Beranda > Uncategorized > Anjing, Kucing dan Tikus

Anjing, Kucing dan Tikus

Kucing

    Kucingku telu
    Kabeh lemu-lemu
    Sing siji abang
    lan sing loro klawu
    tak pakani lontong
    kabeh meang-meong
    Aku seneng ndeleng
    nganti ndomblong.

Lagu itu diajarkan oleh guruku saat aku masih di kelas TK bertahun-tahun yang telah lalu. Hingga kini bahkan aku belum tahu apa judul lagu itu. Namun jelas bahwa lagu itu membincang masalah kucing yang jumlahnya 3 ekor, gemuk-gemuk, ada dua warna, suka makan lontong. Indah sekali lagu itu kan, Kawan?! sayangnya sejak kecil aku tak pernah memelihara kucing barang seekor saja. Tak tahu apa alasannya, kedua orang tuaku seakan tak mengijinkan aku untuk memeliharanya.

Berbeda dengan kakek dan nenekku. Kakek memelihara kucing hingga entah jumlahnya berapa. saban hari nenek menggoreng ikan asin, makanan kesukaan kucing piaraan. Kucing-kucing kakekku lucu-lucu. Mareka tak mencuri nasi, bahkan ikan asin itu tak kan dimakan jika belum dikasihkan. Tapi memang, nenekku tak pernah membiarkan kucing-kucingnya kelaparan. Terhadap semua hewan peliharaan, nenek sangatlah rajin memberi makan. Kucing-kucing itu misalnya, akan selalu diberinya nasi dan ikan asin pada setiap pagi, siang dan petang.

begitulah memang. Konon kucing adalah cermin. Jika majikan kasar dan tak sering memberi makan, maka kucing akan suka kucing-kucingan. Lulut dan manut saat ada majikan, lalu hajar semua simpanan jika majikan tak sedang memperhatikan. Jika majikan tak menyimpan makanan, ayam tetangga jadi sasaran. Sungguh kelewatan.

Tapi kucing juga maladi.Maladi itu membawa sial. Jika suatu saat Anda menabrak kucing hingga tewas lalu tak merawatnya dengan benar, maka kesialan akan segera datang. Mungkin ini hanya sebuah kepercayaan, sebagaimana sapi di pulau bali. Namun begitulah. Suatu saat paman saya menembak seekor kucing liar yang suka mencuri anak ayam. Mestinya kucing memburu tikus kan, bukan mencuri ayam. “Dorr…” kucing tercengkang, namun per (pegas) senapan langsung bubar, hancur berantakan. Padahal masih baru, diganti beberapa hari yang lalu. Perilaku kucing, memang begitu.

Ada lagi cerita lucu. Ini juga tentang tetanggaku. Saat melintas di jalan depan rumahku, tetanggaku itu menabrak kucing hingga mati. Mungkin karena terburu-buru, mengendara motor kurang hati-hati. Lalu dirawatlah bangkai kucing itu selayaknya merawat jenazah manusia. Dibungkus pakai daun pisang yang masih muda, lalu dibungkus lagi dengan kain kafan secukupnya. Dikuburkan, menghadap utara pula. Ah, ada-ada saja ya?

Tapi itu dulu, kejadian di desa bertahun-tahun yang lalu. Saat ini kucing sudah berubah pikiran. Semakin Pintar, bahkan mampu dengan cerdik menipu majikan. Dengan para tikus si kucing mampu membuat kesepakatan. Tentang makanan, ah, gampang! Asal tidak rebutan, semua pasti kebagian. Bahkan seringkali kucing dan tikus sengaja mencari perhatian. Di depan majikan mereka berkejar-kejaran, cakar-cakaran, saling hujat, hingga majikan pun tertawa cekikikan.

Kucing-kucing yang kerjanya molor
Tak ingat tikus kantor datang menteror
cerdik licik si tikus bertingkah tengik
garagara si kucing purapura mendelik.

Meooonngg….

Bersambung lagi ya, kukira, kawan. tentang Anjing, Kucing dan Tikus, besok kapankapan. he.he..
Tulisan sebelumnya;
Anjing, Kucing dan Tikus (1)
Anjing, Kucing dan Tikus (2)

Salam.

Kategori:Uncategorized
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: