, aku kan masih punya Orang Tua? Ya, akhirnya aku sampaikan juga niatku pada Bapak simbokku. Alhamdulillah proposalku diterima. Bapak berkenan membantuku mencarikan pinjaman modal kepada temannya yang seorang dokter. Rp 12.000.000, – (Dua belas juta rupiah). Gila. Kini malah ganti aku yang kebingungan. Uang segede itu mau tak gunakan untuk usaha apa? Nekat. Akupun nekat, uang itu kugunakan untuk ngonterak sebuah ruko ukuran (3×4) m yang berada di pinggir jalan utama. Aku mulai usaha baru, toko ATK (Alat Tulis Kantor). Sebulan, dua bulan, tiga bulan….dan waktu terus berlalu. Toko ATK ku sepi pembeli. Bingung. Usahaku bangkrut, padahal modal pinjaman. Kuputuskan untuk gulung tikar. semua aset aku jual, entah kemana saja. Toko tempat belanjaku dulu, ternyata tak mau membeli kembali barang daganganku meski hanya setengah harga. Gila! Aku “dibohongi” ternyata.

 

Bangkrut dalam usaha, maka aku putuskan untuk segera menikah. Istriku Guru. Maka, sebagai Sarjana Pendidikan, akupun memutuskan diri untuk mengajar, mengabdikan diri pada sebuah Yayasan Pendidikan. Lama aku tertatihtatih membangun ekonomi keluarga yang kuat. Kalian tahu kan, bagaimana gaji guru swasta? Itu lho,yang kemarin diceritakan sama isteriku…

Dan sebagai Guru, sebagaimana kata isteriku kemarin, aku tak pernah mengeluhkan tentang keuangan yang terbatas di hadapan teman-teman. Malyu ah. he..he..

 

***

Kini sudah berbeda. Istriku sudah mampu buka Usaha, malah sudah punya cabang(out let) sejumlah tiga. Aku? sama sekali belum punya usaha. Karenanya, setiap pagi aku membaca berita. Berita tentang peluang usaha, di iklan kecik (Iklan baris) biasanya banyak tersedia. Internet juga selalu aku buka, mencari cerita tentang motivasi sukses wira usaha. Temanteman bahkan sampai bosan setiap hari aku tanya.

 

“Gimana Pak/ Bu, ada ide bisnis yang cemerlang hari ini untuk saya?” begitu hampir setiap hari aku bertanya. Kepada siapa saja, tak peduli dia miskin atau kaya, pengangguran atau pekerja, pegawai negri ataupun pengusaha. Semua pokoknya aku tanya. Stress, atau bahkan ada yang mengatakan aku sudah gila. Tak mengapa. Memang begitu jalan yang aku dapatkan dari buku “Instan milioner” (Cara cepat jadi jutawan) karya entah siapa, aku sendiri sudah lupa.

 

Naaaahhh…akhirnya dapat juga. sebuah iklan tentang peluang usaha. “PELUANG USAHA BAGI HASIL, TANPA MODAL” Begitu kirakira bunyi iklan itu. Langsung aku hubungi alamat itu. walah. ternyata tidak jauh dari rumahku. Pengusaha itu begitu ramah, pandai bercerita, lihai memotivasi. Sales. Doh (tepok jidad). Ternyata aku harus jadi sales kawannnn…

OK. Tak mengapa. Jadi sales onderdil kendaraan & mobil. Lalu modal? Tak ada. Pinjam istri, ah sungkan sekali rasanya. Maka aku putuskan, memberikan ijazah sarjana sebagai jaminan. Diterima ternyata. Alhamdulillah. Maka mulailah aku bekerja. Jadwal ngajar aku minta diatur sedemikian rupa, sehingga tersisa hari untuk berusaha keliling kota menjual spare part sepeda motor.

 

3 hari dalam seminggu, aku berkeliling dari kota ke kota lain. Kota A hari senin, Kota B hari Rabu, Kota C hari Sabtu. Hari lainnya untuk ngajar dan istirahat. Ternyata tak gampang membangun usaha. Banyak rintangan dalam segala suasana. Capek luar biasa ketika sore telah tiba. Tapi harus kuat. Pekerja yang pulang sore hari dengan rasa lelah sekali, lebih disukai nabi.

Bayangkan. Berangkat jam delapan pagi, sebelumnya prepare dengan mengepak barangbarang dagangan, naik sepeda motor beratus kilo dalam sehari, membawa barang dagangan berat sekali. Pulang sore hari, ketika sudah tak tampak lgi wajah matahari. Langsung mandi dan gosok gigi. weee..

 

Motor kesayanganku kurombak sedemikian hingga bisa memuat barang bawaan dibelakangnya. Kupasang Box samping kanan dan kiri, satu lagi di atas. Menawarkan barang dagangan ke toko ataupun bengkel, ternyata tak selalu mulus. Ada saja alasan mereka untuk menolak daganganku. Heran juga aku, ketika aku datang, si pelayan tak berkenan dengan alasan juragan tak ada di rumah. namun ketika sales lain datang mereka berani order barang. Aku lalu belajar dari situ. Ternyata berdagang banyak ilmunya. Kucari bukubuku tentang triktrik sukses penjualan. Lambat namun pasti, usahaku berkembang juga. Banyak toko yang order barang dariku.

 

Kata temanku, jangan sakit hati jika tawaran kita ditolak. Tetap kasih senyum, dan berikan janji bahwa kapankapan kita akan datang lagi dengan segudang informasi. Jika saat ini mereka belum butuh, mungkin saja lain kali. Pedagang harus optimis. Dan benar, dari banyak toko dan bengkel yang dulu menolak tawaranku, lama kelamaan mengorder barang dariku. Tidak tanggungtanggung ketika trust itu telah terbangun. Sekali belanja bisa jutaan rupiahnya.

 

Akhirnya aku yang kuwalahan. Banyak pesanan, sedang kapasitas box sepedaku sangat terbatas. Maka aku memberanikan diri mengredit modal dari sekolah. Kubelikan mobil bekas lagi murah. dan ternyata, penampilan dibutuhkan juga dalam perdagangan. Orang akan lebih percaya pada mobil ketimbang motor, meski haga mobil itu di bawah harga motor. beberapa bulan berjalan, hutangku pada juraganku lunas terbayar. ijazahku telah kembali. Akupun mulai cari barang sendiri, selain dari juraganku tadi. Cari yang lebih murah. Tapi aku tetap jaga pertemanan. Tak boleh berebut kawasan, juga barang dagangan. beberapa aitem aku tetap ambil dari Juragan, dan aitem yang lain aku ambil dari supaliyer. Modal besar, untung besar. Memang benar. semakin banyak belanja, semakin besar bonusya. Maka tak heran, jika ada pedagang besar berani jual barang di bawah harga pasaran yang seharusnya. Dengan bonus itu mereka menutupnya.

 

***

Kini pelangganku semakin banyak jumlahnya. Keteteran aku melayaninya, akupun buka peluang kerja. Beberapa sales aku rekrut untuk melayani pesanan serta memperluas daerah kekuasaan. Aku buka rahasiaku kawan, tentang barang daganganku. Aku beli mur sekerup seharga Rp 100,- aku jual Rp 300,- hingga Rp 400,- . Keuntungan yang kudapat 200%-300%. Menarik bukan? Barang yang lain? wah, kawan, engakau ini maunya geratisan saja kok. Coba sendiri saja ya?

Aku khawatir, jika aku buka semuanya justeru engkau tak tertarik untuk mencobanya. Mari berdagang kawan, awalnya susah memang. Tapi jika sukses, tak ada yang mampu membendung rizki kita, kecuzli si Pemberi rizki itu sendiri.

 

Masih kurang?

baik, aku siapkan seri ketiganya besok. Tunggu ya??

Lihat juga Mimpi Jadi Pengusaha (1)

Kategori:Uncategorized
  1. 17 Juni 2012 pukul 9:20 am

    met menjemput mimpi? 🙂

  2. aryanto
    10 Oktober 2014 pukul 10:40 am

    salut mas sama usaha nya

    saya juga mau mulai usaha jadi sales keliling mas
    minta resep ampuh nya dong??

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: