Beranda > cerpen, guru, motivasi, Uncategorized > Mimpi Jadi Pengusaha (1)

Mimpi Jadi Pengusaha (1)

Aku Guru. Sebenarbenarnya guru. Bapakku seorang guru, Ibuku juga guru. Kakakku guru, adikku juga guru. Ya, aku lahir, besar, hidup dalam keluarga guru. Penampilanku adalah selayaknya guru; wajahku wajah guru, jiwaku jiwa guru. Pun demikian, hidupku; HIDUP GURU.

Aku guru. Sungguhsungguh guru, yang patut digugu dan ditiru. Setidaknya bagi anak dan muridmuridku. Sekuat mungkin, dengan ketulusan hati serta kesungguhan jiwa, aku berusaha untuk tidak berkelakuan yang wagu tur saru. Meski sebagai guru swasta dengan honor yang tidak seberapa, aku tetap berusaha untuk tetap hidup bersahaja. Mengerahkan segala daya dan upaya, untuk tidak senantiasa mengeluh dan menyalahkan nasib. Menjadi guru adalah sebuah pilihan. Beruntung, suamiku juga mengerti akan hal itu. Dia paham akan tugastugasku sebagai guru. Tentu, karena suamiku juga seorang guru seperti diriku. Guru swasta.

“Kita harus Dhek. Kuat hati, kuat jiwa, kuat pikiran. Jangan karena ulah kita, nama besar Guru jadi bahan tertawaan. Jangan Dhek, sekalikali jangan!” Begitu yang selalu suamiku pesankan.

Akupun patuh pada petuah suamiku tercinta. Sekuat tenaga aku kuatkan hati, aku besarkan jiwa. Pikiran selalu aku olah, agar juga menjadi kuat. Hanya satu yang belum tercapai, membangun Ekonomi rumah tangga yang kuat. Baiklah, sekedar berbagi, aku sampaikan sistem penghonoran yang berlaku di sekolah sekarang ini. Aku mengajar 40 jam pelajaran dalam seminggu. Artinya, dalam sehari ratarata mengajar 7 jam pelajaran. On jam 7 pagi, baru selesai setelah jam 1 siang. Hebat kan? Jika tersisa waktu, maka aku gunakan untuk mengoreksi tugas para siswa, menganalisis materi pelajaran, ataupun mempersiapkan RPP untuk pertemuan kedepan. Nah, karena sekolahku tergolong besar, honor yang diberikan juga lumayan. Rp. 15.000,-/jam. Karena mengajar 40 Jam, maka aku dapatkan honor sebesar Rp 15.000,- X 40 = Rp 600.000,-/ bulan. Memang aneh sistem penghonoran seperti ini. Aku sendiri kurang tahu, sejak kapan rumusan ini berlaku. Mengajar dalam sebulan, yang dihitung cuma seminggu. He..he.. apik to??

Seringkali temanteman sesama guru mengeluhkan akan hal itu. Gaji yang sedikit, tak seimbang dengan tenaga dan pikiran yang dikeluarkan. Tapi, tentu mereka hanya nggerundel di belakang. Di hadapan Kepala Sekolah dan Pimpinan Yayasan, tak satupun ada yang berani buka suara. Heran, padahal mereka semua adalah sarjana. Sedang pimpinan yayasan, SMA pun terpaksa diluluskan karena terlalu lama sekolah. Uang kegiatan yang tidak seberapa, seringkali menjadi pemicu munculnya masalah antar sesama.

Dan aku, selalu berusaha menghindar dari masalah yang seperti itu. Kerdillah aku, jika hanya demi rupiah yang tak lebih dari seratus ribu, dengan teman harus berseteru. Lain halnya, mungkin, jika nominalnya sampai milyaran.

“Hidup harus bersahaja.” Doktrin itu rupanya telah tertanam kuat dalam jiwa. Prinsipku, tak masalah jadi guru non PNS, tapi penghasilanku harus jauh di atas Guru PNS. Dan aku pun berhak punya mimpi. Guru yang bersahaja, berhak mimpi jadi pengusaha. Ha..ha..ha…

Tapi modal dari mana?? Nah, sebagaimana banyak orang yang lainnya, aku pun bingung akan membangun usaha apa, dimana, modal berapa dan dari mana. Karenanya, setiap pagi aku sempatkan diri mencari peluang usaha di media massa yang tersedia di perpustakaan sekolah. Berhasil? ternyata tak semudam membalik telapak tangan. Sulit juga aku menemukan peluang usaha yang cocok untuk diriku yang seorang guru. Usaha butuh keseriusan, sedang waktuku banyak tertumpah di sekolah.

Nah. Ini dia! Eureka. Aku menemukannya. Ada lowongan bagi yang berprofesi guru, sebagai tentor di lembaga bimbingan di kotaku. Aku segera mendaftarkan diri, sebisa mungkin berpenampilan cantik dan rapi. Menurut informasi, lembaga bimbingan itu akan menyeleksi pelamar melalui penampilan dan kecantikan, baru kemampuan. Akupun bisa menerimanya. Kebanyakan murid, tidak lakilaki tidak pemempuan, memang akan lebih ngeh jika diajar guru yang cantik. Dan kali ini, gagal. Aku tak lolos dalam seleksi tertulis. Harus kuterima, karena memang kemampuanku dalam ilmu fisika SMA belum seberapa.

Di hari selanjutnya, ternyata tak seperti yang kukira. Lembaga yang semula tak menerimaku itu, tibatiba menghubungiku untuk membantu mengajar les privat. Langsung saja aku sanggupi tawaran itu, meski aku belum berpengalaman. Gila, sungguh gila. Sore itu aku datang, saat itu pula aku ditantang ngajar. Karena tak bisa naik motor, aku diantar sama penjaga kantor. wheladalah. Ueddian. Rumah murid yang akan aku kasih les privat itu buesarnya minta ampyuuuun. Ternyata ia anak seorang pengusaha. Gemetar aku jadinya. Masuk rumah mewah. Gagal. Aku merasa gagal menyampaikan materi pelajaran. Dan benar, minggu berikutnya aku kembali dihubungi lembaga, mengabarkan bahwa hari itu jadwal privat libur. Siswanya lagi keluar kota sama ortunya. “Bohong,” pikirku.

Sejak kejadian itu, aku kembali rajin belajar. Bertanya pada beberapa teman, tentang bagaimana sistem dan metode pengajaran les privat yang benar. Aku belajar untuk menjadi profesional. Ya, kata kuncinya; PROFESIONAL. Pernah suatu saat aku main ke gedung PWM (Pimpinan Wilayah Muhammadiyyah), dan melihat berkarungkarung pakaian disana. Kuselidiki, ternyata baju kotor yang siap dicucikan. Luar biasa. Hasil yang sudah dicuci, ternyata rapi, wangi, terbungkus rapi, dilengkapi bandrol dan hanger, pokoknya profesional sekali. Ternyata, segala usaha apapun, bahkan yang dipandang remeh oleh jamak orang, bisa menjadi luar biasa ketika ditangani secara profesional.

Kembali aku mencari peluang menjadi tentor. Kali ini aku mendaftar di Lembaga Bimbingan Terbesar di Indonesia. Diterima. Ruang kelas yang ber-AC, kursi kuliah, kelas kecil, dan lain-lain adalah suasana yang baru. Ternyata begini lembaga bimbingan itu. Selama 3 kali aku harus melihat cara mengajar tentor yang berbeda di kelas yang juga berbeda, sebelum akhirnya aku diperbolehkan mengajar sendiri. Ternyata aku bisa. Jika sebelumnya banyak tentor yang ditolak siswa, aku bahkan sangat disukai siswa. Mungkin, selain cara mengajarku yangsudah sedikit menarik, wajah cantikku juga menjadi daya tarik. Ehm.

***
Dua tahun sudah aku di Lembaga itu, dan rasa bosan mulai menggangguku. Bagaimana tidak? Biaya bimbingan yang yang harus ditanggung siswa begitu tinggi, sedang tentor dibayar begitu rendah. Kuputuskan, keluar dari Lembaga Bimbingan itu. Lumayan, dari tempat aku sudah banyak mendapat ilmu. Kembali aku mendaftar ke lembaga bimbingan privat. Sama saja, aku hanya membantu orang kaya menjadi semakin kaya. “Aku harus mandiri,” selalu itu yang ada di pikiranku.

Benar ternyata. Nasib baik selalu berpihak pada orangorang yang siap. suatu hari ada 2 orang tetangga yang datang ke rumahku, menyerahkan anak-anaknya untuk belajar padaku. Aku terima dengan senang hati. Tak aku pikirkan berapa mereka mau kasih bayaran. Yang penting aku bisa turut belajar. Belajar memahami materi, belajar menghadapi anak di rumah(kontrakan) sendiri. he..he..

Hasilnya? Anakanak bimbinganku lulus dengan gemilang. Dan di waktuwaktu berikutnya, semakin banyak yang datang ke rumahku.

Modal uang Rp. 200.000,-.
Beranikah Anda buka usaha dengan uang segede itu? Ya, karena sudah ada beberapa murid, maka aku gunakan uang yang kumiliki itu untuk memesan sebuah MMT (spanduk plastik itu lho…) plus 1000 lembar brosur Bimbingan belajar. Kuberi nama lembagaku “SUKSES College

Ternyata, sesuai nama yang aku berikan, lembaga bimbinganku berkembang pesat. Semester pertama aku tangani sendiri sejumlah 8 siswa, dan semester berikutnya menjadi 20 siswa. Akupun mulai merekrut tentor guna membantuku. Uang hasil pendaftaran dan biaya bimbingan pada semester pertama aku belikan meja kecil (semacam meja TPA itu lhooo…) sejumlah tujuh buah. Semester berikutnya, aku berhasil membeli kursi kuliah “Chittos” sejumlah 3 biji. Tahun kedua, aku sudah bisa melengkapi ruangruang belajar dirumahku dengan kursi kuliah sejumlah yang dibutyuhkan.

Aku sudah merdeka, jalan terang sudah di depan mata.

Kini sudah memasuki tahun yang ketiga. Siswa di “SUKSES College” sudah lebih dari 80 anak.
Silahkan hitung! Ratarata, tiap siswa menanggung biaya bimbingan Rp 450.000,- per semester, plus biaya pendaftaran Rp 50.000,- (Lima puluh ribu rupiah). Kotor pendapatan yang aku terima selama satu semester adalah Rp 40.000.000,- yang jika dibagi selama enam bulan, maka income perbulan yang aku dapatkan sebesar Enam Juta rupiah, bahkan lebih. Belum lagi pemasukan dari siswa privat yang ditangani entah berapa puluh tentor.

Puas? Belum. Yang ada hanyalah senantiasa bersyukur, dan usaha mengembangkan sayap adalah kewajiban. Entah dalam sektor yang sama, ataupun bidang usaha yang lainnya.

Maka tunggu selanjutnya, Mimpi Jadi Pengusaha (2)

  1. 21 Agustus 2012 pukul 11:29 am

    SALAM KENAL, WAH KO SM NASIBNYA

  1. 16 Juni 2012 pukul 11:57 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: