Beranda > Uncategorized > Pilih Nganggur atau Kerja?

Pilih Nganggur atau Kerja?

Menurut Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi, hingga Januari 2012 jumlah pengangguran di Indonesia mencapai 7,5 juta orang. Konon, dari jumlah tersebut ditargetkan akan turun hingga 5 juta orang di tahun 2014. Semoga berhasil, syukur jika bisa turun lebih dari yang ditargetkan.

Pertanyaan saya, apakah sebegitu mudahnya menekan angka pengangguran di Indonesia? terus terang saya agak ragu. Alasannya, yang menjadi target bukanlah benda mati namun makhuk hidup bernama manusia. Mereka para manusia, punya nafsu dan mampu berpikir. Dua hal itulah yang seringkali menjadi penghambat kemajuan selain memang juga bisa mendorong kemajuan. Maksud saya, karena nafsu dan pikiran itulah banyak orang yang lebih suka menganggur ketimbang bekerja. Tak percaya? Terserah, karena jawaban anda pun tak akan mampu mengubah yang miskin tiba-tiba menjadi kaya, atau yang menganggur tiba-tiba jadi bekerja. he.he..

Baik, perkenankan saya bertanya pada Anda; “Pilih menganggur atau bekerja?”

Kalau saya, pilih menganggur tetapi digaji dan tetap kaya.πŸ˜› Anda?
Baiklah, jawaban saya itu guyonan belaka. Rasanya tetep tak enak jika menganggur kok digaji. Istilahnya akan menerima gaji buta. Entah buta ijo, entah buta terong, entah pula buta kolo kathung. Selain itu, siapa pula yang mau menggaji para penganggur? Hanya orang botol yang akan melakukan hal itu. Dan di sinilah masalahnya dan yang sering dipermasalahkan. Gaji, standar gaji, sistem penggajian. Entah gaji potong, gaji belah, atau malah gaji mesin. he.he..

Seringkali saya berpikir, mengapa ada banyak orang yang lebih memilih menganggur ketimbang bekerja. Contohnya teman saya. Dia yang sedang tak punya pekerjaan dan memiliki ketrampilan ditawari kerja di sebuah bengkel milik teman saya juga, namun yang lainnya. Gaji yang ditawarkan untuk bulan pertama adalah Rp. 300.000,- Teman saya tak mau, dan pilih menganggur ketimbang kerja dengan gaji segitu. Menurut saya pilihan yang semacam itu salah besar. Terkecuali, dia mendapat tawaran di tempat lain yang menjanjikan gaji lebih besar. Saya sungguh tak paham dengan pemikiran yang semacam itu; lebih memilih jadi pengangguran.

Terus terang saya tak paham dan tak sepakat. Sekali lagi, saya hanya tak paham dan tak sepakat. Bukan menyalahkan. Pilihan hidup ada pada diri kita masing-masing dan kita tak berhak saling menyalahkan. Lalu apakah semua benar dan tak ada yang salah? Saya tak akan menjawab pertanyaan semacam itu. Ada baiknya jika kita berkarya saja. Berbuat yang terbaik buat negeri tercinta, Indonesia Raya.

Lalu apakah semua orang sedih jika mendengar angka pengangguran yang begitu tinggi? Oh, saya kira tidak. Sebab pengangguran dan kemiskinan bisa dieksplotasi, bisa dijadikan komoditi. Terutama oleh para politisi. Di sinilah akar masalahnya menurut saya. Sistem dan perilaku politik yang tak lagi sehat, tak lagi mendidik. Politik yang culas, penuh kebohongan dan kepentingan entah pribadi ataupun golongan. Saat belum berkuasa, banyak pihak yang seakan membela dan memperjuangkan para penganggur dan kaum miskin. Namun begitu jadi pemimpin, sama saja dan tak ada bedanya. Menindas rakyat semaunya. ear-benar gila.

Rakyat yang menganggur dijadikan alat untuk meraih kekuasaan. Banyak yang menuntut pemerintah menyediakan lapangan kerja, sementara tak diimbangi dengan memberikan pendidikan yang setara. Mental kita telah dibangun menjadi sedemikian jeleknya. Para penganggur bukannya diajari bagaimana mencipta lapangan kerja, namun diajak menuntut pemerintah agar memberikan kesejahteraan kepadanya. Jadilah kita penganggur berpolitik ria.

Kembali kepada para penganggur. Tak di desa maupun di kota, jika bekerja dengan gaji “rendah” mereka memilih tak punya kerja. Pengangguran tadi istilahnya. Saya tak sepakat, sungguh tak sepakat dengan pendapat ini. Belum profesional sudah menuntut. Ada lagi pada efent lomba misalnya. Belum juga mendaftar jadi peserta tiba-tiba menanyakan berapa hadiahnya.

Ah, entahlah. Saya tak lagi sanggup melanjutkannya.

Salam.

Kategori:Uncategorized
  1. 6 Juni 2012 pukul 9:27 am

    ngga mau, aku ngga mau kerjaaaaaaaaaaaaaa……………hiks! πŸ˜›

  2. 6 Juni 2012 pukul 9:40 am

    pengangguran hingga saat ini tergolong masalah yang cukup pelik dan rumit penanganannya. pemerintah pun masih sebatas beretorika utk mengatasinya.

    • 10 Juni 2012 pukul 7:34 am

      Begitulah Pak Tuhu..
      Jika sesuatu sudah dikaikan dengan politik di negara kita, akan selalu semrawut nampaknya. Peran pendidikan mestinya yang bisa kita harapkan, namun itu pun butuh perjuangan. apalagi dunia pendidikan juga sudah dirusak iklim politik. menyedihkan sekali kita ini.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: